You are here

Keberanian Kepemimpinan Negarawan

Indonesian

Hendra Darmawan*)

*) Dosen PBI FKIP UAD, Wakil Ketua MPK PWM DIY

Dalam buku Riwayat-riwayat Keberanian oleh Allan Nevins, John F kennedy mengatakan “Sebagaimana pernah dikatakan oleh John Bright, orang tidak menjadi negarawan yang besar, hanya karena kebetulan memegang jabatan besar. Mereka harus menunjukkan bukti-bukti lain tentang kebesaran mereka, dan diantara bukti-bukti yang diperlukan ini, keberanian adalah salah satunya’. Via Anhar Gonggong: 1985: 103).

Keberanian. Mungkin hal tersebut yang perlu dibuktikan oleh para pemimpin kita. Ada banyak pemimpin di negeri ini dengan tingkatan strukturnya bahkan jumlah pemimpin kultural jumlahnya juga makin tidak terbatas. Efektifitas kepemimpinan struktural terus dipertanyakan rakyat saat permasalahan publik tak kunjung Selesai, rasa aman yang terancam, jaminan hari tua, dan jaminan kesehatan yang simpang siur. Dalam keadaan seperti ini hanyalah pemimpin yang sudah selesai dengan dirinyalah yang mampu menyelesaikan masalah. Bukan mereka yang masih tersandera dengan kepentingan golongan apalagi pribadi. Sebab itu, bayak terjadi fonomena-fenomena yang terjadi di Negara kita.

Fenomena aksi masa, kekerasan yang dilakukan oleh massa terhadap aparat, kapolsek, konflik antar angkatan di Palembang dan lain-lain, mungkin akan disusul oleh aksi-aksi kekerasan massa yang lain. Modusnya karena ketidakadilan, arogansi kekuasaaan, bisnis militer dll. Semua itu hanya ada satu kata yakni ketegasan, keberanian menegakkan kebenaran. Siapa yang siap tegas, siap pula menanggung resiko dibenci, dicemooh, ada pihak yang terganggu.

Ada seorang jenderal petinggi partai di republik ini menegaskan, terkait pembunuhan di LP cebongan, bukan masalah bias atau tidak diungkap segera, tetapi ada kemauan atau tidak (political will). Sampai-sampai dia berujar: andai kasus itu diserahkan padaku ujarnya cukup satu hari akan terungkap.

Republik ini telah banyak memiliki contoh hebat, far excellence atas kepemimpinan negarawan dengan keberanian, bangsawan pikir, tidak hanya bangsawan usul (oesoel), seperti istilah Abdul Rifai, Tan Malaka, Sjahrir, Syafrudin Prawira Negara, Hatta, dan Kasman Singodimejo.

Apakah politisi hari ini yang masih daun muda, muda-muda tapi tidak terdengar kiprahnya, termasuk tidak ada keberanian untuk bersuara. Fungsi parlemen tidak lagi sebagai aspirator, karena memang mereka diam. Soekarno mengatakan orang mati bukan hanya mereka yang ada dalam kubur, tetapi mereka yang berjalan dimuka bumi dengan semangat terkubur.

Adakah hari ini politisi dengan visi negarawan.? Mereka yang memperjuangkan tidak hanya kepentingan pribadi dan golongan tetapi memiliki agenda penyelamatan bangsa, dengan mengedepankan kedaulatan bangsa, berani melawan State Hijacked Corruption/ korupsi bermodus legislasi untuk menyandera kedaulatan bangsa.