proses_pemisahan_nyamuk_betina_dengan_aspirator_1.jpg

Ekosiculin Candle: Beralih ke Insektisida Botani

“Ekosiculin Candle atau lilin pencegah (repellent) nyamuk Aedes aegypti yang kami buat menggunakan ekstrak daun kemangi. Daun kemangi ini merupakan salah satu insektisida botani,” ujar Zayyana, Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM-PE) dari Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Bersama dengan 4 rekan lainnya, Zayyana Septya Ramadani mendapat dana hibah dari Kemenristek Dikti untuk membuat lilin dengan memanfaatkan daun kemangi sebagai bahan dasar pembuatan obat anti nyamuk yang ramah lingkungan.

“Selama ini, banyak obat nyamuk yang menggunakan insektisida berbahaya. Penggunaan insektisida ini dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan resistensi nyamuk terhadap insektisida,” lanjut Zayyana.

Dari penjelasannya ketika ditemui di kampus 3 UAD, prinsip dasar yang harus dipahami semua orang ketika menggunakan obat nyamuk adalah bahwa zat yang dipakai bersifat racun.

“Bisa dikatakan tidak ada racun yang benar-benar aman. Untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan, diperlukan pengendalian alternatif dengan cara mencari bahan aktif biologis dari tanaman atau sumber daya hayati lainnya yang dapat digunakan sebagai insektisida botani.”

Tumbuhan merupakan salah satu sumber yang kaya akan berbagai jenis senyawa kimia potensial yang bisa dikembangkan menjadi insektisida botani, misalnya sebagai repellent nyamuk. Repellent nyamuk dapat diambil dari tanaman yang memiliki kandungan minyak atsiri.

Minyak atsiri dihasilkan oleh kelenjar khusus dari tanaman yang memiliki bau khas dan khasiat tinggi sehingga dapat bersifat sebagai repellent nyamuk. Repellent adalah bahan kimia yang salah satu fungsinya menjauhkan serangga dari manusia, sehingga dapat meminimalisir kontak antar manusia dengan serangga. (ard/doc)