You are here

GPSD Tandingkan Permainan Tradisional

Indonesian

Gebyar Prestasi Sekolah Dasar (GPSD) yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dimeriahkan dan diikuti peserta siswa sekolah dasar se-DIY. Acara yang diselenggarakan di lapangan Tamanan, Bantul, Yogyakarta, Minggu (4/11/2018) mempertandingkan beberapa peramainan tradisional, lomba sains, seni budaya, olahraga, dan keagamaan.

Beberapa yang dipertandingkan di antaranya lomba mewarnai, tari, parade anak saleh, olimpiade sains, lomba permainan tradisional, dan kompetisi futsal kids. GPSD kali ini merupakan yang ketiga dengan tujuan menciptakan siswa yang kompeten dan akan berlangsung dua kali, 4 dan 11 November 2018.

Ika Maryani, M.Pd. dosen PGSD menjelaskan, ajang ini untuk menperkenalkan PGSD UAD kepada masyarakat luas. Selain itu, ajang ini memberi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal permainan tradisional.

Permainan tradisional pada masanya digemari banyak orang. Di era ini permainan baru daring menggeser berbagai budaya lokal seperti permainan tradisional. Kami berharap siswa yang ikut berkompetisi dalam ajang ini punya daya kompetisi yang baik sehingga bisa memaksimalkan potensi diri,” jelasnya.

Sementara Dr. Dedi Pramono, M.Hum. Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) UAD menyatakan bangga kepada mahasiswa PGSD yang telah menyelanggarakan kegiatan perlombaan berbasis pengembangan soft skills bagi siswa sekolah dasar. Menurutnya, soft skills dibutuhkan untuk pemimpin bangsa di masa depan.

Pemimpin memerlukan sifat leadership, kerja sama, kejujuran, profesionalitas, dan integritas. Pengembangan permainan seperti ini perlu dilakukan di tengah himpitan permainan daring untuk mengembangkan potensi anak,” tandasnya.

Pada kesempatan ini, hadir juga Surti Raharyanto dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi DIY beserta Sri Supriyantini dari Disdikpora Kabupaten Bantul. Dalam sambutannya, Surti menekankan pihaknya akan bekerja sama dengan perguruan tinggi dan berbagai instansi lain untuk meningkatkan mutu kualitas pendidikan di DIY.

Mengenalkan kembali permainan tradisional merupakan langkah yang bagus untuk mengembangkan potensi anak. Selain itu, kesehatan jasmani anak juga akan terjaga. Saat ini, di Yogyakarta prevalensi penyakit tidak menular cukup tinggi, bahkan tertinggi di Indonesia. Banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya minimnya kegiatan fisik,” ungkapnya.

Surti mengapresiasi GPSD yang diselenggarakan UAD karena memberi kesempatan siswa sekolah dasar untuk berekspresi dan berkompetisi dengan berbagai sekolah. Hal ini akan meningkatkan kerukunan antarsekolah. Pihaknya berharap kegiatan GPSD tetap berlangsung di tahun-tahun mendatang. (ard)