You are here

Jabal Rahmah: Catatan tentang Kenangan dan Kasih Sayang kepada Jabrohim

Indonesian

Melepas Drs. Jabrohim, M.M., dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), digelar acara peluncuran buku Jabal Rahmah bertajuk “Pak Jab (Tidak) Pensiun” pada Senin, 25 Desember 2017 lalu. Buku Jabal Rahmah: Perjumpaan Sastra di IKIP Muhammadiyah Yogyakarta-Universitas Ahmad Dahlan tersebut merupakan prasasti purnabakti Jabrohim yang dipersembahkan oleh Komunitas Sastra Alumni Universitas Ahmad Dahlan (KSA-UAD). Buku ini terbagi menjadi dua bagian; Tegur dan Sapa. Disusun oleh 39 catatan karya sastrawan, penyair, rekan, dan kolega dari Jabrohim.  Dalam catatan tersebut, muncul nama-nama besar seperti Suminto A. Sayuti, Emha Ainun Najib, Tirto Suwondo, Suwardi Endraswara, Mustofa W. Hasyim, Iman Budhi Santosa, B. Rahmanto, dan masih banyak lagi. Dr. Kasiyarno, M.Hum., dalam subbab Sambutan Rektor menulis bahwa setiap catatan penulis dalam buku tersebut merupakan bukti sejarah sehingga menjadikannya sebuah prasasti.

Buku yang disusun dan diterbikan atas gagasan para mahasiswa dan alumni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan ini hadir sebagai suatu upaya mencatat peristiwa sastra yang tengah berlangsung di UAD sejak masih menjadi IKIP Muhammadiyah Yogyakarta, sehingga setiap catatan yang tertulis dalam buku ini mewujud sebagai bukti sejarah. (2017: ix)

Seperti yang dituliskan Rektor UAD, Jabal Rahmah memang diterbitkan dengan tujuan sebagai prasasti purnabakti Jabrohim sebagai dosen FKIP PBSI. Namun, karena perkembangan sastra di kampus Muhammadiyah ini tidak bisa lepas dari peran Jabrohim, dengan begitu buku ini juga mencatat sejarah perkembangan gerakan sastra sejak masih bernama IKIP Muhammadiyah Yogyakarta hingga saat ini. Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, dalam catatannya berjudul “Memahami Pak Jabrohim” yang juga menjadi prolog dalam buku ini menceritakan kedekatannya dengan Jabrohim yang seperti keluarga. Bahkan, kegiatan kesusastraan yang ia lakukan selama menjadi dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sedikit banyak terinspirasi dari Gerakan Sastra(-wan) Masuk Kampus yang digelakkan Jabrohim di IKIP Muhammadiyah Yogyakarta kala itu.

Mengapa Pak Jab menganut “estetika keras kepala” jika sudah masuk pada proses kegiatan yang bersentuhan dengan sastra. Bagi beliau, sebagai salah satu sektor kegiatan budaya, kehidupan sastra suatu bangsa meniscayakan adanya wilayah-wilayah kehidupan kecendekiaan yang mencakup tiga wilayah, yaitu wilayah produktif/kreatif/penciptaan, reproduktif/rekreatif/pengamatan-pengkajian, dan reseptif/apresiatif/penikmatan. (2017: xiv)

Dalam prolog tersebut, Suminto A. Sayuti menjelaskan landasan “estetika keras kepala” yang dianut Jabrohim, bahwa kebudayaan dan pendidikan merupakan hubungan timbal balik yang begitu eratnya hingga jika pendidikan dilakukan tanpa orientasi budaya, maka akan gersang dan jauh dari nilai-nilai luhur.

Anes Prabu Sadjarwo, berbagi kenangan pribadinya dengan Jabrohim semasa ngangsu kawruh di UAD. Ia menyebut Jabrohim sebagai dosen aneh, nyeleneh. dan anti mainstream.

Saya tidak berterima dengan dosen yang mengajari menulis, namun, mata penanya tumpul. Nah, Pak Jab merupakan salah satu dosen yang saya sukai karena beliau tidak hanya menyampaikan omong kosong. Pak Jab memiliki bertumpuk-tumpuk karya terutama karya tulis dan gagasan-gagasan yang selalu ter(di)realisasikan. Pak Jab menulis puisi, menulis esai, menulis buku ajar panduan penelitian, juga seorang penyunting yang andal. (2017: 166)

Di mata Anes, Jabrohim selalu memaksa mahasiswa untuk membaca karya sastra sebanyak-banyaknya. Dalam perkuliahan, Jabrohim tidak jarang menceritakan pengalaman-pengalamannya bersama sastrawan-sastrawan terkenal. Pembelajaran bagi Jabrohim adalah pembebasan pikiran. Jabrohim tidak mengikuti arus keumuman yang mengalir di sekitarnya, ia berani berdiri menghadang arus walaupun sendirian. Hal ini kemudian merujuk kembali pada istilah Suminto A. Sayuti bahwa Jabrohim menganut “estetika keras kepala”.

Pada bagian Epilog yang berjudul “Jangan Sampai Tak Ada Jabrohim”, Emha Ainun Najib (2017: 178) menuliskan, “Kalau engkau menatap Jabrohim dari bumi: Jabrohim hanyalah seorang Dosen, pengurus Universitas di Fakultasnya. Seorang suami yang penuh kasih sayang. Seorang Bapak penyemangat dan pengawal generasi yang akan tandang di masa depan. Seorang sahabat yang tidak tahan untuk tidak memberi, menyodorkan hati dan tangannya untuk menolong dan membikin mudah siapa dan apa saja di depan dan sekitarnya.” (dev)