You are here

Jihad Kebudayaan Muhammadiyah

Indonesian

Hari terakhir pengajian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Yogyakarta di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Senin (12/6/2017), menghadirkan empat pembicara dengan dua tema berbeda.

Pengajian pertama dengan pembicara Drs. Sukriyanto, AR., M.Hum., dan Drs. Tafsir, M.Ag., mengangkat tema “Jihad Kebudayaan dalam Mewujudkan Kedaulatan dan Keadilan”. Pada sesi kedua, Pradana Boy ZTF, Ph.D., dan Wawan Gunawan AH, L.C., M.Ag., membicarakan tentang “Desain Jihad Muhammadiyah di Tengah Masyarakat Majemuk”.

Secera teoretis, jihad dapat diartikan melaksanakan aktivitas atau kegiatan dengan sungguh-sungguh, sekuat tenaga, dan totalitas. Dari pespektif Islam, jihad adalah berjuang secara total serta habis-habisan untuk mewujudkan agama Islam, ajaran, dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan untuk mencari ridha Allah.

Jihad dapat dilakukan dengan harta benda (amwal) dan nyawa, jiwa, diri (anfus). Salah satu perjuangan jihad kebudayaan Muhammadiyah adalah budaya profetik. Budaya profetik atau sering disebut budaya kenabian mengandung nilai humanis, liberasi, dan transendensi.

Salah satu tujuan jihad Muhammadiyah adalah amar makruf nahi munkar. Tujuan dakwah ini untuk meninggikan martabat manusia dengan tidak berbuat kerusakan (fasid) dan tidak menumpahkan darah (yasfiku ad dima’), untuk kemuliaan Islam dan mencarai ridha Allah.

Untuk mewujudkan keberlangsungan dan kesuksesan jihad keudayaan, diperlukan kader dengan sumber daya manusia (SDM) yang kuat seperti seniman-budayawan yang memahami agama, dan ulama-mubaligh yang paham seni dan budaya.

Salah satu cara yang dapat ditempuh Muhammadiyah untuk menyiapkan kader yang memiliki SDM tinggi adalah dengan cara membuka program studi (prodi) di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) ataupun sekolah-sekolah yang erat kaitannya dengan seni budaya.

Cara lain yang dapat ditempuh yakni dengan membuka pesantren budaya, sekolah seni, pusat pendidikan dan latihan seni, sanggar budaya, juga pusat penelitian kajian dan pengembangan seni budaya profetik. Hal penting yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kualitas SDM ini adalah dengan melibatkan kader muda Muhammadiyah, utamanya mahasiswa. (ard/doc)