You are here

Kartini: Jalan Menjemput Takdir

Indonesian

 

Judul Film                   : Kartini

Jenis Film                    : Drama, Biopik

Durasi                          : 106 menit

Sutradara                     : Hanung Bramantyo

Penulis Naskah            : Bagus Bramanti, Hanung Bramantyo

Produser                      : Robert Ronny

Produksi                      : Legacy Pictures, Screenplay Films

 

 

 

Pusat Studi Wanita Universitas Ahmad Dahlan (PWS UAD) menyambut Hari Kartini dengan cara yang berbeda. Rabu (19/4/2017), bioskop Empire XXI ramai dipenuhi tamu undangan acara nonton bersama film “Kartini”. Acara tersebut digelar oleh PWS UAD sebagai upaya menyambut Hari Kartini yang jatuh pada 21 April. Tri Wahyuni Sukesih, S.Si.,M.P.H. menjelaskan bahwa tujuan acara tersebut adalah untuk kembali mengingat perjuangan Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan gender yang tetap tidak melenceng dari agama.

Film “Kartini” adalah film biopik yang mengangkat sosok Raden Ajeng Kartini (Dian Sastro Wardoyo), sebagai pejuang emansipasi Indonesia. Film ini menceritakan perjalanan hidup R. A. Kartini sejak kecil hingga ia menikah. Sebagai perempuan Jawa, ia ingin mendobrak tradisi yang mengekang perempuan. Ia harus masuk kamar pingitan sejak menstruasi pertama, dan harus menunggu hingga “dibebaskan” oleh calon suami. Selama ini, sosok Kartini dikenal sebagai perempuan idealis dan berpikiran bebas. Namun, siapa yang “memantik” pemikirannya agar sanggup terbang bebas? Adalah Kartono (Reza Rahardian), kakak laki-lakinya yang memberikan kunci pembuka pikiran Kartini.

Dalam sebuah adegan, Kartono yang akan berangkat sekolah ke Belanda memberikan sebuah hadiah kepada Kartini. Awalnya ia menolak, “Kalau Kangmas dapat membawa saya keluar dari kamar pingitan, itu akan jadi hadiah yang paling bagus untuk saya.”

Kartono, dengan senyum kemudian berkata bahwa fisik bisa saja terpasung, tetapi pikiran tidak. Ia mengatakannya sembari menyerahkan sebuah kunci. “Masuklah ke kamarku, di sana ada pintu yang bisa membawamu keluar kamar pingitan,” ujarnya.

Kemudian, berangkatlah Kartono ke Belanda. Kartini lalu pergi ke kamar kakaknya dan menemukan sebuah pintu yang dapat dibuka oleh kunci tersebut. Pintu lemari, berisi buku-buku peninggalan Kartono. Dan begitulah ia mulai membaca, dan membaca, dan membaca, hingga pikirannya dapat bebas berargumen dan berpendapat.

Kartini tidak melakukan perjuangan sendiri. Sebagai kakak, ia membimbing kedua adik perempuannya; Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita). Bersama, mereka mengembangkan diri menjadi putri-putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Utomo) yang cerdas dan berwawasan luas.  Kartini berjuang dengan tulisan-tulisannya, Roekmini dan Kardinah berjuang lewat seni batik dan kayu pahat. Bahkan pada satu titik, mereka dapat membangkitkan industri pahat dan pada saat yang sama memperkenalkan kebudayaan dan kesenian Jepara ke Belanda.

Kendati mengalami masa kecil yang sulit karena terpisah dari ibu kandungnya, Ngasirah (Christine Hakim) yang harus menjadi pembantu dan hidup di rumah belakang karena tidak memiliki darah ningrat, Kartini tetap bersemangat untuk memperjuangkan pemikiran dan pendidikan untuk anak-anak perempuan. Halangan terbesar yang menghadang perjuangannya adalah cibiran dari lingkungan bangsawan sekitar yang menganggap bahwa sebagai perempuan ia liar dan tidak menghormati tradisi. Namun, belakangan yang terjadi justru ayahnya mendukung perjuangan Kartini.

Film ini memiliki alur yang padat dan sangat menginspirasi. Sayangnya, film ini hanya menampilkan sedikit penekanan pada sisi agama. Di antaranya ketika ia bertanya kepada seorang kiai tentang ayat al-Qur’an yang membahas ilmu, dan apakah ayat itu khusus ditujukan kepada kaum laki-laki. Film ini juga menunjukkan bahwa Kartini adalah sosok perempuan yang menentang poligami.

Faijah Ida, staf Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UAD, berpendapat bahwa film ini sangat menginspirasi. Namun, terkesan belum selesai karena perjuangan R.A. Kartini tidak dapat dengan mudah dirangkum dalam film berdurasi 106 menit. Masih banyak hal yang belum muncul dalam film ini seperti buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan kisah Kartini setelah menikah yang menjadi salah satu titik tolak reformasi perempuan.

“Adegan yang paling aku suka saat Kartini dan ibunya ngudo roso di pinggir danau. Pertanyaan ibunya tentang apa yang tidak bisa ia temui di aksara londo, adalah bakti. Bakti sebagai anak, istri, dan wanita yang membuat ibunya rela menjadi pembantu demi masa depan anak-anaknya sebagai keluarga ningrat,” jelas Faijah. (dev)

 

Sumber foto : Legacy Pictures dan Internet Movie Database (IMDB)