You are here

Kepercayaan, Mahasiswa, dan Tradisi Juara UAD

Indonesian

Meningkatnya minat calon mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menandakan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Perguruan Tinggi Muhammadiyah ini. Pernyataan tersebut disampaikan Rektor UAD, Dr. Kasiyarno, M.Hum., dalam pidato laporan tahunan rektor 2017 yang dilangsungkan Sabtu (30/12/2017) di auditorium kampus 1 UAD, Jln. Kapas 9, Semaki, Yogyakarta.

 

“Sebagai bentuk timbal balik tersebut, UAD terus berupaya meningkatkan pelayanan akademik yang baik bagi mahasiswa, yang dilakukan oleh dosen dalam proses pembelajaran dan pelayanan administrasi yang nyaman oleh tenaga kependidikan,” terang Kasiyarno.

 

Untuk menjamin kualitas proses pembelajaran, salah satu upaya yang dilakukan dengan memberikan pembinaan prakuliah. Pembinaan dimulai sejak calon mahasiswa dinyatakan lulus masuk UAD. Mereka dibekali pelatihan teknologi informasi (IT), bahasa Inggris, soft skill, dan kewirausahaan.

 

Upaya lain untuk menghasilkan lulusan berkualitas melalui penyediaan kurikulum yang sesuai kebutuhan masyarakat, pengembangan metode pengajaran active learning, penyediaan sarana prasarana yang memadahi, layanan berbasis IT, dan dosen yang berkualitas.

Selama tiga tahun terakhir, UAD telah meluluskan 8.251 mahasiswa dengan 29% di antaranya berpredikat cum laude. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2015 3,27, pada 2016 meningkat menjadi 3,31, dan 2017 mengalami peningkatan menjadi 3,38.

“Kesuksesan lulusan UAD tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik semata, melainkan juga kemampuan atau keterampilan non-akademik. Untuk membekali keterampilan tersebut maka pembinaan kemahasiswaan dilaksanakan dalam 5 kategori, yaitu penalaran, minat dan bakat, keorganisasian, kesejahteraan, serta kekaderan.”

 

 

Tradisi Juara

Sampai saat ini, UAD dapat mempertahankan tradisi juara, antara lain selalu masuk dalam 3 besar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) tingkat Kopertis Wilayah V dari tahun 2002 sampai 2017, dan finalis atau juara pada ajang Mawapres tingkat nasional. Tradisi juara juga ditunjukkan dalam bidang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) serta National University Debating Contest (NUDC).

Pembinaan mahasiswa dalam bidang minat dan bakat diimplementasikan dalam bentuk penyediaan unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan komunitas-komunitas kegiatan dan organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah. Pada 2017 ini jumlah UKM sebanyak 16 unit, organisasi kemahasiswaan dalam bentuk komunitas 12 unit, sedangkan organisasi otonom Muhammadiyah 3 unit.

“Salah satu kegiatan besar yang berhasil dilaksanakan mahasiswa dari UKM Madapala yakni Operasi Katarak bagi Lansia. Kegiatan bakti sosial ini bekerja sama dengan Yayasan DHARMAIS dan PERDAMI Yogyakarta  pada 23 April 2017 di RS UAD dan berhasil mengoperasi sekitar 70 lansia. Kemudian ada pentas Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB) di kota Surabaya dan Purwokerto.”

Di kancah internasional, Ika Suciwati, mahasiswa UAD, memperoleh 3 penghargaan. Best Paper pada ASEAN Youth Cultural Exposure 2017 di Thailand, Best Idea, serta Best Team pada ASEAN International Summit 2017 di Malaysia.

 

“Prestasi lain yang tak kalah membanggakan mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker (PSPA), Liliyani Fatonah, meraih nilai tertinggi nasional dalam UKAI (Uji Kompetensi Apoteker Indonesia) dengan angka 84. Nilai ini jauh di atas standar nilai UKAI yaitu 46,21,” jelas Kasiyarno.

 

Setelah mendapat akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), UAD terus berbenah. Utamanya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dosen maupun mahasiswa. Peningkatan ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi dan memertahankan tradisi juara agar UAD semakin dikenal di kancah nasional maupun internasional. (doc/ard)