You are here

Kuliah Penting, tapi Orangtua yang Terpenting

Indonesian

“Meski lebih dekat dengan Bapak, Ibu yang lebih sering membuat saya khawatir. Penyakit yang dideritanya membuat saya was-was, terkadang sampai tidak fokus kuliah.”

Wisudawan terbaik S1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) periode November 2017 dengan IPK 3,96 ini begitu khawatir terhadap kesehatan kedua orang tuanya. Pasalnya, ia benar-benar harus membagi waktu untuk studi dan merawat Ibunya yang rutin menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

“Bagi saya kuliah penting, tapi yang terpenting adalah orang tua. Tanpa keduanya, saya merasa bukan siapa-siapa. Merekalah yang selama ini membesarkan dan terus berdoa untuk saya,” terang Novie sesenggukan ketika diwawancarai di kampus 1 UAD, Jln. Kapas 9, Semaki, Yogyakarta.

Sampai sekarang, yang membuatnya dapat bertahan dalam menghadapi setiap permasalahan adalah mental yang sudah ditempa sejak ia kecil. Sudiyono, yang bekerja sebagai guru Sekolah Dasar (SD) selalu tegas, keras, dan bijaksana dalam mendidik Novie. Sosok bapak inilah yang juga terus mengajarkan pentingnya mempelajari ilmu agama.

Perempuan kelahiran Purworejo ini menambahkan, bahwa bapak adalah salah satu motivasi yang membuatnya masuk ke program studi Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar (PGSD) UAD. Novie memiliki keinginan menjadi seperti bapaknya. Menjadi guru yang tidak hanya mengajar pengetahuan umum saja, tetapi juga mendidik agar anak-anak memiliki akhlak yang baik, berkarakter, serta memahami dan mampu mengamalkan ilmu agama.

“Empat tahun lagi beliau purna, sudah hampir 35 tahun Bapak mengabdi. Sekarang giliran saya meneruskan perjuangannya,” ungkap gadis kelahiran November 1994 ini.

Novie beranggapan, salah satu faktor yang menjadikannya sebagai wisudawan terbaik karena iklim pembelajaran di UAD. Menurutnya, selain belajar pengetahuan umum, UAD juga mengajarkan ilmu-ilmu agama yang menjadi nilai tersendiri ketika kelak menjadi seorang pendidik.

“UAD termasuk universitas yang berkualitas dan berbasis keislaman. Saya bisa belajar sambil mengaji dan mendalami ilmu agama.”

Salah satu momen yang akan terus diingatnya ketika di UAD adalah saat ia sedang menyelesaikan skripsi.

“Waktu itu menjelang lebaran, kesehatan Ibu tiba-tiba drop dan harus segera dirawat di rumah sakit di Yogyakarta selama beberapa hari. Saat itu juga saya sedang berusaha menyelesaikan skripsi. Saya ingat betul, bagaimana rasanya lebaran di rumah sakit. Merawat Ibu dan mengerjakan tugas akhir. Dan beberapa minggu kemudian disusul Bapak yang masuk rumah sakit.”

“Saya selalu berdoa dan meminta kepada Allah. Saya yakin Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Akan ada hikmah di balik itu semua. Saya hanya menjalankan apa yang Allah berikan. Kejadian dan musibah yang sudah kami alami menandakan bahwa Allah masih sayang kepada keluarga kami.” (ard)