You are here

Lakon Amarta Binangun Disesaki Ribuan Penonton

Indonesian

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, mengadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Amarta Binangun, Sabtu (5-1-2019). Acara yang digelar di kampus utama UAD, Jln. Lingkar Selatan, Tamanan, Bantul, dihadiri ribuan penonton. Pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Seno Nugroho ini untuk memeringati Milad UAD ke-58.

Rektor UAD, Dr. Kasiyarno, M.Hum. mengatakan, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk ini untuk melestarikan apa yang diajarkan K.H. Ahmad Dahlan. “UAD terbuka dengan seni dan budaya, sebagai salah satu bentuk pelestarian kebudayaan. Selain itu, sebagai salah satu bentuk pelestarian kebudayaan, acara-acara di UAD saat ini membiasakan diawali dengan tari-tarian.”

Terkait wayang kulit, sebagai salah satu warisan kebudayaan yang digunakan untuk media dakwah Islam di masanya, jangan sampai dicuri atau diklaim oleh negara lain,” lanjutnya.

Selain sebagai hiburan untuk sivitas UAD dan masyarakat, pagelaran wayang kulit ini juga menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa. Sehingga para mahasiswa dapat mencintai budaya sendiri. Pada kesempatan ini, puluhan mahasiswa asing UAD juga terlihat antusias dalam menonton pagelaran wayang kulit ini.

Lakon Amarto Binangun, dijelaskan Kasiyarno, dalam cerita, Amarta selalu direcoki, dizalimi, dimusuhi oleh Kurawa. Mengetahui hal tersebut, Maswopati merasa kasihan pada Pandawa. Oleh karenanya Pandawa diberi hutan, yang ternyata hutan itu penuh dengan jin. Bahkan bisa dikatakan sebagai kerajaan jin.

Pelajaran yang bisa diambil dari lakon ini, untuk meraih sesuatu kebahagiaan atau kesuksesan harus melalu perjuangan. Seperti yang diajarkan di UAD, kami memiliki spirit 8-As. Kerja keras, kerja tuntas, kerja ikhlas, dan kerja cerdas, mumtas, kualitas, sinergitas, dan membangun trust,” tandasnya.

Kali ini, kata Kasiyarno, UAD sengaja memilih Seno Nugroho sebagai dalanya. Sebab Seno Nugroho merupakan dalang populer. “Kemarin kami memanfaatkan dalang ‘dalam negeri’ mahasiswa kita, tidak ada penonton. Padahal ini untuk memopulerkan mahasiswa sendiri, tetapi tidak ada penonton,” katanya sambil menambahkan tradisi wayangan sudah dilakukan sejak Kasiyarno menjadi rektor tahun 2007. (ard)