You are here

Menggagas Pendidikan Berkemajuan

Indonesian

Peran pendidikan dalam Nawa Cita adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, serta melakukan revolusi karakter bangsa. Ketiga hal tersebut hanya dapat dilakukan dalam pendidikan. Pendidikan merupakan bidang yang sangat strategis untuk proses transformasi masyarakat. Tujuan dari transformasi masyarakat untuk masa depan, generasi muda, dan pengembangan potensi.

“Unsuccessful people think they know everything. But, successful people always learn something new,” begitu papar Dr. Kasiyarno, M.Hum., Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pendidikan di kampus 1, Ahad (19/11/2017).

Menurutnya, pengembangan potensi muda harus terus dilakukan karena anak-anak adalah warna masa depan bangsa. Masalah serius yang dihadapi saat ini adalah mutu pendidikan yang rendah.

“Ada beberapa faktor penyebab problem pendidikan. Di antaranya kualitas yang masih jauh dari harapan, sarana dan prasarana yang kurang memadahi, serta minimnya kuantitas maupun kualitas SDM. Faktor lainnya adalah beban administrasi tenaga pendidik, hegemoni intelektual tenaga pendidik, dan disorientasi.”

Disorientasi nilai terdiri atas subject oriented, high score, grade point average (ranking), success in final exam, hard skills (cognitive), dan competition achievment. Hal-hal tersebut menurut Kasiyarno dapat menyebabkan pembodohan siswa secara sistematis.

Tantangan pendidikan di abad 21 adalah era disrupsi. Era ini diartikan sebagai masa munculnya inovasi-inovasi aplikasi teknologi informasi dan komunikasi yang langsung mengganggu. Bahkan, dapat menghancurkan bisnis atau aktivitas organisasi maupun instansi mapan yang masih menggunakan tatanan sistem lama.

“Saat ini sudah banyak transportasi daring, warung daring, dan aplikasi-aplikasi lainnya. Meskipun manusia dimudahkan, tetapi tetap ada yang akan dirugikan, utamanya yang masih konvensional. Termasuk di dunia pendidikan.”

Cara melakukan perubahan yakni dengan memberi layanan pendidikan yang lebih baik. Pendidikan berkemajuan akan membebaskan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan, juga memberdayakan masyarakat dengan menggali dan mengembangkan potensi yang ada menjadi bermanfaat. Manfaat lainnya adalah dapat memajukan kehidupan masyarakat menjadi lebih berkualitas, lebih unggul dan berdaya saing, serta berkarakter.

Salah satu strategi yang dapat diusung adalah profesionalitas kepemimpinan pendidikan untuk menanggulangi berbagai macam tantangan. Cara yang dapat dilakukan dengan memberikan pembelajaran yang bermutu, relevan, dan bermanfaat. Dengan pendidikan yang baik, Indonesia akan mampu bersaing di dunia global dan memiliki karakter.

Kompetensi berkemajuan yang harus ada di dalam pendidikan memiliki beberapa faktor. Antara lain komunikasi, kolaborasi, ICT literacy, kepercayaan diri, cross culture understanding, pengusaha, kreatif, inovatif, berpikir kritis, serta dapat memecahan permasalahan.

Dengan demikian, akan dapat menciptakan pendidikan berkemajuan. Menciptakan sekolah dengan lingkungan yang aman, nyaman, dan menjamin semua siswa dihargai sama. Semua didorong untuk maju, didukung, dan ditantang untuk mengembangkan seluruh potensinya. Lingkungan sekolah juga akan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kepedulian, penerimaan,  menghargai, tanggung jawab, percaya diri, dan teamwork

“Sekolah harus menyajikan suasana belajar yang dinamis, yang mengikutsertakan peserta didik dan komunitas untuk mengembangkan seluruh potensinya melalui berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, berkreativitas, berwawasan ICT, dan berkarakter sebagai pemimpin masa depan.”

Di akhir pemaparannya, Kasiyarno mengharapkan sekolah menciptakan “budaya belajar”. Yakni aktivitas yang menumbuhkan kebiasaan belajar interaktif, dengan peserta didik terlibat dan termotivasi secara mendalam. Sekolah juga harus learning partnership. Yakni terciptanya hubungan harmonis antara siswa, guru, keluarga, dan komunitas.

“Sekolah tidak hanya mengajarkan hard skill, tetapi juga menanamkan dan mengembangkan soft skill kepada peserta didik. Menumbuhkan keberanian bertanya dan menjawab, membangun optimisme daripada pesimisme, membangun a generation of global leaders, dan yang terakhir keterlibatan siswa dalam school decision-making, governance.” (ard/doc)