You are here

Nia Zulaeni; Wisudawan Terbaik Tidak Malu Bertani

Indonesian

 

“Sering bantu-bantu Bapak di kebun, manen terong, cabai, tomat, singkong, kacang, dan sayur lainnya. Kadang juga bantu 

menyabit.” Begitulah yang disampaikan Nia  Zulaeni, wisudawan terbaik Univeristas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta periode Agustus 2017 dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.

Perempuan kelahiran Magelang, 29 Maret 1995 ini merupakan anak sulung dari Warsidi dan Anik Indrawati, S.Pd.SD. Sejak 2001, keluarganya harus pindah domisili karena sang ibu dipindahtugaskan mengajar Sekolah Dasar (SD) dari Magelang ke Kebumen.

Sejak di Kebumen, Warsidi beberapa kali berganti-ganti pekerjaan. Pernah usaha tambak ikan, kerja di pabrik, dan jadi sales. Tetapi, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Keputusan itu diambil karena anak-anaknya membutuhkan pendampingan ekstra di rumah. Di sela merawat anaknya, bapak yang sangat disiplin ini memiliki pekerjaan sampingan bertani. Hasil pertanian dijual kepada orang-orang yang sudah memesannya.

“Rasanya aneh sejak kecil lebih banyak dirawat Bapak, soalnya kebanyakan teman-teman saya dirawat Ibu. Tetapi mau bagaimana lagi, saya tidak tahu akan jadi apa kalau kedua orang tua bekerja semua.”

Semasa kuliah di UAD, kakak dari Aziza Rahmawati dan Alfina Nur Aeni ini tidak begitu aktif di organisasi. Dua dari empat tahunnya dihabiskan sebagai Student Employment (SE) di bagian Penerimaan Mahasiswa Baru. Sejak awal kuliah, ia juga sudah menjadi mentor belajar bahasa Inggris siswa SD dan SMP. Penghasilan dari SE dan menjadi mentor belajar ia gunakan sebagai tambahan uang saku. Terkait dengan kuliah, ia beberapa kali mendapat beasiswa dari UAD, sehingga membantu biaya perkuliahan.

Nia menceritakan, diasuh oleh bapak rasanya agak aneh. “Biasanya yang ngurus anak kan Ibu, tetapi di keluarga saya, Bapak yang cukup berperan di rumah. Sejak kecil juga Bapak sudah menerapkan disiplin kepada anak-anaknya.”

Saat akan kuliah di UAD, perempuan yang menyukai novel-novel klasik ini sebenarnya lebih memilih untuk masuk ke sastra Inggris. Tetapi, bapaknya menyarankan ke Pendidikan Bahasa Inggris. Sejak SMA, ia sudah suka baca novel-novel klasik Indonesia maupun terjemahan.

Sewaktu SMA, guru bahasa Indonesianya mewajibkan minimal dalam waktu seminggu dapat setengah novel. Dulu yang dibaca novel seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Pengakuan Pariyem, Atheis, Siti Nurbaya, dan beberapa lainnya. Memasuki perkuliahan, yang dibaca lebih banyak novel-novel terjemahan. Menurutnya, novel klasik dan terjemahan tidak “lebay”.

Setelah menyelesaikan masa studi di UAD, perempuan yang mengidolakan Jane Austin ini tetap merawat keinginannya untuk melanjutkan S2. Saat ini, ia sedang mengikuti training di salah satu bank di Yogyakarta.

“Sebenarnya saya ingin langsung S2, Bapak dan Ibu juga mendukung. Tetapi karena terkendala biaya, jadi untuk saat ini saya memutuskan untuk bekerja dulu.”

Perlu diketahui, semasa mengikuti perkuliahan, Nia paling anti duduk di barisan belakang. Ia memilih di depan karena dapat dengan mudah memahami apa yang disampaikan dosen. Sistem belajar yang ia terapkan adalah catat, baca, catat, baca.  Apa yang disampaikan dosen ia catat, kemudian dibaca, dicatat (disalin) lagi, dan dibaca ulang.

“Di UAD, setiap hari saya merasa semakin bodoh. Ada banyak sekali ilmu baru yang harus dipelajari. UAD benar-benar memberikan paket lengkap ilmu pendidikan, pengalaman, dan pembelajaran kemasyarakatan. Wisuda adalah saat untuk mengoreksi diri sendiri, apa yang akan dilakukan setelah ini.” (ard)