You are here

Pembacaan 21 Puisi dalam FAS ke-42

Indonesian

 

            Selama ini, Forum Apresiasi Sastra (FAS) selalu rutin diadakan pada Rabu minggu kedua setiap bulannya. Acara yang diadakan berkat kerja sama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Lembaga Seni Budaya Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah Yogyakarta yang dilaksanakan pada 7/1/2015 lalu mengusung tema “Maulid Pop: Pejabat, Tokoh Masyarakat, Penyair, Guru, dan Mahasiswa Baca Puisi”.

Ada yang berbeda dengan FAS kali ini. Sebab, terdapat 12 pembaca puisi yang berasal dari berbagai kalangan.

            Pembaca pertama yaitu Soeparno S. Adhy yang merupakan Redaktur Kedaulatan Rakyat. Ia membacakan 4 puisi yang berjudul “Anak Panah Muhammadiyah”, “Buya Kepadamu Aku Mengadu”, “Orang Tua dan Guru Kencing Berdiri”, dan “Blusukan, Keblasuk, Keblusuk”.

Pembaca kedua adalah Iman Budhi Santosa yang merupakan sastrawan terkenal. Ia membacakan 2 puisi berjudul “Prasasti Bumi Mataram” dan “Potret Indonesia”. Pembaca ketiga adalah Latief S. Nugraha, yang merupakan alumnus Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UAD dan baru saja menyelesaikan studi S2 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia membacakan puisi berjudul “Malioboro” dan puisi karya Iman Budhi Santosa yang berjudul “Potretku, Potretmu, Potret Kita Nanti”.

Pembaca selanjutnya adalah Iqbal H. Saputra. Alumnus PBSI UAD dan sedang menyelesaikan studi pascasarjana di UGM ini membacakan puisi berjudul “Jejak Bayang” dan “Jejak Pergulatan”. Guru Bahasa Indonesia di SMA N 1 Yogyakarta, Budi Nugraha membacakan puisi berjudul “Jalan Menuju Suci” dan “Masjid Demak”.

            Kemudian, Fitri Merawati menjadi perempuan pertama yang membacakan puisi di forum ini. Puisi berjudul “Lakon Apa yang Akan Kita Mainkan” dan “Selembar Kain Batik” menjadi pilihannya. Pembaca lainnya adalah Nasirin, yang membacakan puisi berjudul “Tanah Air Mata” karya Sutardji Calzoum Bachri dan puisi “Aku dan Kamu”. Bintang Wahyu Putra yang merupakan mahasiswa Fakultas Sastra membacakan puisi berjudul “Semusim di Neraka”. Titi Yulianti membaca puisinya yang berjudul “Mata Hati Kulayarkan ke Samudra Cinta”. Lalu, dilanjutkan oleh penyair kembar Ardi Priyantoko dan Ardi Suryantoko yang membacakan puisi berjudul “Tubuh Pinjaman” karya Joko Pinurbo dan puisi berjudul “Waktu”.

FAS ditutup dengan pembacaan puisi oleh Teguh Sastro Asmoro dengan puisi berjudul “Sehabis Perang”. Puisi ini didedikasikan untuk sahabatnya, Hari Leo AER.
            Bagi yang menyesal tidak dapat datang ke acara FAS ke-42, jangan khawatir. Sebab, puisi-puisi tersebut akan diterbitkan ke dalam antologi puisi. Jadi, jangan ketinggalan untuk memiliki bukunya! (Rh)