You are here

Pentingnya Edupreneurship untuk Calon Guru

Indonesian

Pelepasan calon wisudawan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang diselenggarakan pada Kamis (9/11/2017) lalu memiliki atmosfir yang berbeda. Mengangkat tema “Langkah Strategis Memaksimalkan Potensi Edupreneurship dalam Diri”, panitia Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) mendatangkan Andang Kirana sebagai pemateri.

Andang Kirana adalah seorang socialpreneur, business coach, Lead Auditor ISO 2015  sekaligus Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Yogyakarta. Sebagai business coach, Andang tidak berbicara perihal teori-teori dan pengetahuan secara umum, melainkan fokus pada pemberian langkah praktis dan contoh nyata edupreneur bimbingannya yang telah berhasil di pasaran. Andang menekankan bahwa guru di dunia global saat ini harus memikirkan ilmu yang disalurkan tidak terbatas pada ruang dan waktu mengajar di kelas. Bagi lulusan FKIP, pendidikan adalah modal utama selanjutnya, Andang menyarankan usaha yang dilakukan harus fokus membangun lingkungan dan membantu orang lain. Salah satu platform pendidikan berbasis teknologi yang sukses ia bimbing adalah bahaso.com. Sebuah situs pembelajaran bahasa asing berbayar dengan konsep interaktif.

Tidak berhenti pada pemberian motivasi dan contoh nyata, Andang juga membagikan Personal Business Model yang bisa diimplementasikan oleh calon wisudawan FKIP yang ingin membangun usaha berbasis edupreneurship. Di depan 564 calon wisudawan, ia menjelaskan betapa dunia kerja yang akan dihadapi adalah dunia serbacepat dengan segala sesuatunya akan bergeser dan berevolusi.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Konsolidasi dan Peningkatan Kualitas Akademik, Dr. H. Muchlas, M.T. dalam sambutannya. Ia menggarisbawahi 4 pergeseran yang harus dihadapi sarjana setelah terjun ke dunia nyata. Pergeseran-pergeseran tersebut antara lain paradigma dalam pendidikan, strategi pembelajaran dari pemberian materi menjadi pengembangan materi multi-konteks, pembelajaran pada tempat terbatas menjadi tidak terbatas atau global, dan pembelajaran dari teks terbatas menjadi rujukan tidak terbatas. Maka, sarjana harus mempersiapkan kualifikasi akademik dan kompetensi yang berkualitas untuk menghadapi tantangan di era global. (dev)