You are here

PIKO Adakan Workshop untuk TTK

Indonesian

 

 

Workshop atau pelatihan ini merupakan agenda rutin dari Pusat Informasi dan Kajian Obat (PIKO). Workshop ditujukan untuk Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK),” ungkap Dr. dr. Akrom, M.Kes. saat ditemui di depan laboratorium farmasetika.

 

PIKO adalah salah satu penelitian yang ada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM),yang dikelola oleh Fakultas Farmasi. Selain itu, PIKO menjadi salah satu wadah bagi masyarakat dalam mengimplementasikan penelitian khususnya di bidang farmasi. TTK atau biasa disebut dengan asisten apoteker bertugas untuk menerjemahkan resep obat, menyediakan obat, hingga penggunaan obat.

 

Kegiatan yang bertajuk Peningkatan Keterampilan Teknis Dispensing di Pelayanan Primer: Good Dispensing Practiceberlangsung selama dua hari yaitu pada Sabtu dan Minggu, 28 dan 29 Juli 2018, berlokasi di laboratorium farmasetika kampus 3 Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Peserta yang turut hadir dalam kegiatan ini berjumlah lebih dari 35 orang.Di antaranya TTK dan apoteker dari berbagai Rumah Sakit (RS), seperti RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta, RS Bethesda, RS Hardjolukito, UPT Puskesmas Panggang, UPT Puskesmas Tepus, hingga RS Kebumen.

 

Materi mengenai perakitan dan penyerahan obat atau dispensing and compounding menjadi materi pembuka, yang disampaikan oleh Muh. Muhlis, Sp. FRS., Apt. Pengenalan Evidence Based Medicine (EBM) disampaikan oleh Dr. dr. Akrom, M.Kes. Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) disampaikan oleh Ana Hidayati, M.Sc., Apt. Monitoring efek samping obat pada pelayanan primer disampaikan oleh Lolita, M.Sc., Apt., dan kegiatan yang terakhir merupakan studi kasus serta simulasi disampaikan oleh Hendy Ristiono, M.P.H., Apt. 

 

“Dalam studi kasus ini, peserta diminta untuk menentukan permasalahan, kemudian dicari solusinya dengan memberikan rekomendasi perbaikan dan disimulasikan dengan cara dipraktikkan. Jika sudah dipraktikkan, maka akan dilakukan evaluasi bersama fasilitator. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui kekurangan dari masing-masing kelompok, kemudian diberitahukan untuk perbaikan yang seharusnya dilakukan,” papar Hendi Ristiono selaku pemateri sekaligusdosen dari Fakultas Farmasi. 

 

Monitoring efek samping obat, merupakan hal yang harus diperhatikan untuk TTK dan apoteker. Ini untuk mengetahui mengenai efek samping dari obat yang telah dikonsumsi. 

 

“Seringnya, TTK dan apoteker tidak sampai pada monitoring, padahal itu merupakan tuntutan yang harus dikerjakan,” lanjut Hendi. 

 

Akrom yang memiliki rutinitas mengajar di Fakultas Farmasi sekaligus dokter umum di RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta juga menyampaikan harapannya dalam kegiatan ini. 

 

“UAD bisa mempunyai kontribusi secara langsung dengan membantu membenahi ketika praktik. Selain itu, ketika pelayanan belum sesuai dengan kode etik dan moral, kita bisa membenahi supaya pelayanan di masyarakat menjadi lebih baik dan kehidupan masyarakat semakin meningkat,” tutupnya. (sch)