Fenomena Gerhana Matahari Total

 

“Saat itu, masyarakat cenderung berada dalam nuansa ketakutan ketimbang berhati-hati dalam melakukan observasi. Padahal, fenomena gerhana matahari total jarang bisa diamati pada suatu tempat. Sekitar 360 tahun, hal tersebut akan berulang di titik yang sama di permukaan bumi. Sungguh fenomena yang sangat sayang untuk dilewatkan,” kata Prof. Dr. Bambang Hidayat dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) saat memberikan Kuliah Umum Astronomi pada Minggu (31/5/2015) di auditorium utama kampus III Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Pada (9/3/2016), gerhana matahari total akan melewati sejumlah daerah dalam lintasan di Indonesia, yakni membentang dari Bengkulu sampai Maluku Utara. Oleh karena itu, menurut Bambang, perlu sosialisasi pengetahuan tentang gerhana matahari total dan cara mengamati gerhana yang aman. Ini terus dilakukan di banyak tempat.

Meskipun Yogyakarta hanya dilewati oleh gerhana matahari sebagian, Bambang berharap UAD mensosialisasi terkait hal ini. “Di UAD sangat mendukung karena ada Program Studi Pendidikan Fisika dan Magister Pendidikan Fisika yang merupakan pencetak guru dan dosen, yang nantinya akan mengajar di sejumlah daerah di Indonesia,” ujarnya.

Hingga saat ini, Bambang tercatat telah melakukan serangkaian penelitian gerhana matahari total, termasuk saat peristiwa itu melewati kota Yogyakarta tahun 1983. Menurutnya, banyak yang bisa dilakukan penelitian pada saat gerhana matahari total. Di antaranya adalah penelitian tentang Baily’s Bead (mutiara Baily), studi perubahan lapisan ionosfer, dan perubahan perilaku hewan serta tumbuhan pada saat terjadi kegelapan sementara di pagi hari.

Bidang pariwisata pun menggunakan kesempatan ini untuk mempromosikan tempat yang bagus untuk pengamatan dan fotografi dengan latar belakang yang unik di suatu daerah. Termasuk cara kearifan lokal dalam menyambut fenomena gerhana matahari total. Perlu penelitian dan kerja sama lintas disiplin ilmu sehingga fenomena ini dapat dioptimalkan kemanfaatannya untuk masyarakat secara umum dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Selain Bambang, pada kuliah umum tersebut hadir Dr. David Dunham dari International Occultation Timing Association (IOTA). Ia sangat antusias untuk membagi ilmunya meskipun sudah berada di Australia. David berharap komunitas peneliti dan penggemar astronomi Indonesia mampu berperan aktif dalam penelitian okultasi ini. Sebab, alat yang digunakan tidak mahal dan sejumlah astronom yang terlibat dalam pengambilan data bulan Mei lalu sudah berpengalaman dalam menggunakan alat tersebut.

Mereka juga berharap UAD dapat mengembangkan pendidikan Indonesia dengan banyaknya sumber daya manusia Indonesia yang andal, termasuk di bidang astronomi. Salah satunya dengan mengembangkan riset observasi dan edukasi, rencana pembangunan Observatorium di kampus IV, serta observasi gerhana matahari total di Ternate.