Infiltrasi Ideologi Barat Meruntuhkan Islam

Oleh: Wajiran, S.S., M.A.

(Kepala Pusat Pengembangan Bahasa UAD)


Perang wacana sebenarnya sudah lama terjadi di dunia perpolitikan dunia. Perang wacana ini merupakan bagian dari usaha masing-masing negara di dalam membangun image sebagai upaya legitimasi bahwa wacana yang dibawa negara yang bersangkutan itu benar. Itu sebabnya para politikus dan juga diplomat berjuang sekuat tenaga membangun wacana sebaik mungkin dengan tujuan mengunggulkan negaranya. Membangun wacana merupakan cara paling mudah dan murah untuk dapat menguasai secara ideologis bangsa lain. Dalam istilah Antonio Gramsci proses membangun wacana publik ke arah yang dikehendaki negara tertentu disebut dengan Hegemoni.

Negara-negara barat sudah sangat paham betapa pentingnya menyebarkan wacana. Itu sebabnya dengan berbagai model mereka melakukan usaha mempopulerkan negaranya dengan membangun opini publik bahwa negaranya adalah negara yang paling berjaya, paling beradab dan paling segalanya. Istilah-istilah orientalisme, imperialisme, dan infiltrasi merupakan istilah yang lahir karena usaha-usaha negara barat untuk meruntuhkan negara lain. Orientalisme merupakan model yang paling populer digunakan barat untuk meruntuhkan musuh yang dianggap sulit ditundukan secara fisik. Model seperti ini pernah digunkan oleh Snouck Hurgronje yang mempelajari Islam dengan tujuan utama adalah ingin meruntuhkan Aceh saat itu. Saat ini banyak ahli atau ilmuan barat yang mempelajari Islam tetapi dengan tujuan meruntuhkan Islam itu sendiri (Husaini, 2004).

Setelah sukses melakukan penjajahan ideologis melalui wacana yang disampaikan para orientalis, barat pun mulai terang-terangan menggerogoti kebenaran Islam dengan mengadu domba antarumat Islam sendiri. wacana adu domba ini dihembuskan dengan nama Hak Asasi Manusia. Setiap pelanggaran yang dilakukan negara Islam atau umat muslim dianggap melanggar Hak Asasi Manusia atau sekedar dianggap akan mengancam perdamaian dunia. Itu sebabnya Amerika juga aktif melakukan intervensi terhadap negara lain (terutama negara perpenduduk muslim) dengan legitimasi perdamaian dunia. Tetapi sebaliknya, ketika Amerika dan sekutunya memiliki kepentingan dengan seenaknya melakukan pembantaian dan pembunuhan untuk meruntuhkan negara lain.

Kasus penistaan terhadap Islam adalah isu paling hangat yang saat ini dibicarakan orang. Film The Innocence of Muslim jelas-jelas melakukan penistaan atau penghinaan terhadap umat islam, tetapi nyatanya Amerika dengan dalih kebebasan berekspresi melindungi pembuat film itu. Itulah kelicikan Amerika yang memperlakukan seseorang atau negara secara tidak adil. Saat ada diskriminasi gender disebut melanggar hak Asasi atas dasar Seksisme, ketika kritik dan diskriminasi terhadap kulit hitam, Afrika disebut rasisme, demikian juga saat ada isu anti Yahudi disebutnya dengan anti Semit. Tetapi ketika diskrimanasi itu ditujukan kepada umat Muslim, Amerika malah melindungi yang bersangkutan atas nama kebebasan berekspresi. Beginilah cara-cara orang barat di dalam membangun opini publik.

Upaya barat meruntuhkan islam dari dalam sudah lama dilakukan. Hal ini diawali dengan menarik para intelektual muslim untuk belajar islam di negara liberal tersebut. Para intelektual muda itu diiming-imingi berbagai fasilitas beasiswa untuk belajar islam kepada orientalis yang jelas-jelas ingin meruntuhkan islam. secara logika memang sangat aneh, saat barat adalah musuh besar bagi dunia islam, tetapi para intelektualnya justru belajar islam pada musuhnya sendiri. Para intelektual muda muslim dibiayai dan dibesarkan oleh para orientalis yang akan menggaungkan isu-isu kontroversial di dalam islam sendiri. Dengan demikian wacana apapun yang dihembuskan oleh barat akan mendapat legitimasi dari kaum intelektual islam sendiri, yang kemudian akan melahirkan kekacauan antaraumat islam. Lahirnya tokoh-tokoh intelektual yang kontroversial seperti; Harun Nasution dengan Islam Rasional, Nur Kholis Madjid dengan Islam Inklusif. Kemudian “pemberontakan” aqidah islam oleh Ulil Absor Abdalla dengan kendaraan JIL (Jaringan Islam Liberal). Tokoh-tokoh yang sudah diracuni oleh pemikiran barat inilah yang menghembuskan isu-isu rasionalisme dalam islam sehingga melemahkan nilai-nilai kesakralan dalam islam itu sendiri.

Kita sudah tahu betapa besar kebencian barat terhadap perkembangan umat islam di dunia. Lalu masihkah kita percaya dan tunduk dengan paham dan wacana yang dibangun negara-negara barat? Sampai detik ini mereka (Amerika) masih mengajarkan kebencian terhadap islam, bahkan di lembaga-lembaga pelatihan militer mereka dengan terang-terangan memasukan mata pelajaran anti islam (Yahoonews, 2011). Itu sebabnya perlu ada upaya serius bagi kita untuk berani menolak kebijakan Amerika yang sangat ambisius itu. Kita harus meniru Malaysia yang dengan tegas berani menolak intervensi Amerika terhadap negaranya. Hanya dengan begitu kedaulatan dan kesejahteraan rakyat bangsa ini akan terangkat. Wallahua’lam bishawab.

Oleh: Wajiran, S.S., M.A.

(Kepala Pusat Pengembangan Bahasa UAD)


Perang wacana sebenarnya sudah lama terjadi di dunia perpolitikan dunia. Perang wacana ini merupakan bagian dari usaha masing-masing negara di dalam membangun image sebagai upaya legitimasi bahwa wacana yang dibawa negara yang bersangkutan itu benar. Itu sebabnya para politikus dan juga diplomat berjuang sekuat tenaga membangun wacana sebaik mungkin dengan tujuan mengunggulkan negaranya. Membangun wacana merupakan cara paling mudah dan murah untuk dapat menguasai secara ideologis bangsa lain. Dalam istilah Antonio Gramsci proses membangun wacana publik ke arah yang dikehendaki negara tertentu disebut dengan Hegemoni.

Negara-negara barat sudah sangat paham betapa pentingnya menyebarkan wacana. Itu sebabnya dengan berbagai model mereka melakukan usaha mempopulerkan negaranya dengan membangun opini publik bahwa negaranya adalah negara yang paling berjaya, paling beradab dan paling segalanya. Istilah-istilah orientalisme, imperialisme, dan infiltrasi merupakan istilah yang lahir karena usaha-usaha negara barat untuk meruntuhkan negara lain. Orientalisme merupakan model yang paling populer digunakan barat untuk meruntuhkan musuh yang dianggap sulit ditundukan secara fisik. Model seperti ini pernah digunkan oleh Snouck Hurgronje yang mempelajari Islam dengan tujuan utama adalah ingin meruntuhkan Aceh saat itu. Saat ini banyak ahli atau ilmuan barat yang mempelajari Islam tetapi dengan tujuan meruntuhkan Islam itu sendiri (Husaini, 2004).

Setelah sukses melakukan penjajahan ideologis melalui wacana yang disampaikan para orientalis, barat pun mulai terang-terangan menggerogoti kebenaran Islam dengan mengadu domba antarumat Islam sendiri. wacana adu domba ini dihembuskan dengan nama Hak Asasi Manusia. Setiap pelanggaran yang dilakukan negara Islam atau umat muslim dianggap melanggar Hak Asasi Manusia atau sekedar dianggap akan mengancam perdamaian dunia. Itu sebabnya Amerika juga aktif melakukan intervensi terhadap negara lain (terutama negara perpenduduk muslim) dengan legitimasi perdamaian dunia. Tetapi sebaliknya, ketika Amerika dan sekutunya memiliki kepentingan dengan seenaknya melakukan pembantaian dan pembunuhan untuk meruntuhkan negara lain.

Kasus penistaan terhadap Islam adalah isu paling hangat yang saat ini dibicarakan orang. Film The Innocence of Muslim jelas-jelas melakukan penistaan atau penghinaan terhadap umat islam, tetapi nyatanya Amerika dengan dalih kebebasan berekspresi melindungi pembuat film itu. Itulah kelicikan Amerika yang memperlakukan seseorang atau negara secara tidak adil. Saat ada diskriminasi gender disebut melanggar hak Asasi atas dasar Seksisme, ketika kritik dan diskriminasi terhadap kulit hitam, Afrika disebut rasisme, demikian juga saat ada isu anti Yahudi disebutnya dengan anti Semit. Tetapi ketika diskrimanasi itu ditujukan kepada umat Muslim, Amerika malah melindungi yang bersangkutan atas nama kebebasan berekspresi. Beginilah cara-cara orang barat di dalam membangun opini publik.

Upaya barat meruntuhkan islam dari dalam sudah lama dilakukan. Hal ini diawali dengan menarik para intelektual muslim untuk belajar islam di negara liberal tersebut. Para intelektual muda itu diiming-imingi berbagai fasilitas beasiswa untuk belajar islam kepada orientalis yang jelas-jelas ingin meruntuhkan islam. secara logika memang sangat aneh, saat barat adalah musuh besar bagi dunia islam, tetapi para intelektualnya justru belajar islam pada musuhnya sendiri. Para intelektual muda muslim dibiayai dan dibesarkan oleh para orientalis yang akan menggaungkan isu-isu kontroversial di dalam islam sendiri. Dengan demikian wacana apapun yang dihembuskan oleh barat akan mendapat legitimasi dari kaum intelektual islam sendiri, yang kemudian akan melahirkan kekacauan antaraumat islam. Lahirnya tokoh-tokoh intelektual yang kontroversial seperti; Harun Nasution dengan Islam Rasional, Nur Kholis Madjid dengan Islam Inklusif. Kemudian “pemberontakan” aqidah islam oleh Ulil Absor Abdalla dengan kendaraan JIL (Jaringan Islam Liberal). Tokoh-tokoh yang sudah diracuni oleh pemikiran barat inilah yang menghembuskan isu-isu rasionalisme dalam islam sehingga melemahkan nilai-nilai kesakralan dalam islam itu sendiri.

Kita sudah tahu betapa besar kebencian barat terhadap perkembangan umat islam di dunia. Lalu masihkah kita percaya dan tunduk dengan paham dan wacana yang dibangun negara-negara barat? Sampai detik ini mereka (Amerika) masih mengajarkan kebencian terhadap islam, bahkan di lembaga-lembaga pelatihan militer mereka dengan terang-terangan memasukan mata pelajaran anti islam (Yahoonews, 2011). Itu sebabnya perlu ada upaya serius bagi kita untuk berani menolak kebijakan Amerika yang sangat ambisius itu. Kita harus meniru Malaysia yang dengan tegas berani menolak intervensi Amerika terhadap negaranya. Hanya dengan begitu kedaulatan dan kesejahteraan rakyat bangsa ini akan terangkat. Wallahua’lam bishawab.