Kartini: Sekarang dan Nanti

Oleh: Avanti Vera

 

April merupakan bulan yang diidentikkan dengan Kartini, tokoh emansipasi wanita Indonesia yang memberikan inspirasi kesetaraan antara wanita dan pria di segala bidang. Hasil dari pemikiran Kartini sampai hari ini dapat kita lihat. Di antaranya wanita dapat mengenyam pendidikan sama dengan pria, dan seluruh profesi pekerjaan terdapat sosok wanita.

Sri Mulyani merupakan salah satu contoh dari emansipasi wanita. Ia adalah salah satu tokoh perempuan Indonesia yang masuk dalam daftar 100 wanita berpengaruh di dunia versi majalah Forbes 2015. Peran wanita dalam dunia politik bahkan diatur secara formal dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2014 yang menegaskan komposisi  wanita dan pria dalam sebuah legislatif sebanyak 30%. Dari data tersebut, sangatlah jelas terlihat kesempatan wanita untuk setara dengan pria sebagaimana pemikiran Kartini telah membuahkan hasilnya.

Sosok wanita yang selama ini lebih cenderung hanya dikaitkan dengan peran rumah tangga seperti mengasuh anak, memasak, atau mengurus rumah, mulai mengembangkan dirinya. Wanita tidak lagi hanya berkutat di dapur, sumur, atau kasur, tetapi meluas di berbagai bidang mulai dari politik, militer, atau hukum yang selalu diidentikkan dengan figur pria.

Emansipasi sebagai pemikiran Kartini tentang penyamaan kedudukan antara wanita dan pria telah dicapai, tetapi esensi dari emansipasi tersebut sepertinya  sudah mulai meninggalkan filosofi awalnya. Tujuan awal dari Kartini adalah memajukan kaum wanita agar memiliki hak yang sama dengan pria, tetapi tidak meninggalkan peran utamanya. Kartini juga tidak pernah merendahkan peran wanita sebagai ibu rumah tangga yang sama mulianya dengan profesi lainnya. Namun yang terjadi sekarang, beberapa wanita menggunakan emansipasi sebagai kedok untuk “membebaskan” dirinya dari peran utama tersebut.

Peran yang meluas menjadikan peran alami wanita yaitu “ibu” menjadi hal yang sangat langka ditemui terutama di masa sekarang, meskipun tidak hilang sepenuhnya. Para wanita yang berprofesi tersebut masih mengasuh, mendidik, dan merawat anak selayaknya ibu, tetapi kualitas dan kuantitas yang diberikan cenderung lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang dilakukan oleh pembantu rumah tangga atau baby sitter. Sosok ibu yang tergantikan oleh orang lain yang bukan ibunya, menjadikan anak kehilangan identitas dirinya sehingga munculah problematika remaja, seperti penggunaan narkoba atau seks bebas. Ibu adalah peran yang tidak bias digantikan oleh orang lain meskipun seorang nenek sekalipun yang tidak lain adalah ibu dari ibu.

Menurut ilmu psikologi, peran ibu pada tahun awal kelahiran anak yaitu 0–12 bulan merupakan masa yang tidak bisa digantikan. Hal itu karena secara fisik anak masih memerlukan bantuan orang lain, yaitu ibu untuk memenuhi kebutuhan fisiknya. Selain itu, masa awal kelahiran anak perlu beradaptasi dengan lingkungan baru, yang sebelumnya selama 9 bulan lebih masih berada di dalam kandungan yang sangat nyaman dan selalu bersama dengan ibu. Begitu lahir, anak merasakan lingkungan baru. Pentingnya ibu sebagai peran perempuan yang alami harus dikembalikan tanpa mengurangi haknya dalam mengembangkan diri di profesinya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan seorang wanita agar peran ibu dan peran profesinya dapat sejalan antara lain sebagai berikut.

Kenali pekerjaan. Memelajari tugas profesi adalah hal yang utama dilakukan wanita agar mudah dalam membagi waktu antara tugas ibu dan tugas pekerjaan. Semakin mengenali pekerjaan, maka akan semakin mudah membagi waktu agar seimbang antara pekerjaan dan peran alami ibu.

Menyusun support system. Dalam menjalankan tugas keibuan perlu diingat bahwa ada peran ayah yang sama pentingnya dengan peran ibu. Membagi waktu antara ayah dan ibu agar anak tetap mendapatkan pengasuhan sesuai dengan kebutuhan. Ketika ibu tidak dapat menjalankan perannya, tetap hadirkan suasana ibu dalam kegiatan tersebut.

Siapkan me time. Selalu luangkan waktu “me time” antara ibu dan anak tanpa diganggu oleh ayah, nenek, kakek atau pembantu agar anak merasa menjadi spesial. Ketika “me time” tersebut, lakukan aktivitas berdua, bukan permainan individu yang hanya dilakukan anak.

Sesuai dengan tujuan Kartini, menyetarakan hak kaum wanita dan pria tidak harus dengan mengebiri peran alami wanita. Emansipasi Kartini lebih ditujukan pada pemberian kesempatan kepada wanita untuk dapat mengakses semua hal tanpa melihat jenis kelamin sehingga Kartini pada masa yang akan datang tidak terjebak pada konsep pembebasan peran wanita sesungguhnya.