Kelas Drama Pentaskan 5 Naskah dalam Ujian Pemeranan

Ujian-pemeranan-kelas-drama-PBSI-sebagai-nilai-tugas-akhir

Sabtu, 14 Juli 2012 – Kelas Drama, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Univeristas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta pentaskan 5 naskah. Pementasan yang digelar di Hall kampus II UAD, Jl. Pramuka, No.42, Umbulharjo, Yogyakarta ini dikerumuni oleh beberapa mahasiswa dan alumni.

“Ini adalah salah satu kewajiban kami (mahasiswa) dalam Kelas Drama. Selain mengenal dan memahami teori drama dan bermain drama di kelas, kami berkewajiban untuk mengaplikasikannya dalam bentuk pertunjukan. Kami berharap apa yang kami lakukan malam ini bisa bermanfaat, paling tidak bagi diri kami dan para penonton yang datang. Ini adalah salah satu proses yang harus kami lewati untuk mengenal dan lebih memahami drama secara intens.” papar Farida Nur’aini, pimpro (pimpinan produksi) dalam kegiatan tersebut.

Agenda ini merupakan agenda rutin Kelas Drama yang ada di Prodi PBSI. Pasalnya, mahasiswa semester 4 akan diklasifikasikan menjadi dua kelas pilihan, yaitu Drama dan Jurnalistik. Dalam Kelas Drama yang diampu oleh Agus Leylor, para mahasiswa memang diwajibkan untuk mementaskan sebuah karya. Pementasan tersebut bertujuan untuk tugas akhir guna mendapatkan nilai akhir semester.

“Dibandingkan (tidak bermaksud membanding-bandingkan) denga beberapa angkatan sebelumnya, angkatan kali ini sangat terasa kemerosotannya. Kemerosotan tersebut saya simpulkan dari beberapa sudut pandang mendasar yang saya kumpukan, di antaranya pemahaman terhadap naskah dan penginterpretasikan karya sangat terasa. Bagi saya, ini adalah muara dari apa yang sudah dilakukan di kelas. Miskinnya budaya diskusi di kelas merupakan salah satu alasan terkuat dari kemerosotan ini. Dari semua pertunjukan, saya menyimpulkan, para mahasiswa tidak melakukan pengendapan terhadap naskah atau lakon yang sedang mereka mainkan. Tapi saya masih bersyukur. Di antara “ketidakefektifan” pembelajaran di kelas, juga “mengingat” kampus UAD bukanlah “kampus teater”, dengan terpaksa saya harus melakukan pemakluman. Tapi saya harap, adanya korelasi antara mahasiswa, sistem, dan penggerak sistem yang ada di UAD untuk lebih serius dalam menyikapi setiap mata kuliah yang ada di kampus. Selamat buat para aktor. Semangat berkesenian untuk semua.” papar dosen drama, Agus Leylor yang akhir-akhir ini aktif dalam beberapa pementasan ketoprak di Yogyakarta. (IHS)

Ujian-pemeranan-kelas-drama-PBSI-sebagai-nilai-tugas-akhir

Sabtu, 14 Juli 2012 – Kelas Drama, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Univeristas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta pentaskan 5 naskah. Pementasan yang digelar di Hall kampus II UAD, Jl. Pramuka, No.42, Umbulharjo, Yogyakarta ini dikerumuni oleh beberapa mahasiswa dan alumni.

“Ini adalah salah satu kewajiban kami (mahasiswa) dalam Kelas Drama. Selain mengenal dan memahami teori drama dan bermain drama di kelas, kami berkewajiban untuk mengaplikasikannya dalam bentuk pertunjukan. Kami berharap apa yang kami lakukan malam ini bisa bermanfaat, paling tidak bagi diri kami dan para penonton yang datang. Ini adalah salah satu proses yang harus kami lewati untuk mengenal dan lebih memahami drama secara intens.” papar Farida Nur’aini, pimpro (pimpinan produksi) dalam kegiatan tersebut.

Agenda ini merupakan agenda rutin Kelas Drama yang ada di Prodi PBSI. Pasalnya, mahasiswa semester 4 akan diklasifikasikan menjadi dua kelas pilihan, yaitu Drama dan Jurnalistik. Dalam Kelas Drama yang diampu oleh Agus Leylor, para mahasiswa memang diwajibkan untuk mementaskan sebuah karya. Pementasan tersebut bertujuan untuk tugas akhir guna mendapatkan nilai akhir semester.

“Dibandingkan (tidak bermaksud membanding-bandingkan) denga beberapa angkatan sebelumnya, angkatan kali ini sangat terasa kemerosotannya. Kemerosotan tersebut saya simpulkan dari beberapa sudut pandang mendasar yang saya kumpukan, di antaranya pemahaman terhadap naskah dan penginterpretasikan karya sangat terasa. Bagi saya, ini adalah muara dari apa yang sudah dilakukan di kelas. Miskinnya budaya diskusi di kelas merupakan salah satu alasan terkuat dari kemerosotan ini. Dari semua pertunjukan, saya menyimpulkan, para mahasiswa tidak melakukan pengendapan terhadap naskah atau lakon yang sedang mereka mainkan. Tapi saya masih bersyukur. Di antara “ketidakefektifan” pembelajaran di kelas, juga “mengingat” kampus UAD bukanlah “kampus teater”, dengan terpaksa saya harus melakukan pemakluman. Tapi saya harap, adanya korelasi antara mahasiswa, sistem, dan penggerak sistem yang ada di UAD untuk lebih serius dalam menyikapi setiap mata kuliah yang ada di kampus. Selamat buat para aktor. Semangat berkesenian untuk semua.” papar dosen drama, Agus Leylor yang akhir-akhir ini aktif dalam beberapa pementasan ketoprak di Yogyakarta. (IHS)