semangat_mahasiswa_baru_fakultas_kedokteran_uad.jpg

Semangat Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran UAD

Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD) baru bergabung pada Program Pengenalan Kampus (P2K) UAD tahun 2018 ini. Sebanyak 47 mahasiswa mengikuti P2K tahap 1.

Adam Ahmad Darussalam, salah satu mahasiswa baru Fakultas Kedokteran mengaku sangat bangga dan antusias mengikuti P2K. Mengingat, perjuangannya masuk ke fakultas ini tidak bisa dibilang mudah. Ia harus mengikuti bimbingan belajar terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri, dan melalui hari-hari dengan tekun belajar. Ia sangat bersyukur akhirnya bisa masuk di UAD setelah menghadapi persaingan yang sangat ketat.

Laki-laki asal Kalimantan tersebut sangat yakin bahwa dengan bergabungnya ia di Fakultas Kedokteran akan membawa perubahan dan kemajuan dalam dirinya, terutama dalam hal keagamaan. Ia memang sejak awal mengincar universitas Islam yang memiliki pendidikan keagamaan, moral, serta akhlak. Alhamdulillah ia dijodohkan dengan UAD. Mengingat orang tuanya adalah mualaf, jadi ia berusaha memperdalam ilmu agama di UAD.

Sama halnya dengan Adam, Izza Qorina atau yang biasa disapa Orin juga sangat antusias mengikuti P2K sebagai langkah awalnya di UAD. Mahasiswa baru asal Kotagede, Yogyakarta, ini percaya bahwa UAD akan memberikan pendidikan yang terbaik untuk mahasiswa kedokteran dan menjadikan mereka dokter-dokter profesional dengan berlandaskan Islam.

Walaupun Fakultas Kedokteran UAD masih baru, Orin yakin perkembangan pendidikan di UAD akan cepat berjalan. Mereka tidak khawatir terkait akreditasi dan sarana prasana. Sebab, sebelumnya telah dilakukan sosialisasi dengan mengundang para wali. UAD menjelaskan secara rinci tentang perkembangan Fakultas Kedokteran ke depannya. Sosialisasi yang dilakukan tersebut sangat membantu memantapkan hati para mahasiswa dan walinya.

Adam dan Orin juga berbagi pendapat tentang kegiatan perjokian yang sempat menggemparkan Fakultas Kedokteran UAD. Bagi mereka, kegiatan perjokian itu hanya dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak percaya diri. Menjadi dokter adalah sebuah tanggung jawab yang besar, jika sejak awal sudah menggunakan cara yang tidak baik, maka bagaimana ke depannya? Menjadi dokter memang harus benar-benar berasal dari orang yang memiliki intelektual bagus, bukan sekadar ingin tapi tanpa perjuangan. Sebab, yang akan dihadapi kelak adalah manusia, bukan boneka.

“Menjadi seorang dokter adalah salah satu sarana pengungkapan rasa syukur karena kita dapat lebih menghargai sehat sebelum sakit, menghargai kesempurnaan anatomi yang diberikan, serta peduli dengan manusia lainnya,” ungkap Orin saat ditemui di tribun Among Raga.