Ingin Raih Prestasi? Yakinlah dengan Doa Orang Tua

“Belajar tidak bisa dilakukan dengan cara dadakan. Belajar adalah sebuah proses yang dilakukan dengan perlahan dan bertahap,” ujar Miftakhul Nurlatifa gadis yang pernah aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMPS PBSI) dan Kreskit (Kreativitas Kita).
Ia menambahkan, semangat belajar yang paling utama karena kedua orang tua. Ia sadar menjadi anak rantau harus memiliki sesuatu yang lebih.
“Ketika saya belajar, saya selalu teringat dengan kedua orang tua. Karena saya merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Perjuangan orang tua saya sangat berat ketika harus membiayai perkuliahan saya. Karena bapak bekerja sebagai penjaga sekolah, dan Ibu sebagai guru SD,” Imbuh gadis kelahiran Bangka, 4 September 1993.
Miftah sapaan akrabnya, menduduki peringkat ketiga sebagai wisudawan Universitas Ahmad Dahlan periode November 2015 dengan IPK 3. 85.
“Semangat orang tua menjadi semangat tersendiri bagi saya untuk mengukir prestasi. Kekuatan dan doa mereka adalah anugerah di setiap kali saya mendapat kesulitan.”
“Saya aktif di organisasi sejak semester satu, dan mengakhirinya di semester 6. Saya belajar pada waktu luang di sela kegiatan organisasi. Jadi tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.”
Selain orang tua, dukungan dari teman-teman dan kampus juga menjadi sisi positif tersendiri. Kekatifan dalam berorganisasi akan meminimalisir hal-hal yang negatif. (Ard)

“Aktif dalam organisasi bukan berarti melupakan kewajiban sebagai mahasiswa untuk belajar,” ujar Puspa Ratna Dewi saat ditemui, Jum’at (6//11/2015).
Menurut UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, dijelaskan di pasal 19 ayat 2 bahwa psikolog memiliki kedudukan yang sama dalam kesehatan jiwa untuk melakukan diagnosis terhadap orang yang diduga mengalami ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) seperti halnya dengan dokter umum dan dokter spesialis kedokteran jiwa.
Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan diskusi ilmiah bertajuk “Peran Psikologi Forensik dalam Memenuhi Kebutuhan Penegakan Hukum”, pada Kamis, (5/11/2015) di auditorium kampus I.
Liana Snitzar, Mahasiswa Internasional Universitas Ahmad Dahlan (UAD) asal Ukraina ini berhasil meraih medali perak di Kompetisi Nasional Tapak Suci, Sabtu 10-20 Oktober 2015, di Universitas Airlangga, Surabaya. Dalam kesempatan ini, UAD mendapat 1 medali emas, 4 medali perak, dan 1 medali perunggu.