Strategi Kreatif Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Ekonomi (IMM FE) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Strategi Kreatif Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015” pada Sabtu, (28 /3/2015) di auditorium kampus 1.
“Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mengembangkan kualitas akademis civitas FE UAD pada khususnya, serta menambah jaringan dan kerja sama. Ini juga merupakan ajang untuk diskusi dan sharing kesiapan Indonesia menghadapi MEA,” tutur Dewi Amalia, SE., M.Si., selaku Kaprodi Akuntansi dalam sambutan.
Sebagaimana diketahui, pada KTT ke-21 di Cebu-Filipina tahun 2007, ASEAN telah membulatkan tekad untuk menjadi kawasan yang terintegrasi, seperti termaktub dalam dokumen Cebu Declaration on the Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015.
Komunitas ASEAN, sesuai dengan Bali Concord II tahun 2003, terdiri atas 3 pilar, yaitu Komunitas Politik-Keamanan ASEAN (ASEAN Political-Security Community/ASC), Komunitas Ekonomi ASEAN/KEA (ASEAN Economic Community/AEC), dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community/ASCC). Melalui kegiatan ini, para akademisi dapat saling berdiskusi dan berinteraksi membahas isu tersebut.
Selain dosen dan mahasiswa, hadir pula Sukarman, S.Si., M.Ec.Dev., M.Sc. yang menjabat sebagai Kasubbid Analisis Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, HR Gonang Djuliastono yang merupakan Kadin DIY, dan RaiRake Setyawan, SE., Gd Bus., MSA. selaku Dosen FE UAD. Mereka bertindak sebagai pembicara dalam seminar tersebut.(doc)

Sebagai perguruan tinggi yang selalu melakukan inovasi, Universitas Ahmad Dahlan berhasil melakukan kolaborasi yang sangat bermanfaat di dalam ilmu medis. Adalah Wisnu Arisandy mahasiswa Teknik Informatika, dan Dwi Kurnia Putri mahasiswa Fakultas Farmasi. Mereka berhasil menciptakan alat bernama Meditech Reminder (Alat Pengingat Minum Obat Potable).
Filologi adalah ilmu yang memfokuskan penelitian pada hasil budi daya manusia berupa pikiran, seni, pengetahuan adat, sejarah, dan sebagainya, yang tertulis dalam naskah. Isi dari buah pikir nenek moyang yang telah melahirkan budaya dalam sebuah bangsa, dirasa sangat bermanfaat. Khususnya dalam penemuan jati diri suatu bangsa. Isinya dapat bermacam-macam, mulai masalah seni, sastra, agama, sejarah, obat-obatan, doa, mantra, tips, dan sebagainya. Bahasa kuno menjadi tugas peneliti (filolog) untuk mengungkap kandungan isi suatu naskah agar dapat menyajikannya kepada khalayak ramai.
Naskah “Tumbal” bercerita tentang keluarga yang tiba-tiba kaya karena pesugihan. Parjiman pelaku pesugihan harus mempersembahkan tumbal, yakni nyawa seseorang, sebagai syarat perjanjian.
