Datang, Bertarung, dan Menang!

“Sebagai mahasiswa baru, hendaklah teguhkan niat semula dari kampung halaman untuk belajar di UAD. Setelah diterima, bersungguh-sungguh belajar. Jangan kecewakan orang tua. Buatlah prestasi di bidang apa pun, sebab prestasi mencirikan diri sendiri. Prestasi yang kalian raih akan mempengaruhi karakter individu ketika lulus dari UAD.”

Dr. H. Kasiyarno, M.Hum., Rektor Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

 

Begitulah pesan yang disampaikan Kasiarno saat ditemui di kantornya, Sabtu, 23 Agustus 2014. Bapak empat anak ini menegaskan, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) telah menyediakan banyak fasilitas bagi mahasiswa baru (maba). Selain beasiswa yang sudah berjalan per tahun, ada beberapa program yang dapat diraih oleh maba yang kompetitif. Misalnya, program pertukaran pelajar.

“Semua mahasiswa memiliki hak yang sama untuk meraih kesempatan dalam program pertukaran pelajar. Beberapa waktu ini, mahasiswa kita sudah ada yang ke Malaysia, Cina, Thailand, Filipina, dan Jepang. Untuk meraih kesempatan itu, tentu mahasiswa harus memiliki kemampuan akademik dan nonakademik. Misalnya, kemampuan yang sesuai dengan program studi (prodi) masing-masing, serta kemampuan tambahan. Di antaranya kemampuan berbahasa internasional,” papar rektor yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V DIY.

Selain beasiswa dan pertukaran pelajar, UAD juga memiliki aktivitas lain, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sudah bertaraf nasional dan internasional.

“Kami sudah bekerja sama dengan beberapa daerah di Indonesia dalam aktivitas KKN, baik di Jawa ataupun di luar Jawa. Baru-baru ini, mahasiswa kita bertolak ke Lampung. Bahkan, beberapa daerah meminta agar dikunjungi mahasiswa KKN UAD, salah satunya Kalimantan. Daerah tersebut kita tolak untuk sementara waktu dengan pertimbangan jarak dan biaya. Kemudian, kita juga mempunyai jaringan komunitas di Filipina, Kamboja, Thailand, dan beberapa negara. Beberapa mahasiswa UAD pun sudah KKN di Mesir pada tahun 2011−2012,” tambah Kasiyarno.

Kasiyarno menegaskan, semua fasilitas tersebut dapat didapatkan oleh semua mahasiswa. Syaratnya, mahasiswa harus bersaing dan meningkatkan kompetensi diri, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Kemampuan akademik dan nonakademik yang dimiliki mahasiswa tidak hanya berguna ketika mereka kuliah di UAD saja. Kemampuan tersebut akan menjadi trade record bagi setiap mahasiswa dalam melamar pekerjaan ketika mereka lulus nanti. Sebab, UAD telah mempersiapkan sistem ijazah yang baru bagi para alumni. Ijazah mereka tidak hanya disajikan nilai akademik, tetapi akan diselipkan nilai-nilai tambahan lainnya. Misalnya, prestasi yang mahasiswa capai selama kuliah. Nilai dan keterangan ini akan membuat alumni mampu bersaing di lapangan pekerjaan. Dengan keterangan tersebut, para pengguna jasa alumni tidak akan ragu menerima alumnus UAD. (IHS)

Abdul Fadlil: P2K Jalan Menuju Prestasi

Program Pengenalan Kampus (P2K) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) 2014 merupakan sebuah proses penyambutan mahasiswa baru oleh seluruh civitas UAD. P2K kali ini mengangkat tema “Membangun Cendekiawan Muda Kader Bangsa yang Unggul dan Berwawasan Global”. Dengan maksud dapat menghasilkan mahasiswa yang berkualitas dan berprestasi.

“Tujuan P2K adalah memperkenalkan UAD kepada mahasiswa baru. Selain itu, ajang ini juga menjadi sarana meningkatkan niat dan kesiapan mahasiswa baru yang akan berkuliah di UAD. Dengan niat dan kesiapan yang baik, Insya Allah mereka akan menjalankan masa perkuliahannya dengan baik pula. Sehingga akan menghasilkan individu yang berprestasi, baik akademik maupun nonakademik,” tutur Wakil Rektor III, Abdul Fadlil M.T., selaku pengurus bidang kemahasiswaan saat ditemui di ruang kerjanya.

Demi terwujudnya cendikiawan muda dari lingkungan UAD, P2K kali ini menghadirkan narasumber yang mempunyai pengalaman dan kemampuan tersebut. Ia adalah Dr. Marwah Daud Ibrahim. Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini dihadirkan oleh UAD sebagai narasumber pada pembukaan P2K 26 Agustus 2014 di Gedung Olahraga Among Rogo.

Dengan hadirnya narasumber tersebut, Fadlil berharap mahasiswa UAD semakin berprestasi. “Ke depannya, diharapkan mahasiswa baru dapat meraih prestasi setinggi mungkin. Universitas telah menyediakan jalan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Penjaringan lewat pameran UKM saat P2K berlangsung, dapat menambah kuat UKM tersebut. Secara langsung, UKM dapat meningkatkan prestasi bidang nonakademik. Karena ke depannya, keberhasilan mahasiswa selain dengan memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi, tetapi juga akan ada Indeks Kegiatan Mahasiswa (IKM) yang akan menjadi surat keterangan pendamping ijazah yang berisi prestasi mahasiswa. Dengan demikian, P2K menjadi salah satu jalan menuju mahasiswa yang berprestasi,” tutup Fadlil. (zul)

Seminar Nasional PG-PAUD -Membangun Karakter Anak Melalui Rekonstruksi Lingkungan Rumah dan Sekolah Bebas Budaya Kekerasan

Tema “Membangun Karakter Anak Melalui Rekonstruksi Lingkungan Rumah dan Sekolah Bebas Budaya Kekerasan”

Dengan menghadirkan tiga pembicara

  1. Dr. Rose Mini A. Prianto, M.Psi / Bunda Romi ( Psikolog dan Dosen UI )
  2. Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si. ( Psikolog dan Dosen UGM )
  3. Prof. Dr. Sodiq Aziz Kuntoro, M.Ed. (Guru Besar dan Dosen PG PAUD FKIP UAD )

Moderator

Ewang Sewoko, S.Psi, M.A.

Perwakilan ( BKKBN Propinsi DIY )

 

Acara akan berlangsung, 6 September 2014 di Ruang Auditorium ( Lt 3 ) Kampus I Universitas Ahmad Dahlan Jl. Kapas No. 9 Semaki Yogyakarta (Selatan Stadion Mandalakrida). Pendaftaran di Sekretariat Panitia :  Program Studi PG PAUD FKIP UAD Kampus 5, Alamat Jl. Ki Ageng Pemanahan 19 Sorosutan Yogyakarta,Telp. (0274) 563515; 511830; ext. 5115.

 

Contact Person :

– Avanti Vera Risti, P., M.Pd.  ( HP.081328002508 )

– Dwi Hastuti, S.Pd.                  (HP.081328313510 )

Salah Satu Cara Matangkan Keilmuan dan Karakter di Kampus

Dr. Marwah Daud Ibrahim, Ph.D,. Mengatakan Kampus merupakan sarana paling tepat untuk mematangkan kualitas keilmuan dan karakter integritas intelektual muda, kata mantan anggota DPR RI Marwah Daud Ibrahim.

"Kampus merupakan tempat paling baik untuk mengasah keilmuan dan karakter kaum muda," katanya, saat memberikan Pidato ilmiah pada Program Pengenalan Kampus (P2K) Mahasiswa Baru Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, di Gor Among Rogo. Selasa, (26/08/2014).
 

Menurut dia, kaum muda atau mahasiswa menjadi tumpuan masa depan bangsa sehingga memerlukan keilmuan dan karakter yang kuat untuk mengambil keputusan secara mandiri bagi kepentingan bangsa dan negara.

"Mahasiswa harus menjadi cendekiawan yang peduli pada nasib masyarakat dan lingkungan sekitar serta dapat memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa dan negara," katanya penuh semangat.

Rektor UAD Kasiyarno mengatakan pihaknya telah menyediakan sejumlah fasilitas dan program pendukung yang bisa diakses para peserta didik untuk menunjang kegiatan perkuliahan.

Misalnya, Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bertaraf nasional hingga internasional di antaranya di Mesir serta pertukaran pelajar ke sejumlah negara seperti Malaysia, Tiongkok, Thailand, Filipina, dan Jepang. Menurut Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu, berbagai fasilitas tersebut bisa diperoleh mahasiswa yang mau bersaing meningkatkan kualitas diri.

"Kami berharap setiap mahasiswa mau berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik dalam bidang akademik maupun non-akademik," kata Kasiyarno dalam sambutan sekaligus secara resmi membukan Kegiatan P2K. Acara yang diikuti sebanyak 4.750 mahasiswa baru UAD tersebut juga diikuti 174 Mahasiswa baru yang berasal dari luar negeri.

Marwah Daud Ibrahim: The Power of Planning

Kalau orang lain bisa, saya juga harus bisa. Kalau orang lain tidak bisa, saya tetap harus berusaha untuk bisa. Kalau bangsa lain bisa, bangsa Indonesia juga harus bisa. Kalau bangsa lain tidak bisa, bangsa Indonesia tetap harus berusaha untuk bisa.”

Dr. Marwah Daud Ibrahim, Ph.D

 

Pesan yang disampaikan oleh Marwah daud Ibrahim disambut gegap gempita oleh 4200-an mahasiswa baru (selanjutnya: Maba) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Materi motivasi yang disampaikan di Gedung Olahraga (GOR) Amongrogo, Jl. Kenari, Yogyakarta. Mendapat apresiasi oleh ribuan Maba dengan tepuk tangan iringan sorak sorai.

Kedatangan anggota DPR/MPR Republik Indonesia (RI) ini dalam agenda pembukaan Program Pengenalan Kampus (baca: P2K). Ia memberikan ceramah motivasi bagi Maba dengan ulasan menarik dan selaras dengan tema P2K; “Membangun Cendekiawan Muda, Kader Bangsa yang Unggul, dan Berwawasan Global”.

“Jadilah manusia yang tidak mengurus diri sendiri. Masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan kita. Agar dapat membantu masyarakat dan membuat bangsa ini unggul, terlebih dahulu kita sebagai kaum intelektual harus unggul terlebih dahulu. Keunggulan kita nantinya akan membantu masyarakat, dan keunggulan kita sebagai cermin keunggulan bangsa. UAD akan menjadikan kalian cendekiawan yang akan membawa perubahan tersebut,” papar perempuan kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, 8 November 1956.

Marwah Daud Ibrahim menambahkan, keunggulan itu sendiri tidak mungkin diraih tanpa adanya perancaan yang matang. Perencanaan matang pun belum cukup, harus dibarengi sikap yang sadar sebagai seorang hamba.

“Semua harus direncanakan dengan matang. Percayalah pada  Power of Planning. Dengan merencanakannya lebih awal, mimpi atas segala yang dicita-citakan akan mudah diraih. Ingat, semua tidak cukup tanpa adanya kesadaran sebagai seorang hamba. Kita harus selalu connect dengan pencipta. Mulai bangun pagi hingga tidur kembali, syukuri atas apa yang kita miliki; yang didengar, dilihat, dihirup, dirasakan, semata-mata karunia Allah SWT. Oleh karena itu, barengi tingkah laku dengan melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya. Ibu saya pernah berpesan, “Tuhan memberikan apa yang kamu minta. Tekadkan!”. Mulai hari ini, mari bersama kita tekadkan!” tegasnya. (IHS)

A nice entry

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem.

Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim.

Read more

FTI Datangkan Prof. Daniel Thalmann

Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan (FTI UAD) pada hari Selasa, 19 Agustus 2014 menyelenggarakan mini seminar dengan topik “Crowd Modeling and Simulation”. Acara yang berlangsung mulai pukul 16.00–17.30 WIB ini bertempat di ruang 104 kampus III UAD dan dihadiri oleh Kartika Firdausy, S.T., M.T. (dekan), Endah Sulistiawati, S.T., M.T. (wakil dekan), Tole Sutikno, S.T., M.T. (Editor in Chief Telkomnika), dosen Teknik Elektro, dosen Teknik Informatika, serta perwakilan mahasiswa. Hadir pula perwakilan dari luar UAD, yakni dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dan Universitas Mulawarman Samarinda.

FTI UAD menghadirkan Prof. Daniel Thalmann (Institute Media Innovation Nanyang Technological University Singapore) untuk mengisi mini seminar tersebut. Dalam presentasinya, Prof. Daniel membahas tentang kerumunan pemodelan dan simulasi. Kerumunan yang dimaksud adalah penelitian atau riset tentang karakter setiap orang saat berada di tempat umum. Misalnya, kerumunan orang melewati tangga atau kerumunan penonton di stadion olahraga yang membutuhkan banyak aktivitas, baik orang tua, dewasa, maupun anak-anak. Dari situ, dapat disimpulkan keamanan bagi seseorang sebelum suatu proyek akan dibangun sehingga dapat diteliti tingkat keamanan dan kekuatannya. Simulasi kerumunan ini memudahkan para perancang untuk membangun proyek berskala besar yang dapat digunakan dalam jangka panjang untuk menampung kerumunan orang dengan aman.

Prof. Daniel yang berkebangsaan Swiss tersebut menambahkan, dalam mendesain simulasi kerumunan perlu memperhatikan beberapa tahapan yang harus dipersiapkan. Di antaranya  membuat bentuk yang bervariasi, membuat gerak adaptasi otomatis, dan membuat perhatian visual. Untuk membuat bentuk yang bervariasi, tentunya harus membuat kerangka asli terlebih dahulu. Selain itu, harus menghitung kerangka baru dengan mengombinasikan aksesoris manusia seperti baju, tas, sepatu, maupun topi.

Sementara itu, untuk membuat gerak adaptasi otomatis harus dapat melakukan pembaruan animasi, seperti perencanaan gerak, perencanaan jalan, dan menghindari tabrakan dengan suatu benda saat membuat konsep arsitektur hibrid. Sedangkan untuk membuat perhatian visual, perlu adanya konsep seperti ketika manusia berjalan dengan melihat orang lain, melihat benda, dan melihat pemandangan dengan menentukan titik resolusi temporal secara tepat sesuai keadaan serta lokasi.

Seminar mini yang dipandu moderator Rusydi Umar, S.T., M.T. tersebut sangat menarik, terbukti dengan antusiasnya para peserta untuk bertanya kepada Prof. Daniel. Sebelum acara ditutup, Dekan FTI mewakili universitas memberikan kenang-kenangan kepada Prof. Daniel Thalmann dan melakukan sesi foto bersama. (Doc)

Kerja Sama Internasional: UAD Menuju World Clas University

 

(Bring UAD to the World, World to the UAD)

 

Sudah sejak lama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan berbagai kerja sama, baik kerja sama di dalam negeri maupun luar negeri. Bentuk-bentuk kerja sama dengan luar negeri di antaranya adalah Beasiswa Studi di Luar Negeri (seperti Summer Coast, Student Exchange, dsb), KKN Internasional, Pertukaran Dosen, Visiting Professor, Joint Research, Joint Seminar, dan Kerja Sama Riset.

“Menjalin kerja sama dengan luar negeri tidaklah mudah. Kami mengalami beberapa kendala di antaranya terkait pendanaan yang meningkat, keterbatasan SDM (Sumber Daya Manusia), dan bahasa. Tapi alhamdulillah, semuanya itu dapat kami atasi dengan baik,” kata Dr. H. Kasiyarno, M. Hum. selaku rektor UAD.

Lebih lanjut ia menuturkan, “Hal yang paling membahagiakan bagi kami adalah mendengar kabar bahwa alumni tidak pernah kesulitan mencari kerja ketika sudah lulus dari UAD.”

Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) yang semakin dekat, jauh-jauh hari UAD sudah mempersiapkan para lulusannya agar mampu bersaing di ranah internasional dan mempunyai wawasan global.

Program yang di selenggarakan untuk menghadapi MEA adalah dengan memberi pelatihan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, bagi para mahasiswa dan menargetkan mahasiswa lulus dengan skor TOEFL minimal 400. Di samping itu, juga dirintis beberapa program studi yang mempunyai kelas internasional dan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris.

Di kesempatan yang berbeda, Ida Puspita, S.S., M.A. selaku Kepala KUI menambahkan, “Mahasiswa Asing yang masuk di UAD tahun ini totalnya ada 192 dari beberapa negara, di antaranya Cina, Malaysia, Thailand, Hungaria, Polandia, India, Ukraina, Vietnam, Rumania,  Filipina, dan Mesir.”

“Semoga UAD tetap dapat melaksanakan fungsinya dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi dan ikut serta dalam mencerdaskan bangsa dan tanah air Indonesia,” harap Prof. Drs. Sarbiran, M. Ed., Ph.D. selaku wakil rektor IV. (MCH)

UAD Kian Melebarkan Sayapnya

Pengembangan Kampus UAD

Keberadaan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sebagai salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta semakin dipercaya oleh masyarakat. Hal itu terbukti dengan meningkatnya jumlah mahasiswa baru (Maba) yang masuk setiap tahunnya. Untuk mengimbangi itu, maka diperlukan sebuah bangunan kampus utama untuk mengembangkan UAD menjadi universitas yang berstandar internasional.

“UAD saat ini telah mempersiapkan kampus IV untuk menjadi kampus utama dengan tetap mempertahankan bangunan kampus yang sudah ada,” ujar Drs. Syafar Nasir, M.Si. selaku wakil rektor II.

Di atas tanah seluas tujuh hektar, rencananya akan di bangun Gedung Kembar dengan tinggi sepuluh lantai. Banguan inti ini akan dikelilingi oleh bangunan-bangunan lain untuk menopang aktivitas kampus, seperti aula besar, hotel, unit-unit bisnis, islamic centre, dan beberapa laboratorium untuk penelitian dosen serta mahasiswa.

Sebuah aula besar dipersiapkan untuk acara wisuda, studium general, kegiatan seminar internasional, dan disewakan untuk umum di luar kegiatan kampus. Misalnya resepsi pernikahan, pengajian umum, dan lain sebagainya.

Selain itu, juga akan dibangun sebuah hotel (residence) untuk tempat menginap. Hal ini agar memudahkan keluarga mahasiswa yang tidak mempunyai tempat tinggal di Yogyakarta ketika hendak menghadiri acara wisuda atau lainnya. Mereka dapat menginap di hotel milik UAD tersebut.

Rencana lainnya, UAD akan menyiapkan unit-unit bisnis seperti supermarket, toko baju, dan restoran untuk melengkapi fasilitas yang sudah ada. Ini dilakukan untuk memudahkan akses bagi para tamu hotel serta civitas akademika.

Dalam pengembangannya, UAD mengusung konsep Green Campus (kampus hijau). Maka dari itu, akan di bangun sebuah taman hutan kota di tengah-tengah area kampus utama untuk mendukung program go green sekaligus menjaga keseimbangan alam.

Secara keseluruhan, konsep tersebut diperkirakan selesai selama empat tahun dengan biaya total 600 miliar. Selain itu, UAD juga akan melebarkan sayapnya ke Kulonprogo dengan membangun kampus VI di sana. Alasan memilih Kulonprogo karena lokasinya yang strategis. Program pengembangan ini bekerja sama dengan STIT Muhammadiyah Kulonprogo. (MCH)

Cermin dari “IKIP” China

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen PBSI UAD; Pengajar Tamu di Guangxi University for Nationalities, Nanning, Guangxi, China

 

Tahun 2000-an, semua kampus yang berlabel “IKIP” telah bertransformasi diri menjadi universitas. Tak terkecuali, IKIP Muhammadiyah Yogyakarta yang kini berganti nama Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta. Sementara di China, kampus yang bercirikan keguruan atau pendidikan sudah sejak lama menjadi universitas. Melalui artikel ini, saya ingin berbagi sedikit informasi mengenai hal-hal tentang kampus “IKIP” di China?

Pertama, dari sekian banyak kampus di China, Anda akan sangat mudah menemukan mana kampus “IKIP” dan mana bukan kampus “IKIP”. Hal itu terletak pada ada-tidaknya kata “normal”. Di Provinsi Guangxi, ada kampus yang bernama Guangxi University dan Guangxi Normal University. Kampus yang pertama disebut merupakan kampus bukan “IKIP”, sedangkan kampus yang terakhir disebut merupakan kampus “IKIP”.

Sementara itu, di Tanah Air, kampus yang berlatar belakang IKIP dicirikan dengan nama “universitas negeri”, kecuali Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang dulunya bernama IKIP Bandung dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang dulunya bernama IKIP Singaraja. Maka, kita kenal nama Universitas Negeri Jakarta (dulu IKIP Jakarta), Universitas Negeri Padang (dulu IKIP Padang), Universitas Negeri Malang (dulu IKIP Malang), dsb.

Adanya perubahan nama institusi IKIP menjadi universitas mudah-mudahan tidak sekadar berganti nama semata. Lebih dari itu, kita berharap universitas eks IKIP dapat melakukan pengembangan keilmuan dan perbaikan mutu lulusan yang lebih optimal serta bermanfaat bagi masyarakat. Gampangnya, kalau dulu IKIP hanya menghasilkan lulusan guru, tapi saat ini universitas eks IKIP juga dapat menghasilkan lulusan ilmuwan.

 

Kampus Berbasis Provinsi

Kedua, dalam 17 provinsi dan 7 kota di China, terdapat 1-2 kampus “IKIP” negeri. Di Provinsi Henan, ada Huazhong Normal University alias Central China Normal University (CCNU). Sementara itu, di Kota Fujian, ada Fujian Normal University dan Northwest Normal University. Begitu pula di Provinsi Hunan, ada Hunan Normal University. Berarti, kampus “IKIP” di China milik pemerintah didirikan berbasis provinsi atau kota.

Berbeda halnya dengan setiap provinsi di Indonesia, yang tidak semua memiliki kampus eks IKIP. Di Pulau Jawa, ada 5 buah provinsi yang semuanya memiliki kampus eks IKIP, seperti UNJ (DKI Jakarta), UPI (Jawa Barat), Unnes (Jawa Tengah), Unesa dan UM (Jawa Timur). Di sisi lain, masih banyak provinsi kita yang tidak memiliki kampus eks IKIP. Provinsi Lampung, misalnya, tidak ada kampus Universitas Negeri Lampung (UNL).

Hemat saya, akuisisi kampus perlu ditempuh oleh pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan kampus eks IKIP berbasis provinsi seperti halnya di China. Misalnya, kampus-kampus setingkat sekolah tinggi milik yayasan swasta dilebur atau diakuisisi ke dalam satu kampus negeri. Jika perlu, kampus negeri yang memiliki FKIP harus mengikhlaskan diri agar fakultasnya itu melebur bersama-sama kampus-kampus STKIP tadi.

Ide peleburan kampus di atas memiliki kelebihan, antara lain, mendorong komitmen pemerintah daerah/provinsi untuk lebih perhatian terhadap bidang pendidikan tinggi, membantu pihak Ditjen Dikti Kemdikbud dalam memantau kinerja pihak kampus, dan yang tak kalah penting, merampingkan jumlah kampus “IKIP” yang terlalu banyak di Indonesia. Saya kira, ide peleburan kampus perlu masuk ke dalam agenda kerja Mendikbud-Baru nanti.

 

Pengembangan Keilmuan

Ketiga, kampus “IKIP” di China diarahkan untuk melakukan pengembangan keilmuan secara komprehensif dan mendalam. Sebagai contoh, di Huangzhong Normal University alias CCNU memiliki 80 program studi tingkat doktoral (PhD) dengan 65 bidang keilmuan. Bagi Anda yang ingin melanjutkan studi ke jenjang doktoral bidang pendidikan, tersedia banyak pilihan bidang keilmuan di CCNU. Ada prinsip pendidikan, kurikulum dan instruksi, hingga teknologi pendidikan.

Sementara itu, Anda yang berkecimpung di bidang bahasa-sastra, di CCNU, ada linguistik dan linguistik terapan, bahasa China, sastra China kuno, sastra China kontemporer dan modern, sastra komparatif dan sastra dunia, dan sastra rakyat China sebagai pilihan bidang keilmuannya. Tak hanya itu, CCNU juga menawarkan bidang keilmuan lainnya, seperti sosiologi, hukum konstitusi dan aturan hukum, pemerintah lokal, dan politik internasional.

Jadi, sekalipun CCNU merupakan kampus “IKIP” di China, namun pengembangan keilmuannya cukup komprehensif. Ke depan, kita berharap kampus-kampus eks IKIP di Tanah Air dapat melakukan pengembangan keilmuan secara komprehensif. Artinya, bidang pendidikan nasional yang menjadi fokus bagi kampus eks IKIP terkait erat dengan berbagai lintas disiplin ilmu, seperti humaniora, hukum, dan politik. Inilah cermin dari kampus “IKIP” di China.[]