Tahun Panas Bagi Pelajar Kelas 3

 

Agus Ria Kumara

Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Ahmad Dahlan

 

Tahun 2014 menjadi tahun yang cukup berat bagi masyarakat Indonesia, terutama dialami oleh para pelajar kelas 3 SMA/K dan sederajat. Kenapa menjadi tahun yang panas?

Siswa SMA/K dan yang sederajat akan menghadapi ritual yang harus dilalui dalam proses pencapaian karir mereka, yaitu UN. Tetapi di tahun 2014 ini menjadi hal yang berbeda dengan UN ditahun sebelumnya, akan ada ujian yang lain yang akan menghadang mereka. Ujian tersebut adalah konsentrasi belajar yang akan cukup terganggu.

Tahun ini, terutama pada Bulan Maret-April negara Indonesia semakin “memanas”. Memanas dalam arti memang karena adanya global warming sehingga cuaca yang tidak bisa diduga-duga, maupun memanas dalam kondisi politik karena akan adanya hajatan 5 tahun sekali. Tetapi apa dua hal tersebut bisa berdampak pada siswa yang sedang UN? Akan ada pengaruh besar apabila dari lingkungan sekolah maupun orang tua tidak mengantisipasi dan memberikan pendampingan yang benar.

Suasana kelas dan cuaca yang bisa dikatakan tidak biasa akan mengganggu siswa baik secara fisik maupun psikis, terlihat dari siswa yang akan mudah kelelahan dan kepanasan akibat cuaca yang  memang tidak biasa, yang berdampak pada semangat belajar bisa menurun. Panasnya suhu politik juga berpengaruh dalam konsentrasi belajar siswa, hal tersebut terlihat pada kebisingan suara kendaraan yang digunakan oleh para peserta kampanye yang dimulai pada awal Maret kemarin. Godaan dari tim sukses para caleg dengan adanya money politic ketika masa kampanye untuk meraup massa akan membuat siswa tergoda membolos apabila tidak adanya pengertian yang baik pada siswa tersebut.Selain itu, hiburan televisi semakin banyak menampilkan tontonan-tontonan yang membuat anak semakin betah di depannya, Indonesian Idol, Stand Up Comedy, Liga Champions , YKS, dll.

 

Bagaimana peran Guru dan Orang Tua Menghadapi Masa Krisis ini?

Perlu kiranya guru dan orang tua berbaik sangka, bersikap positif dan berperilaku baik. Segala hal yang dikemas dengan negatif, pasti akan mengedepankan "pesan" negatifnya lebih dahulu sebelum inti pesan positifnya tertangkap. Anak akan mudah tergoyahkan rasa percaya dirinya, bila mendapati bahwa prestasinya tak sebaik anak lainnnya. Maka, jangan menakut-nakuti anak.

Selain itu juga perlu Memotivasi, mendampingi dan mendukung anak. Tugas orang tua dan guru adalah mempersiapkan anak menghadapi masa depannya dengan memotivasi, mendampingi dan mendukung anak. Penting kenalkan anak pada cara belajar efektif. Berdiskusi mengenai kaitan pelajaran dengan kehidupan nyata akan membuat anak lebih paham tentang apa yang didapat di sekolah. Biasakan untuk membuat diri Anda berpikir, bersikap, berperilaku positif. Dengan begitu energi yang memancar dari diri Anda juga terserap oleh anak.

Jangan lupa Berikan anak haknya. Anak tetap butuh bermain, bergembira bersama teman sebaya. Orang tua perlu memberikan nasihat dan pendampinga, bukan larangan.

Antusiasme dari orang tua dan guru akan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak dalam mengeksplorasi dirinya. Dengan begitu suasana yang panas dan memanas akan terasa sejuk dengan sikap orang tua dan guru yang menyejukkan.Semoga.

Plagiarisme di Dunia Akademik

 

Triantoro  Safaria, S Psi. M.Si. PhD. Psikolog

Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

Yogyakarta

 

Plagiarism merupakan tindakan membajak ide, kalimat, dan tulisan orang lain yang kemudian diakui sebagai  ide, kalimat dan tulisan dirinya sendiri, sehingga tidak  merujuk sumber asli dari ide, dan tulisan tersebut. Plagiarisme ini disamakan sebagai tindakan ketidakjujuran akademik, dan pelangaran etika moral seorang ilmuwan. Asal katanya berasal dari Bahasa latin yaitu plagiarius yang secara literal diartikan sebagai penculikan atau pencurian. Plagiarisme dapat juga dikatakan sebagai tindakan pencurian ide orang lain. Penggunaan kata plagiarism ini dikenal pertama kali oleh Ben Johson pada tahun 1901, dan diadaptasi ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1920 (Wikipedia.org).

Kasus plagiarism ini banyak terjadi di Indonesia, yang serta merta mendapatkan sorotan tajam dari komunitas akademik dan masyarakat umum. Beberapa kasus yang menonjol antara lain penjiblakan sebuah artikel yang diterbitkan di IEEE, yang dilakukan oleh seorang Dr. lulusan sebuah PTN di Jawa barat. Kasus lainnya yaitu tulisan plagiarism di Koran The Jakarta Post yang dilakukan oleh seorang Professor sebuah PTS di Jawa Barat. Dugaan plagiarism yang dilakukan oleh seorang Rektor PTS  Bandung, dan  kekilafan sebuah tulisan di harian Kompas yang dilakukan oleh seorang Dosen PTN di Yogyakarta. Sementara kasus dugaan plagiarism baru-baru ini muncul dari seorang peneliti dari  Japan Riken Science Institute yang disorot atas dua artikelnya tentang stem cells di majalah Nature.

Mengapa kasus plagiarism ini dapat terjadi di kalangan akademisi? Pada hal seorang akademisi lebih memahami seperti apa plagiarism ini. Mereka juga memahami bahwa plagiarism merupakan tindakan tidak jujur, melanggar integritas seorang ilmuwan, dan mencederai filosofi ilmu pengetahuan itu sendiri. Kebanyakan kasus plagiarisme dilakukan secara sadar, dan sangat jarang yang terjadi karena kelalaian dalam mensitasi.

Ada dua faktor yang mungkin menjadi penyebab terjadinya tindakan plagiarism di kalangan akademisi yang penulis duga. Pertama, keinginan serba instan, tidak mau bersusah payah dari sang pelaku, dalam membuat sebuah tulisan. Pelaku  malas untuk menguras otaknya dalam menghasilkan sebuah tulisan. Ia lebih suka melakukan copy and paste,  mencomot beberapa paragraph dari tulisan seseorang, dicampur dengan copy paste  dari penulis lainnya, untuk kemudian digabungkan sehingga menjadi sebuah tulisan. Kedua, rasa malas untuk menguras otak, disebabkan oleh rendahnya kemampuan sang pelaku dalam membuat karya ilmiah yang bermutu. Hal ini kemudian menyebabkan mereka mencari jalan pintas untuk memenuhi kewajiban publikasi sebagai salah satu kewajiban profesi seorang akademisi. Keinginan untuk mencari jalan pintas dan rendahnya kemampuan menulis dan  berargumentasi secara ilmiah menjadi faktor penentu terjadinya plagiarism di kalangan akademisi.

Unutk itu, plagiarism perlu dimusnahkan. Beberapa solusi untuk mencegah terjadinya plagiarism ini antara lain, pertama, menumbuhkan semangat  berpikir secara mandiri di kalangan akademisi; kedua, penanaman nilai-nilai orisinalitas; ketiga, peningkatan kemampuan berpikir dan menulis secara ilmiah; dan keempat, penerapan punishment yang menimbulkan efek jera bagi pelaku plagiarism. Keempat hal di atas dapat dilakukan secara berkesinambungan untuk menurunkan kasus plagiarism di dunia akademik di Indonesia. Bagaimana pun plagiarisme merupakan penyakit kronis yang perlu segera diobati, sehingga tidak semakin parah dan membudaya di kalangan akademisi. Hilangnya plagiarism di dunia akademik di Indonesia, akan menjadi pertanda pencapaian puncak kegemilangan pengembangan ilmu pengetahuan di bumi pertiwi ini. Hal ini merupakan tugas bersama semua akademisi untuk menghapus plagiarism dalam kehidupan akademik di Indonesia.

 

Fanatisme dalam Pemilu 2014

 

Oleh

Wajiran, S.S., M.A.

(Dosen FSBK UAD & Mahasiswa PhD University of Tasmania, Australia)

 

Menjelang pemilihan presiden 9 Juli 2014, ketegangan antar kelompok masyarakat semakin menguat. Fanatisme dukungan kepada masing-masing calon mengindikasikan semua memiliki kekuatan potensial. Kondisi kritis ini jika tidak diantisipasi akan menimbulkan gejolak yang merugikan masyarakat itu sendiri. Fanatisme yang berlebihan terhadap calon yang diunggulkan akan menimbulkan dampak negatif jika calon yang memiliki banyak kelompok fanatik mengalami kekalahan.

Pengertian Fanatisme adalah sebuah faham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Winston Churchill menyatakan bahwa seseorang yang fanatis tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan mengubah haluannya. Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan (Wikipedia).

Sikap fanatis ini pada umumnya terjadi pada masyarakat yang berkaitan dengan etnis, negara (nasionalisme), agama, ideologi dan olahraga.  Namun dalam kaitannya dengan pemilihan presiden kali ini, fanatisme bisa dikaitkan dengan tokoh perseorangan. Hal ini disebabkan oleh adanya kesamaan visi, misi, atau bisa juga karena kesamaan latar belakang suku, agama, atau ideologi yang bersangkutan. Sehingga representasi seorang calon presiden bisa memiliki pendukung fanatik yang sangat potensial.

Fanatisme pada agama adalah sebuah keniscayaan. Penganut agama memang harus bersifat fanatik karena agama adalah kebenaran mutlak (dari Tuhan). Tanpa fanatisme kepercayaan (keimanan) seseorang pasti diragukan. Tetapi fanatisme pada suku/etnis, negara, atau lebih konyol lagi fanatisme dalam soal olah raga adalah sesuatu yang masih perlu dikoreksi. Pasalnya fanatisme pada negara memiliki celah kesalahan. Bisa saja negara kita memiliki kelemahan atau kekurangan. Maka dari itu, kita harus tetap mendengar dan membandingkan dengan negara orang lain sebagai bagian dari proses pendewasaan. Demikian juga dengan bidang-bidang lain selain agama. Seperti oleh raga misalnya, bisa saja klub yang kita dukung memiliki kekurangan dan kelemahan dan kita pun harus mengakui kekurangan dan kelemahan itu.

Lalu bagaimana dengan sikap fanatis kita terhadap seorang calon presiden? Jawabnya adalah kita boleh saja mengunggulkan tokoh yang kita pilih. Tetapi kita tidak boleh bersifat fanatik membabituta. Pasalnya setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Setiap orang memiliki potensi benar dan potensi salah. Kita harus bersikap proporsional di dalam membela dan mendukung calon yang kita unggulkan. Kalau memang calon yang kita unggulkan ternyata memiliki kelemahan ya harus kita akui dan tidak perlu membela mati-matian.

Demikian juga dengan tokoh atau calon yang tidak kita pilih tentu juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Siapapun calon presiden yang sudah masuk dalam kontestasi bursa calon presiden adalah putra terbaik bangsa yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Mereka sudah jelas memiliki potensi untuk memimpin negeri ini. Itu sebabnya siapapun yang nantinya terpilih harus kita akui kepempimpinannya, harus kita ikuti perintah-perintahnya.

Sebagai seorang muslim, kita harus bermasyarakat seperti dalam sholat berjamaah. Siapapun yang sudah disepakati (terpilih) menjadi imam maka makmum harus mengikuti segala perintah yang disampaikan oleh sang imam (meskipun mungkin imam yang sedang memimpin sholat bukan yang kita sukai). Di sisi lain, seorang makmum tidak bisa membabibuta mengikuti imam. Jika imam melakukan kesalahan atau pelanggaran, kewajiban makmum adalah mengingatkan. Imam yang baik pasti akan mendengarkan kritik dan saran dari makmumnya. Itu sebabnya, jika imam tidak mengindahkan peringatan dan kritik dari makmum, maka sudah saatnya seorang imam tidak ditunjuk kembali menjadi imam di waktu yang akan datang.

Demikianlah apa yang seharusnya kita lakukan. Sebagai masyarakat yang mayoritas muslim jangan sampai tersulut oleh isu-isu yang tidak kondusif bagi persaudaraan. Pemilihan presiden jangan sampai memecahbelah persaudaraan sesama muslim. Jangan terlalu fanatik kepada salah satu calon yang anda unggulkan dalam kontestasi ini. Fanatisme berlebihan hanya akan melahirkan kecurigaan dan melahirkan permusuhan bahkan terhadap saudara sendiri dan keluarga sendiri.

Marilah kita dukung siapapun yang nanti terpilih dalam pilpres kali ini. Kita tidak perlu melakukan tindakan destruktif jika terhanyata calon yang kita pilih kalah. Semoga mereka nanti yang terpilih benar-benar orang yang bersedia berkorban dan mau memperjuangkan kepentingan rakyat negeri ini. Amin.

Yogyakarta, 006/07/2014

Dr. Ishadi Soetopo Kartosapoetro, M.Sc: SDM UAD Sangat Potensial untuk Lebih Berkembang

Wisuda periode Agustus 2014 Univeristas Ahmad Dahlan (UAD) yang berlangsung di JEC dihadiri oleh Dr. Ishadi Soetopo Kartosapoetro, M.Sc. Di hadapan 697 wisudawan dan orangtua wali, ia berpidato ilmiah tentang sumber daya manusia (SDM) UAD yang sangat potensial untuk berkembang.

“Generasi muda Indonesia dimitoskan tidak memiliki kemampuan menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri. Malas, terbelakang, dan tidak mampu menguasai teknologi. Tetapi, UAD menjawab mitos tersebut,” terangnya dalam pidato di JEC Sabtu, (16/8/2014).

Hal itu dapat dilihat dari berbagai prestasi mahasiswa UAD, tentu dengan bimbingan dosen. SDM UAD memiliki kompetensi sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Kemampuan kewirausahaan yang harus dilandasi dengan keuletan, tidak malas, tidak mengambil jalan pintas, tidak mudah menyerah, dan selalu berinovasi terhadap perkembangan.

Menurut Direktur Utama Trans TV, Ishadi, UAD telah memiliki persyaratan dasar untuk mengembangkan diri dengan bangsa-bangsa lain. “UAD bertekad terus meningkatkan pelayanan akademik dan non-akademik, menambah koleksi buku perpustakaan, serta memperbaiki fasilitas kampus,” janji Dr. Kasiyarno., M.Hum. selaku Rektor UAD dalam sambutannya.

Kasiyarno menegaskan bahwa mahasiswa UAD mampu menjadi yang terbaik dalam persaingan kompetitif antarperguruan tinggi swasta. Tercatat, sebanyak 206 prestasi telah diciptakan oleh mahasiswa UAD pada 2013−2014, baik nasional maupun regional. “Dalam waktu dekat, Tim Debat UAD akan berangkat ke Universitas Batam (UNIBA) sebagai finalis, tiga mahasiswa sebagai finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), dan tiga finalis Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas),” ucapnya. (Sbwh)

Raih Prestasi dengan Usaha Keras dan Fokus

“Jangan pernah takut akan gagal karena kegagalan tidak pernah takut menggagalkan kita.” Begitulah ungkap Dinny Marwati, mahasiswi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi, peraih cumluade dengan IPK 3,94.

Mahasiswi yang akrab disapa Dinny ini mengaku, ia tidak pernah menyerah untuk mewujudkan mimpinya. Salah satu untuk meraih itu adalah dengan fokus dalam melakukan apa pun.

Perempuan yang hobi traveling ini lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya yang merupakan tamatan SD bekerja sebagai tukang kayu, dan sang ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga biasa. Namun hal itu tidak menyurutkan tekad Dinny untuk meraih nilai tinggi di bidang akademis dan meraih gelar sarjana.

“Selama di UAD, saya rasakan lebih terlatih untuk hidup mandiri. Termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi karena dosen-dosennya yang luar biasa dan sangat menginspirasi, serta fasilitasnya yang lengkap,” kenang perempuan berusia 22 tahun ini. Ia mengaku, memilih kuliah di UAD adalah keputusan yang benar. Terbukti, saat ini ia sudah mendapat tawaran bekerja di BRI dan BPR.

Di tempat terpisah, Nooridha Febriyanti yang merupakan mahasiswi dengan IPK 3,96 mengungkapkan, UAD merupakan kampus yang sudah modern. “Segala sesuatu dilakukan dengan teknologi, misalnya sistem pembayaran yang mudah, dan fasilitas yang lengkap,” kata mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) ini. Selain itu, para dosen UAD sangat hebat dan menginspirasi. Tidak salah jika UAD banyak melahirkan mahasiswa berprestasi.

Tercatat, sudah 206 prestasi mahasiswa UAD pada 2013−2014 ini, baik nasional maupun regional. Dalam waktu dekat, Tim Debat UAD akan berangkat ke Universitas Batam (UNIBA) sebagai finalis, tiga mahasiswa sebagai finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), dan tiga mahasiswa sebagai finalis Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas). (MCH)

Nooridha Febriyanti Raih Cumluade dengan Doa Restu Orangtua

Wisudawan Terbaik UAD

Nooridha Febriyanti tercatat sebagai mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96 dari 697 wisudawan pada wisuda periode 16 Agustus 2014 di Jogja Expo Center (JEC).

Mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlah (IKM UAD) ini dikenal sebagai mahasiswa yang aktif. Berbagai organisasi kampus seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Senat Mahasiswa, tidak menghentikan perempuan kelahiran Buntok, Kalimantan Tengah, ini untuk meraih prestasi.

“Kita harus berusaha lebih keras dari rata-rata orang lain dan jangan lupa untuk minta doa restu dari orangtua,” kata mahasiswi kelahiran 21 tahun ini saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Jum’at (15/08).

Nooridha juga berpesan untuk teman-teman dan adik-adiknya yang belum lulus, “Lulusan yang sukses tidak hanya di lihat dari tingginya nilai IPK. Nilai IPK yang baik hanyalah sebuah bonus dari usaha belajar kita. Lebih dari itu, lulusan yang sukses adalah yang punya kemampuan softskill, hardskill, kemampuan sosialisasi yang baik, dan mampu mengaplikasikan ilmu yang ia punya.”

Selain Nooridha Febriyanti, cumlaude kedua diraih oleh Dinny Marwati dengan IPK 3,94. Mahasiswi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi ini mengaku bahwa fokus dalam mengerjakan apa pun menjadi kunci sebuah kesuksesan.(MCH)

Perlunya Memahami Jurusan yang Akan Dipilih

Sule Subaweh

(Pemerhati Dunia Dendidikan)

Karyawana UAD

 

“Orang memilih jurusan dengan mengimfestasikan diri agar kelak sukses” Barangkali ada benarnya kalimat yang dilontarkan oleh Bandung Mawardi dalam bukunya (Baca: Pendidikan Tokoh, Makna, Peristiwa). Banyak orang tua dan anak yang baru lulus SMA/sederajad (selanjutnya calon mahasiswa) terkecoh dalam memilih jurusan, bahkan dianggap remehtemeh. Siswa yang baru lulus Sekolah Menengah Atas cendrung tidak memperhatikan pentingnya mengambil jurusan yang akan dijalani saat kuliah hingga empat tahun.

Ada beberapa kecendrungan dalam memilih jurusan. Biasanya calon mahasiswa hanya mengikuti apa yang diinginkan orang tua. Benar adanya bahwa orang tua tidak akan menjerumuskan anak ke dalam jurang yang kelam. Tetapi bentuk pemaksaan tanpa memperhitungkan kehendak anak adalah bagian dari perampasan hak, yang menjurus pada kejahatan batin. Biasanya baik orang tua atau calon mahasiswa akan memilih jurusan yang mempunyai prospek yang menjanjikan, seperti jurusan yang belum ada dan jurusan yang diperlukan di daerahnya atau jurusan yang mempunyai gaji tinggi nantinya.

Ada juga calon mahasiswa yang memilih jurusan karena dipandang gampang, tetapi setelah masuk dan menjadi mahasiswa tidak sedikit yang mengalami shock karena tidak segampang yang dipikirakan. Selanjutnya keluhan demi keluhan dari benaknya muncul, dan pilihan keluar atau pindah jurusan dianggap sebagai pilihan yang paling baik.

Yang paling menyedihkan, banyak juga calon mahasiswa memilih jurusan karena ikut-ikutan teman. Atas dasar kesetiakawanan dan rasa tidak ingin kehilangan, akhirnya tanpa pikir panjang mereka memilih untuk selalu bersama dalam satu kelas (jurusan).

Tentu saja memilih jurusan bukan seperti memilih buku yang disuruh dosen atau guru untuk dipelajari. Memilih jurusan bukan suatu hal yang harus dipaksa dan mengabaikan pertimbangan pertimbangan. Calon mahasiswa harus mempertimbangakan dan perhatikan dalam menentukan jurusan apa yang akan dipilih.

Ada banyak hal yang perluh diperhatikan untuk dipertimbangkan dalam memilih jurusan, salah satunya memilih jurusan atas dasar suka.

Suka atau rasa suka akan memacu calon mahasiswa setelah menjadi mahasiswa untuk mendalami keilmuannya dengan serius. Banyaknya ilmu baru yang tidak disangka akan hadir dalam perkuliahan tidak menjadi beban atau stres. Tapi menjadikannya semakin penasaran sehingga memacu rasa ingin tahu yang tinggi. Bagi orang yang mengawali sesuatu dengan rasa suka, segala sesuatunya akan dilakukan dengan santai dan bahagia. Jika sesuatu dilakukan dengan senang apa yang paling berat baginya selain ingin menunjukkan bahwa dirinya perlu dipertimbangka.

Banyak orang yang lupa bahkan lalai pada hal sederhana. Sehingga, dalam mengambil keputusan tidak mengunakan pertimbangan akan apa yang terjadi selanjut. Kuliah bukan hal yang gampang atau sulit. Tetapi tingkat memahami diri akan menjadikan sesuatu yang sulit menjadi gampang, sesuatu yang gampang menjadi sulit. Begitu.

Kanal Televisi Swasta, Milik Siapa?

Oleh Rendra Widyatama, SIP., M.Si

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

 

Bila Anda amati siaran televisi swasta nasional kita beberapa waktu terakhir, tentu akan sepakat bahwa siaran televisi tersebut terasa makin turun kualitasnya. Untuk stasiun televisi yang mengklaim diri sebagai saluran hiburan, seolah makin asal saja tayangannya. Kesan yang mengemuka adalah, beragam stasiun televisi asal membuat penonton tertawa, namun dari tayangan penuh kekonyolan.

Sementara itu, saluran yang mengkhususkan diri pada berita, terasa banyak mengeploitasi masalah tertentu secara berulang. Apalagi, saat ini Indonesia sedang banyak musibah, mulai dari banjir di beberapa daerah, tanah longsor, gunung meletus, kecelakaan yang menyorot pehatian publik, disamping masalah korupsi yang tiada habis. Kesannya, tidak ada hal baik yang terjadi di negeri ini. Membuat perasaan rendah diri sebagai anak bangsa makin bertambah.

Dari kecenderungan itu, muncul pertanyaan menggelitik di benak saya. Sebenarnya, apakah spectrum gelombang siaran dapat dikuasai secara langgeng? Bila para pengelola siaran televisi tersebut tidak mampu lagi menyuguhkan siaran-siaran berkualitas, mengapa ijin siaran tidak dicabut saja?

 

Aturan UU

Menurut UU nomor 23 Tg 2012 tentang Penyiaran, disebutkan dalam pasal 1 bahwa izin penyelenggaraan penyiaran adalah hak yang diberikan oleh negara kepada lembaga penyiaran. Artinya, kanal televisi tersebut sejatinya adalah milik negara. Kanal siaran bukan hak sekelompok orang yang terus menerus diperpanjang, apalagi diwariskan turun temurun. Sebagai pemilik, negara dapat mengambil kembali kanal siaran yang dipinjamkannya pada lembaga penyiaran. Tentu, pertanyaan selanjutnya adalah kapan dan apa alasan negara mengambil kembali kanal siaran tersebut?

Pada pasal 4 dalam UU ini, diatur bahwa salah satu fungsi siaran adalah memberikan informasi, pendidikan, dan hiburan yang sehat. Ia juga harus memiliki tujuan membina dan mewujudkan watak dan jati diri bangsa yang beriman, bertakwa, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, siaran yang asal-asalan, sekedar membangkitkan tawa dari sajian kekonyolan, dapat dikategorikan tak mendidik, serta tak mewujudkan watak jati diri bangsa. Ketentuan ini juga dikuatkan dalam pasal 5 bahwa penyiaran harus menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa.

Pentingnya isi siaran yang berkualitas juga dituliskan dalam pasal 36, dengan mencatumkan bawha isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.

Kiranya pasal 4, 5, dan 36 cukup jelas menjadi dasar bagi negara untuk tidak ragu mencabut dan atau tidak memperpanjang ijin siaran yang tak lagi sanggup memberi manfaat positif bagi masyarakat. Perijinan yang diatur dalam pasal 33 juga tidak menyiratkan perpanjangan otomatis, melainkan dengan syarat tertentu. Yaitu ijin dan perpanjangan, baru diberikan setelah lembaga peyiaran memperoleh masukan, evaluasi; serta rekomendasi kelayakan penyelenggaraan penyiaran. Pasal 34 juga menyebut, ijin siaran bisa dicabut. Lalu, dalam pasal 55 juga dituliskan dasar yang kuat bagi pencabutan dan penghentian perpanjangan ijin.

Menurut UU Penyiaran, masa berlaku ijin siaran televisi memang 10 tahun. Sebuah kurun waktu yang cukup lama. Namun pertanyaannya, apakah layak lembaga penyiaran yang tak lagi mampu memberi tayangan sehat terus diberi kesempatan menyelenggarakan siaran, padahal di luar sana, ada banyak pihak yang bisa menggantikannya secara lebih baik?

Molekul Ahmad Dahlan, Obat Menjanjikan

 

Belimbing manis, adalah tanaman yang dikenal unik dan eksotik karena irisan buahnya berbentuk bintang. Sebab itu, tanaman ini disebut dengan starfruit dalam bahasa Inggris. Belimbing manis banyak tumbuh di negara-negara tropis, termasuk di Indonesia. Sejak lama, beberapa bagian dari tanaman ini telah dimanfaatkan untuk mengobati diare, cacingan, demam, mual muntah, gatal-gatal, pengencer dahak, sakit kepala, dan insomnia.

Penemuan Molekul Ahmad Dahlan

            Penelitian yang dilakukan pada bagian akar belimbing manis, berhasil menemukan zat berkhasiat turunan benzoquinon yang disebut Molekul Ahmad Dahlan (Molad). Nama ini diambil dari nama tokoh pendiri Muhammadiyah, Gerakan Islam Pembaharuan terbesar di Indonesia, yaitu KH. Ahmad Dahlan. Penemuan molekul baru ini tidak lepas dari studi literatur sebelumnya dalam buku Materia Medica China yang menyebutkan kemanfaatan akar belimbing manis.

Melalui serangkaian proses pemisahan bertingkat menggunakan serbuk silika, diperoleh Molekul Ahmad Dahlan pada dasar gelas kaca sebagai endapan kristal, berwarna kuning dan tidak larut dalam air. Molad ini memiliki arti penting bagi dunia kesehatan, mengingat uji laboratorium menunjukkan khasiatnya sebagai antidiabetes, antihiperlipidemia, antioksidan dan antiradang. Berbagai teknologi molekuler digunakan untuk menentukan gen yang berperan menimbulkan khasiat.

 

Molekul Ahmad Dahlan sebagai kandidat obat baru

Dalam majalah ilmiah European Journal of Medicinal Chemistry disebutkan, bahan alam yang mengandung komponen benzoquinon dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan, antiradang dan antikanker. Lebih lanjut, hasil penelitian lain membuktikan khasiatnya melawan kanker payudara, kanker hati, kanker leukimia dan sebagai anti-infeksi terhadap mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Akan tetapi, benzoquinon ternyata bersifat menghambat kesuburan (infertilitas).

Molekul Ahmad Dahlan (Molad) sebagai turunan benzoquinon berpeluang dikembangkan menjadi kandidat obat baru untuk penyakit kanker. Penelitian molad terkini membuktikan, zat ini mampu meningkatkan jumlah gen PPAR-gamma, yaitu gen yang bisa menekan pertumbuhan sel-sel kanker dengan cara menghambat enzim lipoksigenase. Enzim ini terdapat dalam jumlah melimpah pada sel-sel kanker dan dapat memicu timbulnya reaksi radang.

Penelitian lebih lanjut dilakukan dengan melibatkan kerjasama antara Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Groningen University, Belanda. Kerja sama penelitian ini merupakan bentuk komitmen UAD menuju Research University kelas Dunia, dengan slogannya,“Bring UAD to the world and bring the world to UAD”. Hal ini agar kualitas penelitian UAD dapat diakui dan setara dengan negara-negara maju.

 

Kintoko, S.F., M.Sc., Apt., Pakar Penemuan Obat, Fakultas Farmasi UAD dan Kandidat Doktor di Guangxi Medical University, China.

 

Memanusiakan Pasien

Oleh : Ahmad Ahid Mudayana,SKM.,MPH

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta 

 

Perlakuan yang diberikan oleh petugas kesehatan terhadap pasien masih saja mengundang permasalahan. Padahal segala peraturan perundang-undangan yang ada sudah jelas mengatakan bahwa tidak ada pelayanan yang diskriminatif terhadap semua pasien. Setiap petugas kesehatan wajib mendahulukan keselamatan pasien dibanding aspek yang lain seperti administrasi. Sampai kapan tindakan diskriminatif dan bahkan ada yang menjurus pada tindakan kriminal akan berakhir. Peraturan yang ada saat ini tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Terlihat dari masih adanya kasus yang merugikan pasien baik secara materi maupun fisik. Seperti kasus yang menimpa seorang pasien lanjut usia di rumah sakit provinsi Lampung. Pasien tersebut dibuang dipinggir jalan oleh beberapa oknum petugas rumah sakit dengan menggunakan mobil ambulans milik rumah sakit tersebut. Pada akhirnya pasien tersebut meninggal dunia. Ini menjadi bukti bahwa masih ada kesenjangan yang besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Fenomena seperti ini seperti halnya fenomena gunung es yang harus segera diselesaikan apabila tidak ingin membahayakan dunia pelayanan kesehatan di Indonesia.

Berlakunya Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan seharusnya bisa menjadi pintu gerbang untuk memperbaiki pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia. Hanya saja, masih sangat jauh dari harapan, mengingat adanya permasalahan dalam pelaksanaan program BPJS Kesehatan. Di antaranya belum semua rumah sakit terutama swasta yang mau melayani pasien paserta BPJS Kesehatan seperti yang dilakukan oleh rumah sakit swasta se-Jabodetabek. Perkembangan dunia pelayanan kesehatan yang pesat menjadi salah satu pemicu terjadinya permasalahan saat ini. Orientasi pelayanan kesehatan di rumah sakit saat ini tidak hanya murni untuk kepentingan sosial. Tetapi, rumah sakit juga sudah berorientasi pada kegiatan bisnis. Tentu ini akan sangat menyulitkan bagi masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi. Meskipun mereka terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, akan tetapi menurut perhitungan bisnis maka rumah sakit akan mengalami kerugian dengan sistem yang saat ini diterapkan. Wajar apabila masih ada rumah sakit yang enggan untuk melayani pasien BPJS Kesehatan.

Terlepas dari permasalahan ini, seharusnya petugas rumah sakit termasuk petugas kesehatan tetap harus mengutamakan pelayanan yang bermutu. Pelayanan bermutu hanya bisa dicapai dengan profesionalisme yang baik serta pelayanan yang anti diskriminasi. Profesionalisme menjadi salah satu aspek penting dalam kode etik profesi kesehatan. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan derajat ilmu pengetahuan yang dimiliki tetapi juga tingkat kepedulian terhadap pasien. Pelayanan tanpa diskriminasi di rumah sakit saat ini seolah-olah menjadi sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Di sisi lain, pasien juga memiliki hak-hak yang harus dipenuhi oleh semua petugas rumah sakit. Termasuk hak untuk mendapatkan pelayanan tanpa diskriminasi. Pelayanan tanpa diskriminasi bisa dilakukan apabila kita menempatkan pasien pada derajat tertinggi.

Permasalahan yang menimpa pasien saat ini juga hampir sama dengan permasalahan masyarakat pada umumnya. Rasa saling menghargai antar sesama umat manusia semakin berkurang dimasa sekarang ini. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya perselisihan-perselisihan antar masyarakat menjadi buktinya. Melihat kondisi yang seperti itu dimasyarakat saat ini maka apa yang disampaikan oleh Kuntowijoyo memang benar adanyanya. Kuntowijoyo dalam karyanya menyampaikan bahwa manusia itu harus dimanusiakan. Termasuk memanusiakan pasien yang ada di rumah sakit. Pasien sebagai manusia juga harus dijunjung derajatnya bukan sebaliknya. Sudah diatur secara jelas dalam undang-undang bahwa hak setiap warga negara mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang merata tanpa diskriminasi. Harkat martabat manusia meski tetap dijunjung tinggi meskipun dalam kondisi yang tidak sehat.

Kita sebagai mahluk ciptaan Allah SWT juga diperintahkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan kesabaran. Sudah jelas dalam kondisi apapun kita tetap harus menolong pasien meski keadaan begitu berat karena disitulah kesabaran kita diuji. Sebagai petugas kesehatan, menolong pasien dalam keadaan apapun juga merupakan ujian kesabaran dalam menjalankan kewajibannya. Janganlah kita menjadi segolongan umat yang merugi karena tidak mau saling tolong menolong. Apapun alasannya, keselamatan pasien menjadi hal utama yang harus didahulukan untuk menjaga pelayanan kesehatan yang bermutu. Siapapun ketika menjadi pasien harus tetap dilayani secara professional dengan mengedepankan rasa empati, rasa saling menghormati. Bukan sebagai objek yang boleh diperlakukan apa saja. Itulah salah satu cara terbaik untuk memanusiakan pasien. Maka kasus seperti yang disebutkan diatas tidak akan terulang kembali.