PBSI: Menjaga Silaturahim dalam Temu Alumni

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) mengikat alumninya dnegan Temu Alumni Taggal 30-31 Maret 2014. Acara yang berlangsung  di Kampus 2 jalan Pramuka Yogyakarta dan Gunung Api Purba Gunungkidul ini tidak hanya hanya menawarkan pertemua saja, tapi juga diadakan pelatihan bagi Reuni.

Selain itu, pada kesempatan tersebut juga dibentuk Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PBSI. Menurut Suliman selaku ketua pelaksan, IKA tersebut yang nantinya menjadi penitia pelaksanaan kegiatan alumni. Selain pelaksanaan Alumni, IKA juga memilah kooordinator wilayah dan perangkatan untuk memantau dan menjaring alumni yang tersebar di penjuru Indonesia.

“Tujuan utamanya adalah silaturahmi, berbagi ilmu dan berbagi pengalaman antara yang baru lulus dengan yang sudah lama. Adanya silaturahmi, diharapkan ikatan kekeluargaan tetap terjaga dan dapat saling menyalurkan informasi” terang Suliman.

Lebih lanjut Suliman menjelaskan, untuk menjaga silaturahmi, dia dan pihak kaprodi sudah menyedian wedsite dan Grub Facebook. Di situ akan disebar informasi mengenai perkembangan PBSI dan UAD.

Acara yang di Akhiri di Gunung Api Purba Gunungkidul tersebut dikuti 43 peserta dari berbagai peserta. Peserta alumni ada dari Sumbawa, Kalimantan, Ciamis, Lampung, Yogyakarta dan banyak lagi. Eva Puspita Dewi berharap Temu Alumni ini bisa dilaksanakan setahun sekali. Di tempat terpisah Kaprodi PBSI Triwati Rahayu, pertemuan alumni akan diadakan sesuai kebutuhan, tidak menutup kemungkinan setiap tahun sekali atau dua tahun sekali penyelenggaraannya.  (Doc)

GURU DAN DOSEN SEBAGAI HIPNOTERAPIS

 

Oleh : Rendra Widyatama, SIP., M.Si

Staf Pengajar pada Prodi Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

 

Beberapa waktu terakhir ini, media televisi kita diramaikan dengan pertunjukkan hipnotis. Dalam tontonan itu, seseorang ditanamkan pesan tertentu oleh penghipnotis sehingga orang tersebut melakukan peran imajinatif sesuai dengan yang dikehendaki penghipnotis. Misalnya seseorang dihipnotis untuk memerankan tokoh orang lain yang sangat berbeda dengan karakter dirinya sendiri, melakukan tindakan yang aneh-aneh, dan lain-lain. Keadaan hipnotis membuat seseorang mau dan mampu melakukan apa saja di luar kehendaknya, bahkan melebihi kemampuan dan keberaniannya. Seseorang yang terhipnotis akan meyakini informasi yang diterima tanpa berpikir panjang. Hipnotis untuk tujuan hiburan dikenal sebagai stage hipnosis.

Hipnoteraphy

Hipnotis tidak hanya berguna untuk hiburan, melainkan untuk sesuatu yang lebih positif, misalnya terapi. Hipnosis untuk terapi disebut hipnoterapi. Hipnotis ini digunakan untuk maksud-maksud positif, merekayasa agar orang yang dihipnotis meninggalkan persepsi, sikap, dan perilaku buruk dan berganti dengan persepsi, sikap, dan perilaku yang lebih positif. Misalnya menghentikan kebiasaan merokok, membuang kegugupan saat berbicara di depan public, menghilangkan phobia pada sesuatu, dan sebagainya.

Jika subjek merespon sugesti hipnotis, pertanda hipnosis tersebut berhasil. Umumnya, hipnotis akan berhasil bila sugesti tersebut masuk ke dalam alam bawah sadar seseorang.

Penananaman sugesti dalam hipnosis selalu melalui proses induksi dimana sugesti ditanamkan ke dalam alam bawah sadar seseorang, sehingga orang tersebut akan mengubah persepsi, sensasi, emosi, pikiran atau tingkah laku sesuai dengan pesan yang disugestikan penghipnotis.

Sebenarnya, semua orang dapat terhipnotis. Manakala pesan dinduksi, maka ia akan menjadi bentuk hipnotis. Penyampaian induksi person tersebut dapat terjadi dalam berbagai keadaan, baik subyek dalam keadaan sadar maupun tidak sadar serta dapat terjadi sewaktu-waktu.

Di sisi lain, semua orang juga dapat melakukan hipnotis, meski tidak pernah mempelajarinya secara khusus. Manakala pesan diinduksi seseorang, maka kita telah berhasil menghipnotis. Tidak perduli apakah penyampaian pesan tersebut disadari atau tidak. Misalnya, guru, dosen, tutor,instruktur, orang tua, atau siapapun yang menyampaikan pesan pada muridnya dengan pesan ”kamu ini kok bodoh, to. Soal seperti itu saja tidak tahu…”, maka sebenarnya merupakan pesan hipnosis yang bisa jadi akan diinduksi oleh murid sehingga mereka akan benar-benar jadi bodoh.

Meski disampaikan dengan maksud kelakar, dalam bentuk langsung maupun tidak langsung, sindiran, metafora, dan lain-lain, tidak ada jaminan pesan tersebut tidak diinduksi. Apapun konteksnya, pesan dapat berpotensi menghipnotis seseorang. Siswa yang pandai dapat berubah jadi bodoh, yang rajin jadi malas, dan yang alim jadi nakal manakala pesan disampaikan adalah pesan negative.

Itulah sebabnya, khususnya para orang tua, guru, dosen, instruktur, public figure, pemimpin, dan lain-lain, perlu berhati-hati menjaga lisan. Jangan pernah sekalipun menyampaikan pesan negative, sebab ia berpotensi menghypnosis dan mengsugesti orang lain menjadi negatif. Guru, dosen, pendidik, dan lain-lain, justru harus menjadi hipnoterapis pada murid-muridnya.

Belajar Puisi Melalui Drama Musikal Puisi

Sule Subaweh

Pecinta Sastra dan Pengamat Dunia Pendidikan

 

Dibandingkan dengan cerpen atau novel, puisi dikenal sebagai karya yang paling padat. Tidak heran jika puisi lebih sulit dipahami, karena mengandung banyak makna dan simbol-simbol yang diciptakan pengarang. Oleh sebab itu, banyak seniman dan pecinta sastra mencoba memudahkan cara memahami puisi dengan ekpresi pembacaan, musikalisasi puisi dan dengan cara-cara lainnya. Tentunya agar para pecinta puisi lebih enak dan lebih gampang memahami untuk menikmati puisi itu sendiri.

Selain dibacakan, model musikalisasi puisi paling bayak dilakukan oleh para pecinta puisi dan seorang guru sebagai media pembelajaran puisi. Hal tersebut dikarenakan Musikalisasi puisi tidak hanya dapat dinikmati di panggung saja, tapi juga sudah berbentuk Mp3, bisa dinikmati sambil tiduran atau saat jalan-jalan. Dengan adanya instrumen musik menjadikan puisi lebih gampang dicerna oleh semua kalangan.

Lalu bagaimana kalau puisi dijadikan naskah. Tentu bukan adaptasi, atau saduran. Tapi mengumpulkan beberapa puisi dan dirangkai dalam satu tema, menjadi cerita, menjadi naskah.

Penulis berpendapat jika puisi dijadikan naskah adaptasi, atau saduran sudah biasa. Mungkin jarang kita melihat naskah yang terangkai dari beberapa puisi. Tentu akan sangat sulit menyatukan puisi yang satu dengan puisi yang lainnya, karena puisi sendiri bersifat mandiri atau sudah satu kesatuan utuh.

Puisi sebagai naskah dalam Drama Musikal

            Kerena sifatnya yang mandiri, tentu bukan hal yang gampang menyatukan beberapa puisi menjadi naskah. Tetapi bukan hal yang sulit jika kita mau. Naskah yang dibentuk dari beberapa puisi akan memberikan pembelajaran yang lebih saat dipentaskan. Pencinta puisi atau siswa akan belajar ber-acting sekaligus belajar memahami puisi itu sendiri, terlebih di pentaskan dalam bentuk drama musikal.

Siswa tidak hanya belajar Acting, tari, dan bernyanyi tapi juga memahami puisi itu sendiri dalam bentuk nyanyian, tarian dan acting. Hal itu akan memudahkan guru mengefisienkan waktu untuk memberikan pelajaran bagi siswa dalam memahami puisi.

Belajar puisi berarti belajar memahami berbagai karakter. Agar tidak jenuh, perlu adanya media yang tidak membosankan. Salah satunya dengan media pembelajaran drama musikal, dengan naskah yang diciptakan dari beberapa puisi untuk dijadikan naskah.  Selain tidak jenuh, pembelajaran Drama Musikal Puisi, secara tidak langsung akan membentuk karakter siswa itu sendiri. Barang kali guru bisa memanfaatkan para siswa pentas pada saat perpisahan sekolah yang biasa diagendakan sekolah.

Penulis berharap adanya naskah yang dibentuk oleh beberapa puisi tersebut dapat memberikan inovasi, baik seniman, guru dan pecinta sastra dalam berkarya. Khusus untuk guru diharapkan naskah yang dibentuk dari beberapa puisi yang dipentaskan dalam bentuk drama musikal akan membantu siswa mengenal dunia sastra dengan baik sekaligus bisa memahami dengan berbagai cara. Semoga.

Pemimpin Daur Ulang

Triantoro Safaria, PhD. Psi.

Pengajar di Pascasarjana Psikologi

Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

 

Anies Baswedan salah satu calon presiden konvensi demokrat menyebutkan tokoh-tokoh lama yang saat ini digadang maju sebagai calon presiden sebagai "para pemimpin daur ulang" atau "recycled leaders". Menurut Anies, tidak ada perubahan tawaran baru yang diberikan kepada para tokoh lama ini.  Menurutnya, pemilu 2014 akan menjadi ajang bagi pemimpin muda unjuk gigi dengan ide-ide segar.  Penulis menambahkan tidak saja hadir dengan ide-ide segar, tetapi juga hadir dengan sikap dan perilaku pro-rakyat, think globally, but act locally.

Pemimpin daur ulang dicirikan sebagai pemimpin yang  bergaya old style dalam  pola pikir dan  mindset  sehingga cara-cara  tindak tanduknya tidak akan membawa perubahan  nyata bagi masyarakat.  Pemimpin daur ulang berkamuflase  dalam  tampilan dan gaya, untuk sekedar  menarik hati pemilih.  Kebanyakan para pemimpin daur ulang  banyak menebar janji manis,  berperilaku baik di balik pamrih yang disembunyikannya. Pemimpin daur ulang kebanyakan tidak menunjukkan keberhasilan yang mengagumkan di masa lalunya, ketika mereka pernah memimpin. Tidak banyak yang dapat diharapkan dari pemimpin daur ulang ini, selain nafsu kekuasaan yang ingin diraihnya.

Pemimpin sejatinya dekat dengan rakyatnya, mau mendegar keluh kesah dan masalah yang dihadapi oleh rakyatnya. Tidak membuat jarak secara formal, senantiasa menjalin komunikasi dua arah yang  terbuka, jujur dan  tulus.  Mau terjun ke lapangan melihat secara langsung keadaan rakyatnya.  Pemimpin sejati ini  melalui  ketulusannya  dengan bertindak  tanpa pamrih  secara terus-menerus akhirnya mampu menarik kepercayaan masyarakat. Pemimpin sejati bukan sekedar  permainan lipstik pencitraan semata, tetapi  mendapatkan  kepercayaan rakyat  sebagai hasil dari kontribusinya di masyarakat.

Konsep pemimpin sejati bisa disejajarkan dengan konsep level 5 leadership dari Jim Collins (2001) yang memiliki kombinasi dari deep personal humility and intense professional will  yang bukan sekedar pemimpin yang efektif tetapi pemimpin yang mampu melakukan transformasi besar dalam semua dimensi kehidupan: sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual.

Kalau  dikomparasikan dengan konsep kepemimpinan David Rooke  dan William R. Torbert (2005) yang disebut sebagai tipe kepemimpinan alchemist. Tipe kepemimpinan alchemist ini ditunjukkan dengan kemampuan pemimpin dalam melakukan transformasi sosial dengan menemukan dan membentuk organisasi yang baru,  kuat dan sehat dari pada sebelumnya.

Menjelang pemilu 2014 mendatang kita perlu berhati-hati dalam menetapkan pilihan. Jangan tergoda untuk mendukung calon pemimpin daur ulang yang tidak menunjukkan track record baik di masa lalunya. Indonesia membutuhkan pemimpin transformatif yang dapat membawa loncatan perubahan besar untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat. Pemimpin yang memiliki kekuatan mengerakkan seluruh kekuatan yang ada untuk mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia. Hindari untuk memilih para pemimpin daur ulang yang  hanya bernfasu untuk berkuasa, tetapi  diragukan kemampuannya dalam membawa kemajuan bagi bangsa dan Negara.

Mengenal Syi’ah Lewat Bedah Buku

Ikantan Mahasiswa Muhammadiyag Universitas Ahmad Dahlan (IMM-UAD) adakan bedah buku dengan tema “Pedoman MUI Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia dan berita terbaru dari Syuriah” dengan pembedah Ustadz Fahrurrozy Abu Syamil (Pemerhati dunia islam) dan Ustadz Fuadi Romdhoni, Lc. (Relawan Syuriah). Di Masjid Darussalam Kampus I UAD Jalan Kapas 09 Semaki Yogyakarta Sabtu (29/03).

Zaenal Arifin, SE. Selaku Anggota Bidang Dakwah IMM PC Djazman Al-Kindi sekaligus ketua panitia acara tersebut mengungkapkan, ”Alasan diadakannya acara tersebut, atas keprihatinannya terhadap generasi muda, terutama para mahasiswa yang terpengaruh faham Syi’ah yang masuk di dunia kampus termasuk juga di kampus UAD. Salah satu faham yang berkembang dan merusak kalangan mahasiswa yakni tentang halalnya nikah mut’ah. Korban dalam kasus ini adalah para mahasiswi.

Dalam acara tersebut dibeberkan penyimpangan-penyimpangan syiah dari pengakuan tokoh-tokohnya dan dari kitab-kitabnya. Acara yang bekerjasama dengan LPSI-UAD, Syam Organizer, dan Majelis Umat Islam Bersatu tersebut dihadiri oleh mahasiswa, mahasiswi, dan umum.

“Diharapkan acara tersebut memberikan edukasi kepada para mahasiswa terkait fakta dan realita yang ada tentang Syi’ah. Syi’ah itu apa? Aqidahnya itu benar atau salah? Syi’ah itu kawan atau lawan? Islam atau bukan?” Ungkap Zaenal Arifin, SE. retoris.

Lebih lanjut Zaenal Arifin mengutarakan, “Kami berharap untuk selanjutnya acara seperti  ini dapat diadakan juga di kampus-kampus UAD yang lain agar mahasiswa lebih mengetahui akan bahaya Syi’ah dan dapat terhindar dari faham-faham yang merusak aqidah.” (MCH)

PBI UAD Kembali Gelar Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Inggris

           Setelah dua kali berhasil meyedot presenter dan peserta dari dalam dan luar negeri, tahun ini program studi Pendidikan Bahasa Inggris kembali menyelenggarakan konferensi internasional pengajaran Bahasa Inggris (The 3rd UTIC 2014: The third UAD TEFL International Conference) dengan tema “ELT Materials Development in Asia and beyond: Directions, Issues, and Challenges”.

            Tidak kalah menarik dari konferensi sebelumnya, the 3rd UTIC tahun ini menghadirkan para ahli di bidang pengajaran Bahasa Inggris yang sudah sangat terkenal,  Prof. Brian John Tomlinson (Inggris) sebagai pembicara inti,  ditambah pembicara lain yang berpengalaman; Dr. Hitomi Masuhara (Inggris), Prof Bustami Subhan (Indonesia), Dr. Tan Bee Tin (New Zeland), Dr. Dat Bao ( Australia). Prof. Dr. Jayakaran Mukundan (Malaysia), Flora Debora Floris (Indonesia).

            “Ini adalah event yang prestisius untuk dosen, guru, mahasiswa dan para penggiat pengajaran Bahasa Inggris. Lebih-lebih kami menghadirkan Prof. Tomlinson, seorang pakar dalam pengembangan bahan ajar dan dijamin para peserta akan mendapatkan ilmu dan pengalaman yang bernilai untuk kemajuan pengajaran bahasa Inggris khususnya di Indonesia.” Ungkap Ani Susanti, ketua panitia The 3rd UTIC 2014.

 Bagi yang berminat menjadi pemakalah dapat mengirimkan abstrak kepada panitia melalui alamat email utic@pbi.uad.ac.id sampai dengan 1 Mei 2014. Konferensi ini akan diadakan di hotel Cavinton Yogyakarta, 17-18 September 2014. Informasi lebih lengkap  dapat dibaca di http://utic.pbi.uad.ac.id/.

Sekolah Menengah Malaysia Kunjungi UAD

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menuju world class university. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kerja sama yang dilakukan baik dari dalam maupun luar negeri. Diantaranya kerja sama dengan beberapa Sekolah Menengah Malaysia.

Selasa (25/03) Beberapa instansi sekolah menengah Malaysia mengadakan kunjungan pendidikan di UAD. Acara yang berlangsung di ruang sidang utama Kampus 1 UAD Jalan kapas 09 semaki Yogyakarta bertujuan untuk mengetahui Lab school yang dimiliki oleh UAD serta untuk berkenalan lebih jauh dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang ada  di Yogyakarta.

Ditemui di ruang sidang kampus I UAD sebelum acara dimulai, Muhammad Joko Susilo, M.Cs.  selaku ketua panitia acara kunjungan tersebut menjelaskan. Saat ini UAD telah memiliki 31 Labschool yang tersebar di seluruh Yogyakarta dimulai dari TK sampai tingkat SMK.”

“Ada dua sekolah yang hadir pada acara tersebut, yaitu. Sekolah Menengah Kebangsaan Bukit Kayu Hitam dan Sekolah Menengah Kebangsaan Pulonyiur Malaysia. Peserta yang datang  dari malaysia totalnya ada 21 orang. Diantaranya ada 9 orang guru dan 12 orang siswa.” tambah Joko Susilo yang juga menjadi Kepala Pusat Pengembangan Mutu Sekolah.

Acara tersebut turut dihadiri juga oleh Prof. Sarbiran Wakil Rektor IV, Dr. Muchlas, MT, Wakil Rektor I, Drs Safar Nasir M.Si, Wakil Rekttor II , dan Ibu Ida Puspita, MA. Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UAD.

Prof. Sarbiran dalam sambutanya menghimbau kepada peserta kunjungan agar senantiasa menjaga hubungan baik dan saling bekerjasasama antara dua negara dan dua instansi dalam meningkatkan teknologi di masa modern ini. Hal senada juga diutarakan oleh Ibu Puan Hj. Siti Aminah selaku Kepala Sekolah Pulonyiur Malaysia sekaligus perwakilan pembicara dari Malaysia. Agar senantiasa menjaga hubungan baik dan kerja sama terutama dalam bidang pendidikan.

Rangkaian acara kunjungan tersebut juga dimeriahkan dengan dihadirkannya beberapa Mahasiswa yang berprestasi di bidang teknologi. Diantaranya ada beberapa mahasiswa FTI dengan robotnya dan mahasiswa Pendidikan Fisika unggulan dengan roketnya. Mereka mempresentasikan hasil karya mereka dalam berbagai kejuaraan di tingkat nasional yang telah mereka ikuti.

“Harapan kedepannya setelah diadakan acara kunjungan dari Malaysia ini dapat menjadikan Labschool yang dimiliki UAD dapat go international dikenal tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri.” Ungkap Joko Susilo diakhir wawancara. (MCH)

UAD Adakan Talkshow International Conference Bersama Enam Negara

Negara-negara di Benua Asia mempunyai  sistem pendidikan. Sistem pendidikan tersebut antara satu Negara dengan Negara lain mempunyai perbedaan. Setiap Negara mempunyai sebuah tolok ukur tersendiri untuk penerapan sistem pendidikan di negaranya masing-masing. Begitu juga dengan Negara Indonesia.

Menyusul acara kunjungan dari Sekolah menengah kebangsaan Malaysia (25/03), Pihak UAD menanggapinya dengan mengadakan acara talkshow international conference dengan tema “Multiculture Education in Asia“ Rabu (26/03) di Ruang Sidang Kampus I UAD jalan kapas 09 semaki Yogyakarta.

Ibu Dr. Nur, Dodi menyampaikan, untuk menciptakan suatu sistem pendidikan yang baik dapat melalui berbagai metode, di antaranya bisa dengan fullday school atau boarding school yang saat ini tengah populer di Indonesia atau dengan cara pendidikan di luar kelas seperti yang sedang diterapkan di Negara Filipina. “Yang terpenting dari itu semua adalah niat tulus dari seorang guru untuk mengajar murid layaknya mengajar anaknya sendiri dan tekat kuat seorang murid untuk senantiasa belajar tanpa kenal putus asa” paparanya Dosen Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UAD.

Tujuan diadakannya acara tersebut selain sebagai upaya menindak lanjuti kunjungan dari Malaysia juga sebagai upaya untuk saling bertukar pengalaman terkait dunia pendidikan dari berbagai Negara di Asia yang untuk selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Negara masing-masing agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman di era modern ini.

“Acara tersebut mengulas berbagai macam sistem serta kebijakan pendidikan di beberapa Negara di Asia di antaranya Indonesia, Malaysia, Filipina, Uzbekistan, India, dan China. Indonesia sendiri diwakili oleh kepala sekolah SMP Muhammadiyah 3 Depok, dari Malaysia diwakili oleh Ibu Puan Hj. Siti Aminah kepala Sekolah Menengah Kebangsan Malaysia, sedangkan pembicara dari Negara yang lain diwakili oleh mahasiswa luar negeri yang sedang menempuh studi di UAD” papar Bapak Joko Susilo, M.Cs. selaku ketua panitia acara tersebut.

Lebih lanjut pak Joko menambahkan. Peserta yang hadir dalam acara talkshow tersebut datang dari kalangan civitas akademika UAD,  perwakilan kepala sekolah binaan UAD, ada juga dari kalangan penulis artikel, serta dari mahasiswa pascasarjana UAD. (MCH)

Tabligh Akbar Bersama Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A

 

Menyusul rangkaian acara milad IMM 50 tahun (setengah abad). IMM Universitas Ahmad Dahlan (UAD)  gelar acara Tabligh Akbar, Kamis (27/03)  dengan tema “ Hilangnya Rasa Malu di Era Globalisasi” bersama Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A. di Auditorium Kampus I UAD Jalan Kapas 09 Semaki, Yogyakarta.

Ditemui disela-sela acara, Achsanul Fikri Al-Anshori yang akrab disapa achsan selaku ketua panitia acara menuturkan, “Tujuan diadakanya acara ini adalah untuk menguatkan mental dan akhlaq umat islam pada umumnya, khususnya civitas akademika UAD, agar tidak terseret arus globalisasi yang kurang baik salah satunya yaitu hilangnya sifat malu”

Lebih lanjut Achsan menambahkan,” Acara ini bekerja sama dengan pihak kampus UAD, Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD, PC IMM DJazman Al-kindi, dan Korkom IMM UAD serta didukung  (disponsori) oleh Waroeng makan Special Sambal (SS), Kebun Binatang Gembira Loka, Pamella Swalayan, Aisyiah, Nasyiatul Aisyah (NA), toko kerudung Raja Murah, dan Diva Press.”

Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor III, Bapak Dr. Abdul Fadhil, MT, menyampaikan dalam sambutannya bahwa rasa malu itu amat penting untuk dimiliki, terutama bagi kalangan intelektual (mahasiswa). Malu jika tidak punya prestasi, malu jika berbuat sesuatu yang buruk.

Dalam tausyiahnya, Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A. mengulas bagaimana rasa malu itu mulai hilang. Pengaruhnya, serta fenomena yang terjadi saat ini terkait hilangnya rasa malu di kalangan umat islam.

“Harapan dengan diadakannya acara ini semoga dapat menyadarkan diri kita akan pentingnya sifat malu serta mampu menambah wawasan kita terkait bagaimana cara berdakwah dengan retorika yang bagus seperti Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A.” Ungkap Ahmad Syaifudin Rauf selaku Kabid Dakwah PC Djazman al-kindi sekaligus promotor acara tersebut.

Acara pada malam Jum’at tersebut dimeriahkan dengan beragam penampilan dan hiburan diantaranya dari nasyid LPSI serta dari beberapa penampilan dari Immawan dan Immawati (sebutan untuk aktivis IMM) dan pembagian doorprize. (MCH)

IMM UAD Bagikan 200 Makanan Kepada Kaum Dhuafa

 

Dalam rangkaian acara memperingati milad IMM yang ke-50 tahun, IMM Universitas Ahmad Dahlan (UAD)  melakukan bakti sosial dengan membagikan 200 makanan kepada para kaum dhuafa (27/03) di sepanjang jalan dari kampus UAD hingga malioboro.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa solidaritas dalam diri kalangan immawan dan immawati (aktivis IMM) serta untuk mengingatkan akan indahnya berbagi dengan sesama. Kegiatan ini berlangsung setelah diselenggarakannya acara Tabligh Akbar bersama Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc, M.A. (27/03) di Auditorium kampus I UAD.

“Ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita yang ada di pinggir jalan yang membutuhkan uluran tangan kita. Totalnya ada 20 tim yang akan diterjunkan” ungkap Ahmad Syaifudin Rauf selaku panitia.

Lebih lanjut Ahmad Syaifudin Rauf menuturkan harapannya semoga kegiatan yang dilakukan ini  dapat bermanfaat bagi semuanya baik dari panitia maupun pihak penerima. (MCH)