Puasa Lahirkan Pribadi Istimewa

 

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP

Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Tuan dan Puan, mengerti persamaan dan perbedaan antara batu bara dan batu permata? Awalnya, saya juga tidak mengerti sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, setelah mendengar uraian dari Anies Rasyid Baswedan, (Rektor Universitas Paramadina, Jakarta) dan istri saya yang merupakan sarjana pendidikan kimia, barulah saya mengerti apa persamaan dan perbedaan antara batu bara dan batu permata. Simaklah uraian di bawah ini.

Menurut Anies, persamaan antara batu bara dan batu permata terletak pada unsur kimia keduanya. Baik batu bara maupun batu permata sama-sama berunsur karbon. Sementara itu, perbedaan keduanya ialah terletak dari ada-tidaknya tekanan. Permata memiliki tekanan yang cukup tinggi, sementara batu bara tidak memiliki tekanan sama sekali. Selain itu, permata dijual dengan ukuran gram, sedangkan batu bara dijual dengan ukuran ton.

Uraian Anies di atas lebih kurang sama dengan uraian dari istri saya. Istri saya menambahkan, karena memiliki tekanan yang tinggi, maka batu permata terbentuk sedemikian rupa. Sebaliknya, batu bara yang tidak memiliki tekanan yang tinggi, maka terbentuk sedemikian rupa pula. Ternyata, faktor tekanan memiliki pengaruh yang besar terhadap kedua benda tersebut, dan bahkan menentukan “suratan takdir” keduanya pula.

Lantas, apa hubungan soal batu bara dan batu permata dengan ibadah puasa di bulan Ramadan? Hemat saya, ibadah puasa menjadi salah satu sarana guna menuntun diri kita, selaku orang Muslim menjadi “batu permata” dalam kehidupan di masa kini dan mendatang. Dengan berpuasa, kita dididik (atau “ditekan”) menjadi orang yang pandai menahan hawa nafsu, baik nafsu makan-minum, syahwat, maupun godaan nafsu lainnya.

Dengan kata lain, melalui puasa kita seolah dilahirkan kembali menjadi pribadi-pribadi yang istimewa. Apa pasal? Sebab, puasa merupakan perintah dari-Nya yang diperuntukkan bagi orang-orang yang istimewa pula. Simaklah bunyi ayat Surah Al-Baqarah ayat 183: “Hai, orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu dapat menjadi orang yang bertakwa.”

Melalui ayat di atas, Allah swt memerintahkan kita untuk berpuasa apabila kita tergolong sebagai “orang-orang beriman”. Makanya, iman menjadi tolok ukur utama dalam ibadah puasa, khususnya di bulan Ramadan. Tanpa iman, ada orang Muslim yang tidak menjalankan ibadah puasa meskipun dirinya sehat wal afiat, bugar, dan tidak memiliki halangan apapun. Tanpa iman pula, ada pula orang Muslim yang tidak membayarkan zakat kepada yang membutuhkan.

Akhirnya, keistimewaan ibadah puasa terletak dari siapa orang yang menjalaninya, apa motivasi orang yang menjalaninya, serta manfaat apa yang akan didapatinya. Hanya orang-orang yang istimewa, hemat saya, yang dapat menjalani ibadah puasa dengan ikhlas dan penuh mengharap ridho-Nya. Semoga ibadah puasa dapat menjadikan diri kita, yang semula berlumur dosa dan hina, dapat menjelmakan diri menjadi pribadi yang istimewa. Amin.[]

Soft Competence Building Bagi Calon Pendidik

Ditulis Oleh: Ika Maryani, M.Pd.

Dosen PGSD FKIP Universitas Ahmad Dahlan

 

Tuntutan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru di masa depan semakin tinggi. Tidak hanya kompetensi akademik dan pedagogik saja yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan sebagai guru professional. Akan tetapi, kompetensi sosial dan kepribadian yang merupakan bagian dari soft competence juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan profesionalisme para guru. Internalisasi nilai positif terhadap siswa tidak cukup dilakukan melalui proses injeksi nilai saja melainkan guru harus mampu memberi contoh dan berperan sebagai living models.

Guru profesional dengan soft competence yang tangguh akan mampu menjadi teladan bagi pembentukan karakter siswa. Konsekuensi dari kondisi inilah, menurut pendapat penulis, menjadi alasan kuat mengapa Perguruan Tinggi sebagai penghasil calon guru diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan soft competence sebagai bekal menghadapi tantangan dunia pendidikan di masa yang akan datang.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 disebutkan bahwa seorang pendidik harus memiliki kualifikasi akademik yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Pendidik sebagai learning agent berperan sebagai motivator, fasilitator, serta harus dapat memberi inspirasi bagi peserta didik. Pendidik juga dituntut memiliki kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan potensi diri peserta didik.

Selain hal di atas, pendidik juga harus memiliki kepribadian yang mantap, stabil, arif, bijaksana, serta berakhlak mulia, sehingga dapat menjadi tauladan bagi pembentukan karakter peserta didik. Penguasaan terhadap materi juga dibutuhkan oleh pendidik untuk mendukung fungsinya sebagai pembimbing bagi peserta didik untuk memenuhi standar kompetensi sesuai dengan Standar Nasional. Pendidik sebagai bagian masyarakat juga harus memiliki kemampuan bergaul dan dapat berkomunikasi secara efektif.

Menurut teori dari beberapa ahli, soft competence atau yang sering dikenal dengan istilah soft skill merupakan keterampilan interpersonal yang berkaitan dengan Intellegence Quotient Emosional (EQ), karakter kepribadian, komunikasi, bahasa, keramahan, dan optimisme yang menjadi ciri unik yang berbeda dengan orang lain. Seseorang dengan soft competence yang tinggi akan memiliki keterampilan dalam berpikir logis dan analitis, mampu berkomunikasi dan bekerja sama dalam tim, serta mampu memberikan resolusi atas konflik dan negosiasi.

Berangkat dari hal tersebut, saat ini mulai disadari oleh banyak perguruan tinggi, salah satu contohnya Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kesedaran tentang betapa besar sumbangan soft competence bagi kesuksesan lulusannya. Untuk itu, semakin gencar pula usaha yang mereka lakukan dalam menanamkan soft competence baik melalui written curriculum, hidden curriculum, co-curriculum, maupun extra curriculum.

Written curriculum, ini dilakukan dengan memasukkan soft competence ke dalam rancangan pembelajaran, dengan demikian penguasaan mahasiswa tentang soft competence tertentu harus dimasukkan dalam aspek penilaian mata kuliah tersebut. Hidden curriculum, dilakukan secara informal melalui interaksi dosen-mahasiswa. Dosen berperan sebagai role model (tauladan) dengan cara menciptakan iklim akademik di lingkungan prodi. Co-curriculum, dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan praktik pengalaman lapangan (PPL) maupun Kuliah Kerja Nyata (KKN). Extra-curriculum, dilakukan dengan melibatkan UKM sebagai wadah untuk melatih soft competence mahasiswa.

Membangun Soft competence calon guru merupakan langkah strategis dalam pembentukan kepribadian calon guru yang lebih mantap. Beberapa penelitian menyebutkan, bahwa ada hubungan yang signifikan antara kompetensi pendidik dengan kepribadian yang dimiliki. Kepribadian positif dapat dibangun dari soft competence yang positif pula. Berdasarkan alasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa soft competence mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap kompetensi para calon pendidik apabila dibangun dan dikembangkan dengan cara yang tepat.

Puasa Lahirkan Pribadi Istimewa

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP

Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Tuan dan Puan, mengerti persamaan dan perbedaan antara batu bara dan batu permata? Awalnya, saya juga tidak mengerti sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, setelah mendengar uraian dari Anies Rasyid Baswedan, (Rektor Universitas Paramadina, Jakarta) dan istri saya yang merupakan sarjana pendidikan kimia, barulah saya mengerti apa persamaan dan perbedaan antara batu bara dan batu permata. Simaklah uraian di bawah ini.

Menurut Anies, persamaan antara batu bara dan batu permata terletak pada unsur kimia keduanya. Baik batu bara maupun batu permata sama-sama berunsur karbon. Sementara itu, perbedaan keduanya ialah terletak dari ada-tidaknya tekanan. Permata memiliki tekanan yang cukup tinggi, sementara batu bara tidak memiliki tekanan sama sekali. Selain itu, permata dijual dengan ukuran gram, sedangkan batu bara dijual dengan ukuran ton.

Uraian Anies di atas lebih kurang sama dengan uraian dari istri saya. Istri saya menambahkan, karena memiliki tekanan yang tinggi, maka batu permata terbentuk sedemikian rupa. Sebaliknya, batu bara yang tidak memiliki tekanan yang tinggi, maka terbentuk sedemikian rupa pula. Ternyata, faktor tekanan memiliki pengaruh yang besar terhadap kedua benda tersebut, dan bahkan menentukan “suratan takdir” keduanya pula.

Lantas, apa hubungan soal batu bara dan batu permata dengan ibadah puasa di bulan Ramadan? Hemat saya, ibadah puasa menjadi salah satu sarana guna menuntun diri kita, selaku orang Muslim menjadi “batu permata” dalam kehidupan di masa kini dan mendatang. Dengan berpuasa, kita dididik (atau “ditekan”) menjadi orang yang pandai menahan hawa nafsu, baik nafsu makan-minum, syahwat, maupun godaan nafsu lainnya.

Dengan kata lain, melalui puasa kita seolah dilahirkan kembali menjadi pribadi-pribadi yang istimewa. Apa pasal? Sebab, puasa merupakan perintah dari-Nya yang diperuntukkan bagi orang-orang yang istimewa pula. Simaklah bunyi ayat Surah Al-Baqarah ayat 183: “Hai, orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu dapat menjadi orang yang bertakwa.”

Melalui ayat di atas, Allah swt memerintahkan kita untuk berpuasa apabila kita tergolong sebagai “orang-orang beriman”. Makanya, iman menjadi tolok ukur utama dalam ibadah puasa, khususnya di bulan Ramadan. Tanpa iman, ada orang Muslim yang tidak menjalankan ibadah puasa meskipun dirinya sehat wal afiat, bugar, dan tidak memiliki halangan apapun. Tanpa iman pula, ada pula orang Muslim yang tidak membayarkan zakat kepada yang membutuhkan.

Akhirnya, keistimewaan ibadah puasa terletak dari siapa orang yang menjalaninya, apa motivasi orang yang menjalaninya, serta manfaat apa yang akan didapatinya. Hanya orang-orang yang istimewa, hemat saya, yang dapat menjalani ibadah puasa dengan ikhlas dan penuh mengharap ridho-Nya. Semoga ibadah puasa dapat menjadikan diri kita, yang semula berlumur dosa dan hina, dapat menjelmakan diri menjadi pribadi yang istimewa. Amin.[]

Menilik Peragaan Puasa

Ulaya Ahdiani

Penulis adalah Dosen Fakultas Satra, Budaya, dan Komunikasi

Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Saat saya sholat Maghrib di masjid, tiba-tiba terlintas dalam benak saya ucapan seorang ustadz beberapa waktu yang lalu. Dalam ceramahnya, beliau mengatakan, bahwa banyak di antara kita umat muslim yang ketika sholat, sebenarnya tidak benar-benar sholat. Mereka hanya memperagakan gerakan sholat saja. Terbukti dengan masih banyaknya perbuatan keji dan munkar yang dilakukan oleh umat muslim. Padahal, sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, khan?

Lalu, mengapa ini semua bisa terjadi? Karena itu tadi, masih banyak di  antara kita yang sholat hanya sebagai peragaan gerakan saja, bukan sholat sebenar-benarnya sholat. Pada dasarnya sholat adalah sebuah tanda keimanan seseorang terhadap Allah, tanda kepatuhan seorang hamba kepada Allah. Sholat diawali dengan takbir, Allahu Akbar, Maha Besarkan Allah, meng Esakan Allah. Kemudian diikuti dengan ruku’ dan sujud, sebagai perwujudan dari ketidak berartian seorang manusia. Di mana pada saat posisi sujud, kepala kita lebih rendah dari, maaf, pantat kita. Itu berarti, dihadapan Allah, wajah yang selalu kita banggakan sebagai pusat orientasi manusia, ternyata ada kalanya harus lebih rendah daripada pantat, yang selalu kita tutupi dan malu apabila sampai terlihat orang lain.

Sholat juga diakhiri dengan salam, yang merupakan hikmah untuk menyebarkan kedamaian dan keindahan dimuka bumi terhadap sesama. Jadi, sholat pada hakekatnya adalah perwujudan dari hablun minallah sekaligus hablun minannaas. Berarti, seandainya kita sudah sholat sebenar-benarnya sholat, tidak hanya memperagakan sholat. Maka, sholat kita akan mempunyai bekas, yaitu kita tidak akan menyebarkan dengki dan dendam, tetapi kita menyebarkan kasih dan sayang.

Kita tidak akan menyebarkan kekerasan, namun kelembutan. Kita tidak akan menyebarkan kejahatan, namun kemuliaan. Tapi apakah itu semua sudah kita lakukan? Begitu kira-kira penjelasan ustadz tadi.

 

Sudahkan Berpuasa dengan Sebenar-benarnya Puasa

Menganalogikan dengan peragaan sholat di atas, saya kemudian berpikir tentang puasa. Jangan-jangan selama 30 hari orang menjalankan puasa, ternyata selama itu pula mereka hanya memperagakan puasa?

Pada dasarnya hakekat puasa adalah Imsak, yaitu menahan diri. Menahan diri dari lapar dan dahaga, serta menahan diri dari hubungan suami istri dan menahan amarah. Tapi masih banyak yang belum paham akan arti menahan diri. Karena sebenarnya rasa lapar, dahaga, nafsu syahwat dan amarah, adalah sebagian kecil dari nafsu yang ada pada diri manusia.

Manusia mempunyai nafsu ingin menguasai, ingin menindas, ingin kaya, ingin banyak pasangan, ingin mempunyai segala macam barang yang dinginkan, dan nafsu-nafsu lain, yang sering tidak tersentuh oleh ”puasa”. Kita bisa puasa makan, minum, berhubungan dengan suami atau istri, dan juga puasa marah. Tapi, bagaimana dengan puasa belanja? Bisakah kita menahannya?

Banyak orang harus bolak-balik mencari baju untuk anak-anak, ibu, suami dan untuk yang lainnya di Mall? Apakah barang-barang yang ada di rumah belum cukup? Bukankah di lemari masih banyak baju yang digantung, yang belum tentu 1 bulan sekali dipakai? Bukankah di rak juga masih ada beberapa pasang sepatu yang semirnya masih mengkilat? Bukankah di meja selalu tersedia makanan dan minuman yang selama seminggu pun tak habis kita makan bersama dengan keluarga? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang akan muncul. Bukankah hal tersebut juga bagian dari nafsu. Keinginan untuk memenuhi lemari dengan baju baru, memenuhi rak dengan sepatu baru, memenuhi meja dengan makanan enak, memenuhi kebutuhan anak dengan hal-hal yang lain?

Orang jarang menyadari bahwa ada nafsu lain yang tak terlihat oleh mata, yang itu sulit untuk dikendalikan. Kebanyakan orang memahami tentang nafsu hanyalah sebatas nafsu syahwat, nafsu amarah, nafsu lapar dan haus saja.

Menjadikan Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Masyarakat Melalui Kegiatan Ramadhan

 

Ida Nurmila Isandespha, M.Pd

Dosen PGSD, FKIP Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Masjid masih dianggap sebagai tempat untuk beribadah saja dan masih sedikit sekali yang memfungsikan masid lebih dari itu. Hal ini tidak sepenuhnya salah namun berdasarkan sirah rosul, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat shalat saja melainkan juga digunakan sebagai tempat pembinaan masysrakat. Pada masa Rasulullah, masjid digunakan sebagai basis pembinaan moral, mental dan spiritual umat. Secara strategis sekarang ini masjid dapat difungsikan sebagai lembaga pendidikan untuk membina potensi masyarakat dari berbagai latar belakang. Pendidikan dan pembinaan masyarakat yang bisa dilakukan antara lain pembinaan dari aspek keagamaan, keilmuan, sosial, ekonomi, kesehatan, sosial, budaya dan seni.

Berdasarkan firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 18 yang bunyinya “Sesungguhnya orang yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.  Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang memakmurkan masjid hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Memakmurkan masjid disini tidak hanya sebatas melaksanakan ibadah saja melainkan memiliki arti luas yaitu membangun, membersihkan, merawat, memelihara dan melaksanakan aktivitas kebaikan yang dibenarkan oleh syariat islam.

Pendidikan dan pembinaan masyarakat melalui masjid bisa dilakukan dalam bentuk kegiatan kajian ilmu dari berbagai bidang kajian yang disesuaikan dengan latar belakang, usia dan kebutuhan masyarakat. Bagi anak-anak pembinaan keilmuaan bisa dilakukan melalui Taman Pendidikan Al-Qur’an yang biasa dikenal dengan TPA. Sekarang ini tidak jarang pendidikan informal Anak Usia Dini (AUD) juga telah dilaksanakan di lingkungan masjid.

Pembinaan dan pendidikan aspek ekonomi dapat dilakukan dengan mengelola zakat, infaq dan sodaqoh. Tentunya di masyarakat ada keluarga mampu dan ada juga keluarga yang kurang mampu atau mungkin anak yatim piatu. Melalui lembaga zakat yang dikelola masjid diharapkan zakat, infaq, dan sodaqoh dari masyarakat yang mampu tersalurkan dengan baik kepada masyarakat yang kurang mampu di sekitarnya. Dari sini diharapkan terbentuknya masyarakat yang sejahtera.

Pembinaan dan pendidikan seni seperti seni membaca al-qur’an, qosidah, seni menulis kaligrafi, drama, puitisasi al-qur’an juga dapat dimaksimalkan di masjid. Fungsi sosial lain dari masjid yaitu masjid dapat dijadikan sebagai tempat pelaksanaan aqad pernikahan, rekreasi keluarga dan tempat rapat untuk membahas kemslahatan umat.

Sekarang ini masih sedikit sekali masjid-masjid yang memiliki peran sebagai pusat pendidikan dan pembinaan masyarakat. Melihat fungsi masjid yang sangat starategis dalam membina masyarakat agar menjadi masyarakat cerdas dan sejahtera, tentunya kita tidak mau ketinggalan untuk ikut berperan dalam mewujudkan hal tersebut.

Bulan ramadahan adalah bulan yang tepat untuk memulai memakmurkan masjid. Di bulan ramadhan suasana masjid terasa tidak pernah sepi dari pelbagai aktivitas peribadahan seperti takjilan, tadarus al-qur’an, sholat terawih dan kajian subuh. Semua orang menyambut ramadhan dengan suka ria. Anak-anak maupun orang tua sangat antusis dalam mengikuti kegiatan ramadhan di masjid.

Tugas yang penting sekarang ini adalah bagaimana mempertahankan gegap gempita ramadhan di bulan-bulan berikutnya. Dalam hal ini peran serta seluruh lapisan masyarakat sangat diharapkan dalam memberdayakan masjid sebagai lembaga pendidikan kemasyarakatan. Kontribusi yang diberikan masjid sebagai pusat pendidikan dan pembinaan masyarakat adalah memberikan rasa tentram, aman, kekuatan, kemakmuran dan mampu meningkatkan potensi ruhiyah manusia melalui bekal-bekal keilmuan, keiklasan, kesabaran. optimisme dan akhlak mulia lainnya, sehingga pada akhirnya akan tercipta masyarakat yang memiliki kualifikasi intelektual dan spiritual yang menjadi basis akhlak masyarakat Indonesia.

Koordinasi PDPT PTN dan Kopertis Se-Indonesia

 

 
Dalam rangka peningkatan kualitas data pendidikan tinggi tahun 2013 dan pengenalan laman baru 
http ://forlap.dikti.go.id, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi akan mengadakan kegiatan Koordinasi 
PDPT Perguruan Tinggi Negeri dan Kopertis Se-Indonesia pada  :   
 
Hari/Tanggal : Jumat, 26 Juli 2013 
Waktu        : Pukul 13.30 – 16.00 WIB (diakhiri dengan buka bersama) 
Tempat       : R. Sidang Ditjen Dikti Gedung D Lt. 2 
               Jl. Jend. Sudirman Pintu Satu Senayan Jakarta     
 
Sehubungan dengan rencana tersebut, dengan ini kami mohon bantuan Saudara untuk menugaskan 1 
(satu) orang operator PDPT untuk mengikuti kegiatan yang dimaksud. Kepada peserta  diharuskan 
membawa perlengkapan kerja diantaranya laptop dan modem serta membawa data pelaporan semester 
tahun 2012-1 (wajib) dan pelaporan semester sebelumnya bagi perguruan tinggi yang belum 
menyampaikan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.   
 
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi hanya menanggung konsumsi selama acara berlangsung, untuk 
biaya perjalanan dinas dan akomodasi peserta mohon ditanggung masing-masing perguruan tinggi/Kopertis.   
 
Mohon peserta sebelum ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi agar dapat mengecek data pelaporan 
semester yang terdapat pada laman yang baru http ://forlap.dikti.go.id.   
 
Atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih.     
 

Puasa dan Pendidikan Anti Korupsi

Dani Fadillah*

Dalam Islam, puasa wajib dilaksanakan saat datangnya bulan Ramadan. Dalam waktu satu tahun ada waktu selama satu bulan dimana umat Islam ditempa untuk ber-laku prihatin dalam kawah candra dimuka bernama bulan ramadhan. Dimana dalam bulan Ramadhan umat islam diperintahkan untuk mengendalikan diri baik secara lahir mapupun batin, supaya menjadi pribadi yang bertakwa baik secara kerohananian maupun sosial.

Manusia laksana bermetamorfosis dari ulat yang rakus menjadi kupu-kupu nan cantik, berubah dari manusia yang dipenuhi syahwat dunia menjadi sosok hamba yang membawa rahmat bagi seluruh alam dengan iman dan takwa. Suasana religius yang khusyuk, serta dahaga serta lapar yang melanda berpotensi menghadirkan empati yang dapat membawa kita pada “kesalehan sosial” serta kesadaran bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari yang dijanjikan kedatangannya (kiamat). Hari pengadilan seadil-adilnya, tidak seperti pengadilan manusia yang bisa direkayasa dan dimanipulasi. Namun yang ada pada hari itu sebuah pengadilan Tuhan yang tidak bisa disuap.

Sebuah Pertanyaan Besar

Sangat memalukan memang, Indonesia sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia turut masuk dalam jajaran negara paling korup di dunia. Padahal setiap tahun selama sebulan penuh dilatih menahan diri dan mengasah jiwa melalui ibadah puasa.Sebuah pertanyaan besar apa yang sebenarnya salah dengan puasa umat Muslim di negeri ini. padahal puasa merupakan aturan serta sebuah  pendidikan dari tuhan yang amat luar biasa untuk membuat manusia mampu mengontrol nafsu dunia. Realitasnya, alih-alih korupsi berhenti dan lenyap dari muka bumi, kegemaran korupsi itu bahkan terus bertumbuh subur di negeri ini. Bahkan konon turut dijangkiti pula oleh politisi-politisi dari partai berlabel agama.

Apa puasanya dan syariatnya yang salah? Tentu saja tidak. Puasa pada bulan Ramadhan adalah Syariat perintah langsung dari Tuhan YME, dan tuhan tidak mungkin salah. Maka jawabannya adalah sangking korupnya manusia, jangankan anggaran negara, puasa pun dikorupsi di negeri ini. Kegemaran kita mengorupsi puasa menjadikan kita bangsa korup karena gagal membumikan pesan-pesan langit syariat puasa ini.

Korupsi puasa bisa dipetakan menjadi dua kategori. Pertama, mengkorupsi puasa dengan tidak menjalankannya padahal puasa hukumnya adalah fardhu ’ain (wajib wajib atas semua orang). Namun betapa mirisnya masih banyak yang menjadikan bulan istimewa ini sama saja dengan sebelas bulan lainnya. Banyak umat islam yang tidak berpuasa, asyik makan, minum, dan merokok di ruang publik tanpa malu-malu, bahkan terkesan bangga.

Kedua, menjalankan puasa tapi masih gemar berdusta, bergunjing, bahkan korupsi yang jelas-jelas adalah musuh semua agama. Tidak menutup kemungkinan bahwa inlah fakta dari pelaksanaan puasa di negara kita hingga mengakibatkan masyarakat, khususnya para pemimpin kita tidak pernah bisa mempelajari hakikat dan hikmah berpuasa, apalagi membumikannya dalam hidup keseharian.

Nabiyullah SAW pernah menyampaikan pada kita semua bahwa betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa pun selain hanya lapar dan dahaga saja. Puasa ramadhan sungguh memiliki hikmah yang luar biasa. Sayangnya justru umat Islam sendirilah yang mendekonstruksi dengan mengorup makna dan keagunganNya. Akibatnya, kita terjebak sekadar pada gempita ritualitas semata, namun gagal beroleh lautan hikmah dariNya.

*Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahla

Menilik Budaya Takjil di Bulan Puasa

Sule Subaweh

Karyawan UAD

Takjilan menjadi budaya pada bulan puasa terutama di masjid-masjid. Takjilan merupakan sumbangan kaum Muslim atau jemaah Masjid yang diberikan secara bergantian sesuai jadwal setiap hari selama Ramadhan. Takjil sendiri berasal dari bahasa Arab disebut ‘ta’jiilul fithr’ artinya mensegerakan berbuka puasa. Akan tetapi makanan yang disajikan untuk berbuka puasa biasanya juga disebut dengan takjil.

Di bulan puasa di bulan penuh hikmah, orang berbondong-bondong panen pahala, salah satunya dengan memberikan buka puasa kepada orang berpuasa atau takjil. Orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya. Jika dia dapat membantu orang lain yang berpuasa agar kuat dengan makan dan minum maka kedudukannya sama dengan orang yang meninggalkan syahwatnya karena Allah, memberikan dan membantukannya kepada orang lain. Namun yang jelas, pemberian takjil harus didasarkan pada keikhlasan pribadi masing-masing tanpa rasa keterpaksaan.

Orang yang memberikan buka akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang yang berpuasa tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang memberi buka orang yang berpuasa, niscaya dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sama sekali.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Selain itu, orang yang memberikan buka kepada orang yang berpuasa, Malaikat akan mendoakannya sampai orang yang berpuasa tersebut menyelesaikan hajatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Sesungguhnya orang yang berpuasa jika ia berbuka pada seseorang, maka malaikat akan mendo'akan orang tersebut hingga orang yang berpuasa tersebut selesai hajatnya, atau: Sampai menyelesaikan makanannya." (HR Darimi dan Abu Ya'la dengan isnad Jayid).

Atas dasar hadis di atas, banyak orang memberikan takjil yang berlangsung selama bulan puasa, biasanya dipusatkan di masjid, surau, musholla, atau langgar. Suasana masjid menjadi lebih hidup. Pemberian takjil biasanya dilakukan menjelang berbuka. Banyak macam pemberian takjil, seperti nasi, roti, kurma, kolak, teh, maupun camilan tradisional lokal lainnya. Takjil disediakan oleh umat secara sukarela sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Untuk itu disyari’atkan bagi umat muslim memberi hidangan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa bersamanya, karena makanan ketika itu sangat disukainya. Di situlah letak nikmat sesungguhnya. Itulah keutamaannya memberikan makanan berbuka untuk orang yang berpuasa.

Kebiasaan memberi takjil itu menjadi rutinitas dan menjadi tradisi dalam masyarakat. Sehingga pada bulan Ramadhan, sudah bisa diduga, masjid-masjid akan terelihat ramai dan lebih makmur jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Penulis berharap, kebiasaan-kebiasaa baik yang dilakukan di bulan puasa tidak hanya berhenti pada bulan puasa saja. Saling memberi seharusnya juga menjadi tradisi pada bulan dan hari-hari biasa. Bulan puasa seharusnya menjadi renungan untuk kita dan menjadikan awal setafet untuk melakukan hal baik.   

Semoga pada bulan-bulan yang lain kepekaan kita terhadap orang yang membutuhkan dan keikhlasan kita saat member, sama dengan ketika bulan puasa. Semoga.

Inovasi Pendidikan: Modul Pembelajaran Berprograma Diujicobakan di SD dan SMP

Di era modern ini, pembelajaran di sekolah dituntut untuk lebih inovatif agar materi yang disampaikan oleh guru dapat terserap ke siswa secara baik dan benar, sehingga dapat lebih memotivasi daya kreatif siswa. Pembelajaran berprograma merupakan jenis inovasi pendidikan dengan prinsip-prinsip belajar melalui langkah pendek, materi dari unit terkecil. Pembelajaran model ini mendorong belajar dengan aktivitas tinggi, adanya umpan balik, maju berkelanjutan.

Pembelajaran berprograma bertujuan untuk pembelajaran secara individual. Jika sudah mengenal pola pembelajarannya, maka anak tidak perlu didampingi oleh guru maupun orang tua. Setiap unit harus dipelajari tuntas (mastery learning system), adanya tes dalam setiap unit, untuk mengetahui ketuntasan materi. Jika siswa belum dapat menjawab dengan benar dia wajib untuk kembali ke bingkai-bingkai sebelumnya dimana dia belum menguasai materi. Setelah jawabannya benar, baru siswa yang bersangkutan boleh melanjutkan ke bingkai berikutnya.

Adalah mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan dengan Dosen Pembimbing Prof. Dr. Suharsimi Ariekunto pada Kamis (31/1/2013) melakukan ujicoba di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta dan Sabtu (20/7/2013) melakukan ujicoba di SD Muhammadiyah Ngupasan, Yogyakarta. Modul Berprograma hasil karya mahasiswa pada matakuliah Inovasi Pendidikan yang diujicobakan untuk SMP meliputi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), sedangkan di SD meliputi mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Dalam praktik pembelajaran berprograma tersebut, siswa terlihat sangat antusias. Tidak ada rasa canggung sedikitpun meski yang mengajar bukan guru kelas mereka. Suasana kelas begitu hidup dengan adanya tanya jawab, kerjasama antar siswa terbangun baik.

“Pembelajaran ini melatih anak untuk berfikir kreatif, jujur, mandiri, dan bertanggung jawab,” ungkap Suprapti, S.Pd. yang mempraktikkan Modul Berprograma PKN didampingi Sukiyah, S.Pd. Kepala Sekolah sekaligus penyusun Modul Bahasa Indonesia. Hal tersebut dibenarkan oleh Joko Widiyanto, S.Pd. yang mengungkapkan bahwa akivitas siswa cukup tinggi digambarkan dengan banyak kegiatan dalam berfikir, bertanya, dan menjawab. “Anak yang pandai akan sangat menikmati pembelajaran model ini, tetapi bagi yang kurang pandai masih perlu pendampingan, “ demikian tambah Joko mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Angkatan II. Sedangkan Sri Harini, S.Pd. dan Riyanto, S.Pd. yang melakukan ujicoba modul di SMP menyampaikan bahwa bahan ajar yang diberikan cukup mampu mewakili guru. Saat mengajar guru harus memberikan contoh/ilustrasi, penguatan, respon, bahkan motivasi. Kalau guru tidak kreatif, bisa-bisa tidak dianggap/diacuhkan, karena siswa sudah sangat asyik dengan modul.

Pengamatan pelaksanaan pembelajaran berprograma dilakukan oleh Yuliani, S.Ag., Naqiyah, S.E., Danang Sukantar, S.Pd. dan dipimpin oleh Prof. Dr.Suharsimi. Program inovasi pendidikan ini dibiayai oleh Program Studi Magister Manajemen Pendidikan dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LPP) UAD. (danang)

PG-PAUD Tandatangani MoU dengan TK ABA se-DIY

Rabu (24/7/2013)  Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) tandatangani Memorandum Of Understanding (MoU) dengan TK ABA se-DIY. Selain penandatanganan MoU, PG-PAUD juga meyelenggarakan workshop selama tiga hari, dari Rabu s/d jum'at. Acara tersebut dalam rangka meningkatkan profesional (PG-PAUD).

MoU PG-PAUD dengan TK ABA se-DIY tersebut, dibuka oleh Dr. Muchlas MT. (warek I), selain itu hadir juga Ketua Prodi PG-PAUD Alif Muarifah, S.Psi.,M.Si dan Dekan FKIP Dra. Trikinasih Handayani, M.Si,  PWA DIY, dan guru TK yang menjadi lembaga mitra PG-PAUD.

Acara yang berlangsung di kampus 5 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) jl Ki Ageng Pemanahan no.19 Sorosutan Yogyakarta tersebut, mengusung tema "Mengenali dan mengendalikan emosi anak" Ibu Alif Muarifah menyampaikan, kita sebagai guru harus lebih kreatif, inovatif agar dapat mengendalikan emosi anak. “Dengan kerjasama ini diharapkan kedepan kita lebih baik” harapnya.

Pada kegiatan workshop, para peserta akan diberikan materi yang terdiri dari: pengenalan emosi, pengendalian emosi dan kemampuan mengekspresikan emosi dengan tepat (peningkatan emosi positif). (Doc)