Fakultas Teknologi Industri Persiapkan Mahasiswa Menuju PKM

Dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan dan berjiwa mandiri serta arif.  Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) UAD diberikan Pelatihan PKM.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Industri (FTI) UAD Rabu, 26 Juni 2013 tersebut, berlangsung di Auditorium Utama Kampus 3. Hadiri Dekan FTI, Wakil Dekan FTI, para Kaprodi, para Dosen Pembimbing, serta 59 mahasiswa FTI yang terdiri dari beberapa Tim dari 4 prodi di antarnaya: Teknik Kimia, Teknik Informatika, Teknik Industri, Teknik Elektro.

PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi. Untuk itu, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, dan membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni.

Adapun pembicara yang memberi materi pelatihan adalah Dr.rer.nat.Endang Darmawan ,M.Sc.,Apt. dari Farmasi dan Nuryono Satya Widada ST,MT. dari Teknik Elektro.

“Pelatihan ini bertujuan untuk merangsang minat bakat mahasiswa dalam menggali ide, dan topic yang segar. Agar para mahasiswa mampu menyusun Proposal PKM dengan baik dan benar dengan mengikuti panduan penyusunan PKM” terang Ibu Jamil

Jenis PKM yang dapat diikuti adalah PKM Penelitian (PKM-P), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T) dan PKM-KC , PKM Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT). Proposal yang sudah tersusun nantinya akan diajukan ke Ditjen DIKTI dan diharapkan banyak proposal yang akan lolos seleksi dan didanai oleh DIKTI. (Doc)

UAS 2013

Ujian akhir semester mulai tanggal 1 Juli sampai dengan 16 Juli 2013

Mahasiswa Fakultas Hukum Kunjungi Tiga Institusi Negara

Demi menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman lapangan, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan studi lapangan di tiga institusi Negara, di antaranya: Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (Kemenperindag). Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari (23-26/6) dengan agenda kunjungan studi dan diskusi ilmiah antar instansi dengan mahasiswa.

Studi lapangan ini diikuti oleh mahasiswa semester enam dan semester delapan. Hal tersebut  sebagai upaya Fakultas Hukum untuk memberikan referensi awal bagi penelitian skripsi mahasiswa.

Pada pertemuan di setiap kunjungan, mahasiswa diberikan kuliah singkat oleh wakil dari tiap instansi. Pertemuan awal di Mahkamah Konstitusi (MK), para mahasiswa diberikan kuliah singkat oleh Hakim Konstitusi, Dr. H. Ahmad Fadlil Sumadi, S.H., M.Hum (24/6). Sementara itu di KPK, mahasiswa diberikan pemaparan oleh Dani Setiawan dari Deputi Bidang Pencegahan (24/6). Pemaparan terakhir disampaikan oleh Djunari Inggit Waskito, S.H., LL.M. selaku Direktur Kerjasama Multilateral, Direktorat Jendral Kerja Sama Perdagangan Internasional (25/6).

Mahasiswa terlihat antusiasme dengan tanya-jawab dalam diskusi dan berbagai sharing ilmiah pada kesempatan tersebut. Mahasiswa dalam kegiatan tersebut dibimbing dan didampingi oleh Nurul Satria Abdi, S.H., M.H., Mufti Hakim, S.H., Fauzan Muhammadi, Lc., LL.M., dan Nur Chalik, S.H.

“Ini dilakukan agar tidak hanya bersifat kunjungan semata, tapi juga bersifat ilmiah” ungkap Nurul Satria Abdi salah satu pembimbing.

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang dulunya diawali oleh Dekan Fakultas Hukum sebelumnya (1997-2008), Suryadi, S.H., M.Hum., pada tahun 2008.

Rahmat Muhajir Nugraha, S.H., M.H., Dekan Fakultas Hukum saat ini berharap, bahwa agenda ini bisa menjadi wadah diskusi mahasiswa secara langsung dengan beberapa instansi atau lembaga negara yang tidak akan mereka temui di perkuliahan.

Di tempat terpisah, Yunus Anis, salah satu peserta mengaku sangat menikmati kegiatan ini. Kami bisa berhadapan langsung dengan praktisi dan mendapatkan penjelasan dari sisi yang berbeda. Ia menambahkan, bahwa studi lapangan ini sangat mendukung perkuliahan mahasiswa. “Walaupun demikian masih banyak yang perlu dievaluasi dari agenda kunjungan ini” tuturnya. (fmi)

Ande-Ande Lumut Ala China

Yogyakarta (28/06/2013), Mahasiswa China Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menampilkan pertunjukkan Ande-Ande Lumut di Hall Kampus 2 UAD. Selama kurang lebih 1 jam, sejumlah mahasiswa China tersebut memberikan hiburan bagi para penonton dan juga Dosen Sastra Indonesia yang pada malam itu hadir. Penampilan drama Ande-Ande Lumut ini sendiri sebenarnya merupakan rangkaian acara pelantikan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) dari Program Studi Sastra Indonesia.

“Saat merencanakan acara pelantikan HMPS ini, kebetulan mas Iqbal (dosen kelas Drama) menawarkan kami agar mahasiswa China dilibatkan dalam acara ini dengan menampilkan suatu hiburan dan mas Iqbal pun bersedia melatih mahasiswa China tersebut”, kata Dra. Ani Yuliati, M.Hum-Ketua Program Studi Sastra Indonesia UAD.

Ada hal yang menarik dari penampilan mahasiswa China tersebut, di mana banyak kosa kata bahasa Indonesia yang tidak dapat diucapkan dengan tepat sehingga menimbulkan tawa tersendiri dari para penonton. “Diajem maukah kamu menjadi istriku?”, kata Yogi-pemeran pangeran. Kata “diajem” yang seharusnya “diajeng” tersebut sontak menimbulkan canda tawa dari para penonton.

Mahasiswa China sendiri membutuhkan waktu 2 minggu untuk berlatih guna menampilkan pertunjukkan drama Ande-Ande Lumut tersebut.  Mahasiswa Sastra Indonesia UAD sendiri juga memberikan andil bagi pertunjukkan drama ini, yakni dengan membantu mahasiswa China berlatih. “Kami sangat senang, teman-teman Indonesia sangat ramah dalam membantu kami berlatih”, kata Xinxing-salah satu mahasiswa China yang ikut dalam pertunjukkan. (CF)

Mahasiswa Seharusnya Menjadi Garda Terdepan Bangsa

Taufik Saefudin menyatakan, bahwa Mahasiswa yang seharusnnya menjadi garda terdepan dalam pembangunan bangsa dan Negara, justru menjadi problem kebangsaan. “Pemuda dan mahasiswa sekarang terjebak dalam paradigma pragmantis yang merupakan dampak dari pluralisme dan globalisasi” ungkap Taufik pada diskusi yang aktif Refleksi Pemuda dan Mahasiswa yang diadakan BEM Fakultas Hukum Univeristas Ahmad Dahlan (UAD) Selasa (19/6/2013)

Acara ini digelar di Hall kampus 2 UAD terseubt sebagai purna agenda sebelum mahasiswa menghadapi Ujian Akhir Semester yang akan dilaksanakan awal Bulan Juli. Refleksi ini digarap dengan wadah diskusi publik, terbuka secara umum. Acara ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu: Nurul Satria Abdi, S.H., M.H. (Dosen Fakultas Hukum), Ahmad Khalik (Mantan Ketua BEM Se-DIY), dan Taufik Saefudin (Aktivis HMI).

Diskusi yang dimoderatori oleh Supian Hadi ini mengetengahkan persoalan gerakan pemuda dan mahasiswa. Refleksi ini digelar karena menurut Erif Fahmi, selaku Ketua Panitia, bahwa basis pemuda yang kebanyakan mahasiswa sudah melenceng dari khitahnya, padahal mereka berstatus sebagai kontrol sosial.

Di sisi lain, Pak Satria, demikian Dosen Fakultas Hukum ini biasa dipanggil, mengemukakan bahwa sejatinya pemuda memiliki tiga status utama, yaitu: Agent of Change, Penegak Hukum, dan Pejuang Demokrasi.

Di tempat terpisah, Aji Galih, Ketua BEM Fakultas Hukum UAD, menyatakan bahwa acara ini digelar bertujuan untuk memberikan kesadaran mahasiswa agar bisa kembali memahami status kepemudaan mereka, sehingga apa yang diharapkan dapat terwujud. (fmi-anr)

Mahasiswa Sastra Inggris Gelar Pertunjukkan Drama dan Puisi

Yogyakarta (26/06/2013), mahasiswa kelas Telaah Drama dan Puisi, Program Studi Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan pertunjukkan drama serta puisi yang diselenggarakan di Lobby Kampus 2 UAD. Pertunjukkan ini merupakan tugas akhir bagi Mata Kuliah Telaah Drama dan Puisi, yang pada semester sebelumnya juga sudah pernah diadakan. Semua mahasiswa mengambil bagian dalam acara yang digelar selama kurang lebih 3 jam,  dari pukul 09.00-12.00 WIB. Ada yang berperan sebagai panitia acara, ada juga yang berperan untuk tampil di atas panggung. Dengan berbagai kreativitas mahasiswa yang ditampilkan di atas panggung. Acara ini dapat berjalan sukses dan mendapatkan antusias dari para mahasiswa lain yang menjadi penonton.

Selama kurang lebih 2 bulan, mahasiswa Sastra Inggris mempersiapkan acara ini. Selain harus mengadakan penjualan baju pantas pakai untuk penggalangan dana. Mereka juga harus berlatih drama dan puisi yang terkadang sampai malam hari. Banyak hal baik suka maupun duka yang dilalui ketika mempersiapkan acara tersebut. “Mencari waktu untuk berlatih bersama terkadang susah, dan dari teman-teman sendiri biasa juga ada yang kurang aktif sehingga cukup susah untuk diajak kerjasama”, kata Imanuddin-ketua panitia.

Dengan acara ini sendiri, diharapkan mahasiswa bisa menampilkan kreativitas mereka dalam bidang kesenian. Jika biasanya mahasiswa hanya mendapatkan teori tentang drama dan puisi di kelas, melalui acara ini mereka dapat praktek langsung bagaimana tampil di depan umum. “Satu hal yang menarik, bahwa ternyata mahasiswa yang mempunyai prestasi bagus di kelas ternyata ketika diminta untuk tampil di atas panggung justru kurang bagus, akan tetapi mahasiswa yang di kelas biasa saja justru cukup bagus ketika menampilkan kesenian,” kata Tri Rina Budiwati, S.S., M.Hum-Ketua Program Studi Sastra Inggris.(Doc)

Studi Teater 42: “Koran” Mampu Membuat Orang Tersingkir

 

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah kira-kira nasib menjadi “wong cilik”. Warung Sanah terancam digusur karena Pemerintah sedang melakukan penataan dalam rangka promosi Kota. Tapi bukan itu saja yang membuat hati Sanah galau karena permasalahannya tidak berhenti sampai di situ. Fotonya dengan mbah Raken yang sedang pijet-pijetan di warung terpampang di Koran yang memuat berita penggusuran tersebut. Mendengar kabar tersebut, Karta, suami Sanah menjadi naik Pitam. Joko, tukang parkir, yang menjadi pelanggan setia di warung Sanah, memanfaatkan situasi ini untuk mengenyahkan saingannya, mbah Raken, dalam memperebutkna hati sanah.

Begitulah ringkasan cerita pementasan Teater 42 yang berlangsung Sabtu 29 Juni 2013 di kampus 2 Univeritas Ahmad Dahlan (UAD). Pentas yang berlangsung di basement tersebut merupakan Studi Pentas Komunitas Teater 42 yang berkisah tentang dinamika kehidupan yang terjadi seputar warung tradisional pada naskah drama “Koran”  karya Agung Widodo.

Menurut Angga Palsewa Putra. Warung tradisional sebagai salah satu elemen penting dan tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat kelas bawah menyimpan beragam cerita menarik. Mulai dari persoalan ekonomi, sosial, politik sampai pada perkara asmara. “Alasan tersebut yang menjadikan naskah ini layak dan menarik untuk diangkat ke atas panggung menjadi sebuah pertunjukan drama” ungkapnya dalam Facebook-nya.

“Harapannya pementasan ini dapat memberikan hiburan sekaligus sebagai sebuah bentuk usaha mendayagunakan seni yang mampu menyajikan realitas sosial disekitar kita” harapnya. (Doc)

 

Lowongan Dosen Universitas Ahmad Dahlan 2013

Lowongan Dosen Universitas Ahmad Dahlan 2013, melengkapi iklan Lowongan Dosen UAD di harian Kedaulatan Rakyat dan Republika pada hari Sabtu, 29 Juni 2013 bersama ini kami sampaikan informasi sebagai berikut:

Berkas lamaran diserahkan langsung ke Bidang Pengembangan SDM Universitas Ahmad Dahlan, Kampus I Jalan Kapas 9 Semaki Yogyakarta 55166 atau dikirimkan email ke sdm[at]uad.ac.id dan berkas lamaran dilampirkan dalam sebuah file (*rar, *zip, *pdf).  Waktu pendaftaran  tanggal 1 – 10 Juli 2013, dengan dilengkapi Surat Lamaran dengan menyebutkan prodi yang dilamar, Riwayat Hidup, Surat Pernyataan dengan blanko diunduh di web psdm.uad.ac.id. 

Pengumuman Seleksi Administrasi tanggal 12 Juli 2013 dapat dilihat di psdm.uad.ac.id

lowongan dosen Universitas Ahmad Dahlan 2013

Di sela-sela Kesibukan, Rektor UAD Kasiyarno Raih Gelar Doktor

 

Lulus Sangat memuaskan, Begitulah catatan para penguji saat Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Drs. Kasiyarno, M.Hum., berhasil meraih doktor dari Program S-3 Pengkajian Amerika Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM.

Kasiyarno yang juga menjadi ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah V berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Budaya Hegemonik Amerika Serikat di Malaysia Pasca Perang Dingin 1999-2000 di hadapan tim penguji yang diketuai oleh Prof. Dr. Syamsul Hadi., S.U., M.A di Gedung R.M. Margono Djojohadikusumo, Kamis (27/06/2013).

Prof. Djuhertati Imam Muhni, M.A., Ph.D. mengatakan, saat kami tahu Kasiyarno adalah Rektor UAD. Kami sempat bertanya-tanya bahkan diragukan akan menyelesaikan Studi S-3-nya. “Tapi dengan selesainya ujian terbuka hari ini, pertanyaan tersebut terjawab sudah. Selamat”

“Saya berjuang untuk menyelesaikan disertasi ini, sebisa mungkin saya cicil. Meskipun, disibukkan dengan urusan akademik” tutur Kasiyarno.

Kasiyarno berharap Penelitian tersebut, dapat bermanfaat untuk menambah khasanah keilmuwan dalam American Studies, terutama dalam setting pengaruh budaya hegemonik AS keluar negeri, khususnya ke wilayah Asia Tenggara. 

Pada kesempatan tersebut, hadir juga Prof Dr. Amien Rais yang juga menjadi salah satu penguji dari delapan penguji. (Sbwh)

Ulil Amri dalam Pandangan Islam

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. an-Nisaa’: 59)

Begitulah Hadis yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag pada pengajian songong ramadhan Selasa (25/062013) di Auditorium Kampus 1. Lebih lanjut dia menambahkan bahwa Para ulama mengatakan: yang dimaksud dengan ulil amri adalah orang-orang yang Allah wajibkan untuk ditaati yaitu penguasa dan pemerintah. Inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama salaf/terdahulu dan kholaf atau belakangan dari kalangan ahli tafsir maupun ahli fikih dan selainnya. “Ada yang berpendapat bahwa ulil amri itu adalah para ulama. Ada yang mengatakan bahwa mereka itu adalah umara’/pemerintah dan ulama” tutur Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag  

Yunahar Ilyas  yang juga menjadi Pengurus Badan Pembina Harian (BPH)  mengatakan. Jika ada perbedaan dalam menentukan ramadhan atau lenbaran, kemungkinan yang terjadi pertikayan. Maka dari itu pemerintah sebagai ulil amri, di sini Majelis Ulama Indonesia (MUI) wajib memutuskan, untuk meredap perbedaan.

“Yang harus diperhatikan adalah, bahwa perbedaan penentuan lebaran bukan masalah masyarakat, bukan masalah politk keagamaan. Ini masalah agama, jadi harus diselesaikan dengan keagamaan tanpa embel-embel di belakangnya”

Acara yang dihadir oleh karyawan dan dosen UAD tersebut, merupakan acara rutin tahunan yang diadakan oleh Pengurus Badan Pembina Harian. Pada kesempatan tersebut tema yang diangkat tentang Ulil Amri dalam Pandangan Islam. (Sbwh)