Teduh: Sebuah Novel di Antara Tesis dan Pekerjaan

“Aku mulai menyumpah diri. Pantang berhenti sebelum keringat menetes, pantang pulang sebelum kebenaran hidup ada di genggaman.” (Teduh, hlm. 99)

Bagi Sigit Apriyanto, S. Pd., menulis karya fiksi merupakan suatu hal yang baru. Sebelumnya, mahasiswa Pascasarjana Pendidikian Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan (PBI-UAD) Yogyakarta ini lebih sering menulis karya-karya ilmiah seperti modul pembelajaran daripada karya sastra. Berkat kegigihan dan keinginan yang kuat, pada awal tahun 2017 novel pertamanya yang berjudul Teduh akhirnya dapat terbit.

“Dari novel ini, saya punya cerita yang ingin saya bagikan kepada orang lain. Karena saya bukan orang yang gampang percaya dengan orang lain, maka saya melampiaskan apa yang ada di pikiran dan perasaan saya dalam tulisan. Saya juga bukan ‘pelupa yang baik’ atas masa lalu saya, novel Teduh yang saya tulis merupakan masa lalu saya yang sulit untuk dilupakan,” terang Sigit ketika ditemui di sela-sela kesibukannya.

Menurut penuturannya, petama kali dia mecoba untuk menulis terinspirasi dari sebuah buku berjudul Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan beberapa film yang diangkat dari tulisan Buya Hamka. Lelaki kelahiran Cilacap 29 tahun yang lalu ini sempat galau menentukan tema yang akan diangkat menjadi sebuah tulisan, sampai akhirnya mendapat pencerahan dari sebuah film berjudul The Great Gatsby. Ada diaolog antartokoh yang membuat Sigit kemudian memutuskan untuk menulis masa lalunya. “Tulislah apa yang pertama Anda pikirkan, dan tuliskan apa yang paling dekat dengan Anda.” (The Great Gatsby).

“Pada tahun 2014 saya mulai menulis dalam rentang waktu 2 sampai 3 bulan tanpa mengetahui teknik-teknik menulis novel. Saat itu saya benar-benar belum paham mengenai sastra, yang terpenting saat itu saya ingin menuliskan apa yang ingin saya tuliskan.” Ungkap Sigit sambil berkelakar.

“Di suatu waktu setelah menyelesaikan draf, saya sempat bertemu dengan seorang kawan di suatu organisasi, namanya Iqbal Saputra. Waktu itu saya memberanikan diri untuk memberikan draf itu kepadanya karena saya pikir dia paham tentang karya sastra. Baru beberapa paragraf dibaca dia nyeletuk ‘karyamu jelek aja belum’. Bagi saya ini sangat menyakitkan, dan saya berpikir apa maksud dari perkataannya.” Lanjut Sigit.

Setelah beberapa kali berdiskusi dengan Iqbal dan bertemu beberapa rekan di Kelompok Belajar Sastra Jejak Imaji, Sigit memahami bahwa tulisannya perlu diperbaiki lagi.

 

Perbaiki Tulisan dan Bekerja

Tidak mudah bagi Sigit untuk memperbaiki tulisan yang sudah jadi. Ia harus membagi waktu sebagai pengajar di LPK (Lembaga Pendidikan Kursus) di Yogyakarta, menyelesaikan tesis, dan merampungkan novelnya. Bagi lelaki yang kini berdomisili di Yogyakarta ini membagi waktu adalah sesuatu yang sangat sulit, dibutuhkan konsistensi dan semangat untuk menyelesaikan setiap pekerjaan.

“Saya memutuskan untuk menyelesaikan novel waktu dini hari. Dini hari adalah saat mood saya sedang baik. Kata kawan saya yang bernama Sule, mood itu harus diciptakan, bukan ditunggu.” Ungkapnya.

Selama proses penulisan novel Teduh, banyak hal yang dialami dan tidak terduga bagi ayah Nayla ini. Dia dipertemukan dengan orang-orang baru dan yang sangat tidak diduga adalah Rektor UAD, Dr. Kasiyarno, M.Hum., mau memberikan kata pengantar bagi novelnya.

“Kebetulan Pak Kasiyarno adalah pembimbing tesis saya. Alhamdulillah juga beliau mau memberikan kata pengantar di dalam novel Teduh. Mungkin selanjutnya mau memberikan acc tesis saya,” kata Sigit diiringi tawa.

Bagi Sigit, novel yang ia tulis sebenarnya dipersembahkan pada putrinya yang bernama Nayla. Nayla selalu menjadi penyemangat ketika terpuruk. Lelaki berambut klimis ini memiliki keinginan agar kelak putrinya membaca Teduh ketika sudah tumbuh dewasa. Agar Nayla tahu bagaimana perjuangan hidup ayahnya.

“Plan ke depannya saya akan melanjutkan novel ini menjadi dwilogi atau trilogi, sebab beberapa pembaca menanyakan kelanjutan ceritanya ketika Januari kemarin Teduh di launching di salah satu SMK di Cilacap dan Februari di salah satu yayasan AIDS Indonesia di Yogyakarta.”

Rencananya, pada tanggal 8 Maret 2017 novel Teduh karya Sigit Apriyanto akan didiskudikan di Forum Apresiasi Sastra (FAS) yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah dengan Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UAD di Hall Kampus 2, Jalan Pramuka. (ard)

GRATIS OPERASI KATARAK

Assalamualaikum wr. wb

Sebagai wujud pengabdian masyarakat,  Mahasiswa Ahmad Dahlan Pecinta Alam  Universitas Ahmad Dahlan (MADAPALA-UAD) bekerjasama dengan Yayasan Dharma Bakti Sosial (DHARMAIS) dan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) akan mengadakan "BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK" GRATIS tanpa dipungut biaya!

Pendaftaran
dibuka mulai tanggal 3 Maret 2017 sampai 21 April 2017

Screening (check kondisi mata, gula darah dan Tensi)
Hari Sabtu, 22 April 2017
pukul 07.00-13.00 wib
di Kampus 1 UAD Jl. Kapas no. 9 Semaki Yogyakarta

Operasi
Hari Minggu, 23 April 2017
di Rumah Sakit UAD (RS Holistika Medika
Dusun Karangsari RT 006 RW 031 Wedomartani, Ngemplak, Sleman DIY

Syarat dan Ketentuan:

  1. WNI
  2. Membawa 2 lembar fotocopy KTP sewaktu screening
  3. Pendaftaran dapat melalui contact person MADAPALA atau langsung datang ke Sekretariat MADAPALA.

Sekretariat: Gedung IT Center UAD Lt. 1 Jl. Kapas No. 9 Semaki Yk
Telp/WA  +6285727893812

Besar harapan kami, saudara saudari semua dapat menyebarluaskan informasi ini
Salam Bakti Sosial

Wassalamualikum wr. wb

#baktisosial
#mapala
#universitasahmaddahlan
#RSHolistikaMedika
#pecintaalamindonesia

 

DECO UAD Ajak Perluas Wawasan dengan Debat Bahasa Inggris

Debating Community Universitas Ahmad Dahlan (DECO-UAD) bekerja sama dengan Jogja Debating Forum (JDF) mengadakan debat bahasa Inggris tingkat nasional. JDF OPEN UAD tahun ini mengangkat tema “Arguing like never before” dan berlangsung selama dua hari pada tanggal 25-26 Februari 2017 di kampus 3 serta penutupan di auditorium kampus 1 UAD.

Pada kesempatan tersebut hadir perwakilan dari civitas kampus, yakni Dwi Santoso, Ph.D. Ia sekaligus membuka secara resmi lomba debat bahasa Inggris tersebut. Peserta lomba kali ini berasal dari universitas-universitas ternama di Indonesia, seperti UI, UGM, ITB, Binus, UNY, UNDIP, STIPRAM, dan lain-lain.  

Lidya selaku ketua DECO menjelaskan, sudah dua kali DECO menyelenggarakan lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional. Sebelumnya pada tahun 2006, DECO juga pernah mengadakan lomba serupa, yaitu Indonesian Varsities English Debate (IVED).

“Kami berharap, acara ini menjadi event tahunan untuk dapat meningkatkan eksistensi DECO UAD di regional, nasional, maupun Internasional,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, JDF OPEN Debate Tournament UAD menggunakan sistem british parliamentary yang terdiri atas dua debater dalam satu tim, tetapi tidak ada N1 adjudicator.

Kegiatan ini merupakan ajang lomba debat bahasa Inggris berkualitas tinggi karena semua juri sudah terakreditasi dan terbukti kredibilitasnya. Mereka menyusun tema terkait isu-isu nasional maupun internasional untuk didiskusikan.

“Kegiatan lomba ini adalah wadah bagi para debaters untuk meningkatkan critical thinking, public speaking, and confidences. Selain itu juga untuk memperluas wawasan mengenai isu-isu yang terjadi saat ini,” pungkas Lidya. (Doc)

 

CCA Pojok ASI FKM: Let’s Find The Miracle of ASI

Cerdas Cermat (CCA) ASI merupakan event tahunan yang dilaksanakan oleh Pojok ASI Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (FKM-UAD) Yogyakarta. Acara yang berlangsung di audit A kampus 3 UAD ini mengusung tema “Lets Find The Miracle of ASI”.

“Peserta yang ikut adalah mahasiswa berbasis kesehatan, seperti Keperawatan, Kebidanan, Gizi, dan Kesehatan Masyarakat se-DIY Jateng,” terang Lina Handayani, SKM., M.Kes., Ph.D. dalam rillisnya, Minggu, (26/2/2017).

Lebih lanjut, Lina yang merupakan dosen FKM UAD ini menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti oleh 20 tim, setiap tim terdiri atas 3 orang. Mereka berasal dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Semarang, Universitas Gadjah Mada, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Akademi Kebidanan Yogyakarta, Akademi Kesehatan Karya Husada, Universitas Aisyiyah, Stikes Bethesda, Stikes Surya Global, Stikes Guna Bangsa, dan UAD.

Kegiatan CCA terdiri atas 3 babak. Babak pertama berupa tes tertulis, peserta dengan poin 9 akan masuk ke babak kedua. Pada babak kedua, peserta memperebutkan tiga kursi untuk 3 tim, yang selanjutnya masuk ke babak final. Selain itu, acara CCA juga dimeriahkan oleh band “Imaji Pagi” yang diundang panitia untuk menghibur peserta CCA ketika jam istirahat berlangsung.

Tim FATIH Universitas Gadjah Mada berhasil meraih juara pertama dengan poin terbanyak 440, Akademi Kebidanan Yogyakarta meraih juara kedua dengan poin 350, dan Stikes Guna Bangsa meraih juara ketiga dengan poin 260. Ketiga pemenang masing-masing mendapatkan piala, uang pembinaan, sertifikat, dan plakat UAD. Kegitan ini mendapat dukungan penuh dari civitas akademika FKM UAD,  yaitu para dosen dan dekanat. (Dok)

 

 

Prodi Ilmu Komunikasi UAD Adakan Workshop Internasional dengan USANT Filipina

Sejak diresmikan pada tahun 2013, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memiliki grafik peningkatan yang begitu pesat, baik dari segi akademik dan non-akademik. Ketika awal diresmikan, Prodi Ilmu Komunikasi sudah mampu membuat jurnal yang terakreditasi. Dua tahun kemudian, yakni tahun 2015, Prodi tersebut resmi mendapat Akreditasi B dari BAN-PT.

Tahun ini, Ilmu Komunikasi UAD berhasil mengadakan kegiatan bertaraf internasional.  Kegiatan ini meliputi workshop internasional mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan mahasiswa Saint Anthony University (USANT), Filipina. Workshop bertema “2nd Internastional Workshop on TV Broadcasting: Friendship in Harmony” ini merupakan kegiatan kedua yang dilaksanakan sebagai bentuk kerja sama antara kedua universitas tersebut.

Kegiatan yang dilaksakan selama 24 hari, terhitung dari tanggal 23 Januari 2017 hingga 16 Februari 2017 ini diikuti oleh 10 peserta, yakni 4 peserta dari USANT dan 6 peserta dari mahasiswa Ilmu komunikasi UAD. Khusus untuk peserta UAD, pemilihan peserta dilakukan melalui beberapa tahapan seleksi, yang pada akhirnya terpilih 6 mahasiswa yang mendampingi 4 mahasiswa asal Filipina selama kegiatan.

Dalam pelaksanaannya, menurut Kepala Prodi Ilmu Komunikasi, Choirul Fajri, S.I.Kom., M.A., para peserta tidak hanya berkegiatan di dalam ruangan saja, tetapi juga diarahkan untuk di luar ruangan.

“Tujuan acara ini untuk memberikan pengetahuan tentang proses pembuatan program televisi secara lebih mendalam kepada para peserta,” ucapnya.

 Kegiatan dimulai dengan pemberian materi. Setelah itu, mereka langsung praktik di lapangan untuk pembuata film. Untuk aplikasi lebih mendalam, mereka juga melakukan survei  ke ADI TV.

Workshop internasional tahun ini diharapkan mampu memberikan pengaruh positif dan dapat meningkatkan jalinan kerja sama yang lebih baik lagi antara UAD dengan USANT.

“Ya, semoga kerja sama ini bisa terjalin lebih baik lagi di tahun-tahun ke depannya,” pungkas Fajri. (dok)

UAD Terus Tingkatkan Kualitas

“Untuk meningkatkan jaminan mutu di program studi masing-masing, kita harus bekerja keras,” kata Prof. Drs. Sarbiran, M.Ed., Ph.D. selaku Wakil Rektor 4 saat membuka Workshop Monitoring dan Evaluasi Kurikulum Program Studi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (25/2/2017).

Workshop tersebut merupakan pengingat agar UAD selalu berusaha semakin maju dan berkembang, sehingga kualitas dosen dan mahasiswa pun semakin meningkat.

“Diharapkan masing-masing program studi yang ada di UAD mendapatkan ide baru yang bisa menghasilkan kualitas yang baik,” lanjut Sarbiran sebelum menutup sambutannya.

Ketua Badan Pengembangan Akademik (BPA), Drs. Ishafit, M.Si. juga menyampaikan, dalam acara tersebut semua peserta dapat berbagi informasi satu sama lain. Segala sesuatu yang ditemukan di prodi, berupa kekurangan maupun kelebihan, dapat didiskusikan untuk arah yang lebih baik.

“Kita juga akan melihat apakah metode yang digunakan oleh prodi sudah relevan dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat,” jelasnya Ishafit saat memberikan sambutan.

Lebih lanjut, Dosen Fisika UAD tersebut menambahkan, target pada workshop adalah produk dari instrumen yang sudah dibuat. Data-data ini akan digunakan pada banyak hal, terutama untuk borang Perguruan Tinggi dan yang pasti untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi.

Lansia Perlu Mandiri dan Bahagia

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi dengan jumlah lansia terbanyak secara skala nasional. Oleh karena itu, kualitas kehidupan para lansia sangat perlu diperhatikan oleh semua pihak.

Berbekal hal tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (FKM-UAD) melakukan pengabdian masyarakat kepada para lansia di Desa Sorogenen, Gamping, Kabupaten Sleman.

Kegiatan ini diprakarsai oleh para dosen FKM, yaitu Ratu Matahari, M.Kes., Rochana Rullyandari, M.Kes., dan Firman, M.Kes. Dukungan sepenuhnya diberikan oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UAD agar tujuan diselenggarakan acara ini berhasil dicapai.

“Kegiatan seperti ini berguna untuk meningkatkan kualitas kesehatan jasmani maupun rohani,” kata Ratu.

Pengabdian yang belangsung pada Minggu dan Senin 18-19/02/2017 tersebut mengusung tema “Lansia yang Sehat, Berdaya, dan Mandiri untuk Meningkatkan Usia Harapan Hidup”.

Ada beberapa kegiatan yang diberikan pada lansia, di antaranya penyuluhan kesehatan, praktik senam anti stroke, senam penguin, membuat kerajinan tangan sederhana berbahan dasar kertas yang berguna untuk mengisi waktu luang lansia sehari-hari, bernyanyi bersama, hingga pembagian door prize menarik.

“Dalam kegiatan tersebut juga disisipi game menarik, seperti game Gajah dan Semut,” terang Ratu.

Lebih lanjut Ratu menjelaskan, game tersebut berguna untuk melatih daya ingat para lansia. Dalam melakukan permainan, para lansia diminta untuk membuat gerakan lingkaran kecil dan berkata “besar” apabila tim pengabdian menyebut “Gajah”, begitu juga sebaliknya apabila disebut kata “Semut”.

Para lansia antusias selama mengikuti kegiatan. Sumarwoto selaku Kepala Dukuh sangat mengharapkan kegiatan seperti ini dilakukan secara rutin dengan sasaran penyuluhan yang berbeda, dan meminta agar praktik senam anti stroke dilaksanakan pada saat pelaksanaan posyandu lansia yang diadakan secara rutin sebulan sekali.

 

Faktor Penyebab Krisis Kemanusiaan

“Cara untuk menggali persoalan kemanusiaan yakni dengan mencari tahu berbagai faktor penyebab krisis kemanusiaan di dunia. Baru setelah itu mencari solusi melalui nilai-nilai perspektif Islam, tentu saja dengan pendekatan multidimensi,” kata Dr. Yoyo, M.A. dalam sambutannya dalam acara International Conference on Islamic Studies di Hotel Inna Garuda Jl. Malioboro 60 Yogyakarta pada Rabu, (22/02/2017).

Acara yang diadakan Fakultas Tarbiyah dan Dirasat Islamiyah serta Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tersebut berkolaborasi dengan Universitas Malaya. Tema yang diusung adalah “Reviving Islamic Values in Response to Human Crisis”.

Yoyo selaku ketua panitia berharap ke depannya kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama beberapa negara-negara Islam dan menjadi solusi atas permasalahan terkait krisis kemanusiaan saat ini.

Kegiatan ini dihadiri sekitar ratusan tamu undangan dan menampilkan tujuh pembicara andal di bidang ekonomi Islam, politik kawasan negara-negara Islam, dan kesehatan secara Islam dari tiga negara yaitu Indonesia, Inggris, dan Malaysia. Mereka di antaranya adalah  Prof. Jasser Auda, Prof. Dato Seri, Dr. Asiah Abdurrahim, Dr. Ali Abdul Mun’im, Dr. A. M. Diponegoro, Prof. Dr. Mat Rofa Ismail, dan Ahmad Arifin bin Sapar, Ph.D.

Acara tersebut semakin meriah ketika dilakukan presentasi oral oleh para peneliti, dosen, dan kalangan lainnya dengan topik ekonomi, pendidikan, sosial politik, hingga topik kesehatan dalam kajian islami.

Jasser Auda dalam pidatonya menyampaikan, “Hari ini kita menghadapi krisis kemanusiaan yang bersifat multidimensi, yakni pengetahuan dan kepercayaan. Dengan kata lain, krisis pada iman dan pada akhlak. Orang Islam hari ini menerapkan keimanannya secara dangkal yang tidak dapat menggerakkan kekuatan untuk membangun peradaban.”

Sisi lain, lanjut Jasser, krisis kemanusiaan juga berimbas pada krisis pada sektor kesehatan. Banyak layanan kesehatan kini menjadi bisnis, bisnis termasuk dengan penyakit massal, perusahaan membuat penyakit sekaligus obatnya. Semuanya demi untuk memenangkan monopoli besar-besaran di seluruh dunia.

Peneliti Harus Publikasi Hasil Karyanya

The 5th URECOL (University Research Colloquium) dilaksanakan dengan beragam tujuan. Salah satunya sebagai sarana agar hasil penelitian dan pengabdian masyarakat tidak hanya berhenti pada hasil penelitian saja, tetapi sampai pada tahap publikasi dan komersialisasi.

Kegiatan URECOL kali ini mengangkat tema “Cinta Tanah Air”, yang berlangsung pada Sabtu, (18/2/2017) di auditorium kampus 1 UAD. Hadir sebagai pembicara di antaranya Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec. selaku wakil dari Majelis Dikti PPM, dan Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H.

 “Saya berharap hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dapat memberikan manfaat kepada kita semua dan masyarakat,” ucap Dr. Surahma Asti Mulasari, M.Kes. selaku ketua panitia dalam sambutan di hadapan 304 peserta URECOL.

Dosen FKM UAD tersebut menjelaskan, The 5th URECOL merupakan forum yang berfungsi untuk memfasilitasi diseminasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Acara ini merupakan upaya memberikan kesempatan kepada para peneliti dalam melakukan publikasi ilmiahnya. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerja sama dengan konsorsium Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) untuk menyelenggarakan URECOL yang kelima kalinya,” ucapnya.

Selain itu, URECOL juga dimanfaatkan sebagai forum seminar nasional yang memberikan ruang untuk diseminasi, diskusi, serta mendapatkan follow up atas research outcomes yang lebih bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adapun pembicara dalam acara ini yaitu :

  1. Bapak Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec. selaku keynote speaker I
  2. Bapak Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H. selaku keynote speaker II

Dalam kesempatan ini kami mohon maaf pula karena yang semula diagendakan untuk menjadi keynote yaitu Pak probowo tidak bisa memghadiri acara ini dimana kabpar tersebut baru jumat dini kemarin diterima oleh panitia

 

 

 

Hadirin yang saya muliakan.

Acara ini dapat terlaksana karena dukungan dan usaha semua pihak. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras untuk melaksanakan kegiatan ini. Terima kasih kepada Tim Panduan Suara dan UKM Tari UAD. Serta terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang telah bekerjasama dengan kami sehingga acara ini berjalan sesuai harapan. Besar harapan kami agar acara ini dapat terus menjadi agenda rutin

 

Kami sebagai panitia penyelenggara mohon maaf apabila terdapat kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan acara ini, karena kami menyadari tak ada gading yang tak retak. Terakhir harapan kami mudah-mudahan melalui acara ini pengetahuan kita menjadi bertambah dan dapat dimanfaatkan dikemudian hari.

 

. Demikian Laporan Pelaksanaan kegiatan ini kami sampaikan, dengan ucapan dzikir fikir dan amal saleh wallahulmustaad wallahul muwaffieq ila aqwamith tariq, Wassalamu ’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu

 

Bismillahi rahmani rahim

 

– Yth. Bapak Dr. H. Kasiyarno, M.Hum. selaku Rektor UAD

– Yth Bapak WR 1, WR 2, WR 3 dan WR 4 UAD

– Yth. Bapak Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec. selaku wakil dari Majelis Dikti PPm pembicara I

– Yth. Bapak Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H. selaku nara sumber

– Agus Ulinuha P.Hd kepala konsursium LPPM PTM dan kepala LPPm UMS

– Yang saya hormati. Tamu undangan dan para peserta seminar sekalian yang berbahagia.

 

AssalamualaikumWr.Wb
Selamat Pagi dan Salam Sejatera bagi kita sekalian

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahnya sehingga kita semua dapat hadir ditempat ini, dalam rangka mengikuti acara

 

 

USANT dan UAD Tunjukkan Cara Belajar Toleransi Beragama

Selasa, (14/2/2017), delapan mahasiswi dari University of Saint Anthony (USANT) Filipina disambut ramah oleh keluarga Prodi Pendidikan Matematika Universitas Ahmad Dahlan (UAD). USANT merupakan salah satu perguruan tinggi di Filipina yang telah melaksanakan MoU dengan UAD, wujud kerja sama keduanya adalah pelaksanaan magang mahasiswa USANT di UAD dalam kurun waktu 1 bulan.

Kali ini, delapan mahasiswi USANT mempelajari matematika bersama dosen dan didampingi oleh mahasiswa Pendidikan Matematika. Acara itu berlangsung di tiga tempat. Pada pembukaan dan materi pengantar dilaksanakan di audit D kampus 3 UAD, selanjutnya perkenalan laboratorium komputer, dan ruang display yang dimiliki oleh Prodi Pendidikan Matematika. Acara dibuka dengan perkenalan seluruh hadirin yang ada di ruangan.

Pada saat perkenalan dosen, Mom Nial, Dosen USANT selaku pendamping mahasiswa mengutarakan, “It’s my way of tolerance to this university, and I learned this though unlike the mother lecturers all that are here,”.

Begitulah cara mereka untuk toleransi beragama, salah satunya seperti yang dilakukan Mom Nial dengan menunjukkan gaya hijabnya.

Tidak hanya itu, sambutan kesan kagum diutarakan oleh Afit Iswandaru, M.Pd., selaku Dosen Prodi Pendidikan Matematika, yang menjadi pembicara pada awal sesi acara.

“Kegiatan ini menjadikan salah satu terwujudnya visi UAD, yaitu menjadi perguruan tinggi Muhammadiyah berkelas internasional berbasis pada nilai keislaman. Hal tersebut tampak pada promoting tolerance dalam beragama, dan mereka telah melakukan hal tersebut.”

Sambutan dan kesan juga disampaikan oleh Sekprodi Pendidikan Matematika, Uswatun Khasanah, M.Sc., “Kegiatan ini menjadi ajang pembelajaran dan sangat bermanfaat bagi mahasiswa kami, bahkan untuk prodi kami sendiri. Untuk mencapai sasaran mutu dan implementasi visi misi UAD, salah satu wujudnya dengan kegiatan ini. Ada rasa bangga haru ketika melihat bukti toleransi beragama USANT di UAD. Harapan ke depannya dari kegiatan ini, semoga dapat diadakan join seminar, penelitian, atau adanya pertukaran mahasiswa dan dosen  UAD di USANT.” (AR)