Mahasiswa UAD Raih Prestasi lagi dalam Festival Timur Tengah 2014

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional pada acara Festival Timur Tengah (FTT) ke-IV yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) pada 14-16 April 2014 di Kampus UI Depok, Jawa Barat. Tema yang diangkat dalam acara tersebut ialah “Kemilau Warna Negeri Matahari Terbenam”.

Tim mahasiswa UAD didampingi oleh dosen pendamping Abdul Malik, S.S., M.Hum. meraih Juara 2 Lomba Debat Bahasa Arab Nasional tingkat Mahasiswa se-Indonesia. adalah Ahmad Luqman Hakim Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Al-Muallim Prodi Bahasa dan Sastra Arab, dan Fahmi Humaidi Abdillah Mahasiswa Fakultas Farmasi yang berhasil mengharumkan nama UAD di kanca nasional.

“Ini adalah kedua kalinya UAD berpartisipasi dalam FTT UI” terang Abdul Malik. Sebelumnya pada acara yang sama, UAD pernah meraih juara 1 pada pada Lomba Membaca Puisi Berbahasa Arab, dan juara 2 Membaca Berita Berbahasa Arab

Lebih lanjut Abdul Malik menyampaikan, Tim Debat UAD mungkin kecewa karena gagal meraih juara pertama. Namun saya berharap mereka berbesar hati karena lawan yang dihadapi di Final adalah juara bertahan tahun lalu sekaligus Juara debat bahasa Arab tingkat ASEAN yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,” ujar Abdul Malik.

“Mudah-mudahan tahun depan prestasi UAD bisa lebih baik lagi,” harapnya kemudian. (Doc)

Dosen FAI UAD Menjadi Juri FTT 2014

Festival Timur Tengah (FTT) tahun 2014 yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) memberikan kebanggaan tersendiri bagi kontingen Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (FAI UAD). Selain keberhasilan meraih juara II dalam lomba debat pada festival tahunan berskala nasional tersebut, salah seorang dosen FAI, Abdul Malik, S.S, M.Hum, terpilih menjadi juri dalam lomba puisi berbahasa Arab.

Pemilihan tersebut dilakukan berdasarkan penilaian terhadap bidang keahlian masing-masing calon anggota tim juri dan rekomendasi dari staf ahli kepanitiaan FTT yang terdiri dari sejumlah duta besar negara-negara Timur Tengah untuk Indonesia, budayawan, dan guru besar bidang kesusastraan Arab. Dalam hal ini Abdul Malik adalah dosen mata kuliah Kajian Puisi Arab pada Program Studi Bahasa dan Sastra Arab FAI UAD terpilih menjadi juri.

Selain itu, prestasi UAD pada FTT tahun lalu yang menyabet juara I untuk lomba puisi dan juara II untuk lomba baca berita juga berpengaruh terhadap penilaian.

“Menjadi juri pada saat tim yang saya bimbing menjadi peserta lomba adalah beban berat. Saya harus berusaha keras untuk menjaga profesionalitas dan netralitas, terutama ketika utusan UAD tampil,” ujar Abdul Malik saat ditemui.

Dosa Sosial 2014*)

Oleh Hendra Darmawan

Pemilihan Umum (pemilu) adalah sarana untuk memperbaiki arah kepemimpinan Nasional, regenerasi, mengembalikan Indonesia sesuai dengan cita-cita the Founding Fathers, menjadikan Indonesia Negara yang berdaulat, sejahtera, adil dan makmur. Partisipasi masyarakat tidak terkecuali pelajar sebagai pemilih pemula sangat menentukan harapan masa depan itu. HPL, hari perkiraan lahir dalam kontek pemilu 9 April 2014 adalah HPL bagi kepemimpinan nasional yang baru. Regenerasi lima tahunan dalam konteks kepemimpinan nasional harus terjadi. Estafet kepemimpinan itu harus disambut oleh calon pemimpin pengganti baik itu dari kalangan yang lebih muda atau tua.

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), R. Siti Zuhro optimis bahwa angka Golput pada Pemilu 2014 tidak akan berada di angka 50 persen. Siti memperkirakan angkanya akan berada pada 30-an persen. Angka tersebut masih bisa ditekan seminimal mungkin jika Komisi Pemilihan Umum (KPU) mau blusukan ke daerah-daerah hingga kepelosok-pelosok sekalipun untuk mensosialisasikan pemilu (web.antara.com). Dia katakan, 60 persen kantung-kantung suara itu berada di daerah-daerah, bukan di kota-kota urban atau provinsi. Karenanya, meskipun adanya sikap apatis dan tidak percaya lagi publik terhadap politikus dan pejabat negara, intensitas sosialisasi akan bisa memobilisasi masyarakat untuk mencoblos pada Pemilu mendatang.

Momentum 2014 menempatkan pelajar sebagai pemilih pemula yang digadang-gadang suaranya juga menentukan arah kepemimpinan nasional, arah legislasi dan yang pasti menjadi incaran banyak para caleg dan aktivis partai. Dalam tradisi sekolah masa lalu ada konsul-konsul perdaerah, embrio kepempiminan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dimunculkan dari bawah (grass root). Ada banyak pelajar senior yang diidolakan dan dapat menjadi kandidat ketua OSIS mewakili konsulnya, atau kelasnya masing-masing. Sistem keterwakilan, pencalonan, pendelegasian telah menjadi tradisi yang melekat pada siswa kala itu. Entah tauladan itu apakah masih eksis hari ini atau tidak sebagai proses pendidikan politik sejak dini. Para guru, kepala sekolah dan pihak-pihak terkait termasuk didalamnya komite sekolah, sangat berkesempatan untuk melakukan pendidikan politik jauh-jauh hari sebelum 2014. Isu tanggung jawab politik intelektual dalam hal ini pelajar yang juga menjadi pemilih pemula harus menjadi mainstreaming, isu yang diarusutamakan. Pelajar tidak lagi ditakut-takuti bahwasanya politik itu kotor, politik itu jahat. Ibn Khaldun (2012), menegaskan dengan gamblang hanyalah manusia sebagai makhluk Allah yang satu-satunya diberi potensi untuk berpolitik. Sehingga berpolitk harusnya menjadi manifestasi tertinggi dari prilaku terbaik  manusia, akhlak manusia, etika manusia. Dengan terejawantahkannya akhlak karimah itu maka politik menjadi sesuatu yang mulia.

Tan Malaka muda, Sukarno muda, Sjahrir muda telah mencontohkan bagaimana pelajar harus melek realitas, melek politik dan melek kebijakan. Model debat semu yang biasa diselenggarakan bagi mahasiswa Fakultas Hukum, perlu dikenalkan pada  pelajar, agar mereka tune in dengan isu-isu kebijakan pemerintah tentang pendidikan. Dengan pelajar melek isu politik pendidikan (politically literate), mereka tidak akan gamang realitas politik kekinian.

 

Pemilu Berintegritas

Pada tahun 2011, Electoral Integrity Group, mendeklarasikan keadilan Pemilu dengan judul “Towards an international Statement of Principles of Electoral Justice, terdiri atas 11 prinsip. Setahun kemudian Stockholm, global commission on election. Integrity dalam Pemilu, dalam laporan  Deepening Democracy: A strategy for Improving the Integrity of Elections Worldwide. Ramlan Surbakti mengutip laporan di atas (Kompas 10/02/2014) dan mengharap pemilu di Indonesia dapat mengusung prinsip-prinsip integritas. Kita menginginkan pemilu 2014 itu bernilai keteladanan dalam berpolitik bagi bangsa Indonesia. Sejak tahapan-tahapannya sampai penentuan siapa mereka yang terpilih oleh rakyat. Stephen L Carter (1999),  mendefinisikan integritas adalah “it is a journey not destiny”. Integritas adalah proses yang berkelanjutan dalam membangaun kapasitas baik individu maupun institusi dengan warna kebajiakan, keadaban public.

 

Dosa Sosial

Jauh sebelum Gustavo Gutierez mendeliberasikan teologi pembebasan, Rasyid ridha telah mempopulerkan Istilah dosa sosial (adz dzanbu al ijtimaiyyah) dipopulerkan oleh Syeh Muhammad Abduh dan ditulis ulang oleh muridnya Rasyid ridha dalam Tafsir Almanar Jilid 4 Surat Ali-Imran ayat 121. Keterangan itu terkait dengan upaya pembiaran sebagian kaum Muslimin terhadap mereka yang tidak konsisten berperang dan berjuang dijalan Alloh lalu meninggalkan medan perang karena tergoda dengan harta rampasan, meskipun mereka telah menang sekali dalam sebuah Ghazwah. Kaum muslimin tidak mengira bahwa kemenangan mereka atas campur tangan Alloh, sehingga mereka terlena dengan kemenangan yang baru sekali mereka raih. Mereka yang sadar dan tidak tergoda dengan kenikmatan sesaaat punya tanggung jawab untuk mengingatkan mereka, membangkitkan mereka dari kedzaliman, agar  kembali ke jalan yang lurus. Jika mereka yang sadar itu membiarkan, mereka telah melakukan dosa sosial.

Ada kesamaan istilah dipostulatkan Gutierez dan Ridha. Konferensi para bishop di Medellin yang menjadi cikal bakal tradisi teologi pembebasan tiba pada konsep dosa sosial (structure of sin).  Kemiskinan, ketertindasan, kebodohan adalah ekspresi tuhan dimuka bumi untuk menunjukkan dosa-dosa manusia. Keadaan yang demikian tidak boleh dibiarkan, karena pembiaran akan mengakibatkan dosa social.Konsep dosa social (social sins) yang lain diintrodusir oleh Gandhi. Salah satu dosa social menurut gandi adalah politik tanpa prinsip (Politics Without Principle). Politik tanpa prinsip inilah yang kita waspadai dan harus menjadi concern kita bersama. Jangan sampai pendidikan politik tidak terjadi dan hanya terjebak pada politik transaksional,demokrasi “wani piro”, dan kebusukan-kebusukan yang lain.

 

Partisipasi, Hindari dosa sosial

Perubahan paradigma, bahawasanya hanya melalui jalur politiklah obsesi-obsesi keummatan, public dapat dengan cepat terwujud. Tidak heran kalo akhir-akhir ini ada pragmatisme sesaat yang dilakukan kalangan tertentu baik oleh caleg maupun partai politk yang sejak lama tidak pernah dekat dengan rakyat, dengan konstituennya, baru akhir-akhir ini mendekat kembali demi meraih apa yang disebut status quo-terpilihnya kembali (re-elected) mereka dalam pileg atau pemilu 2014. Ikatan emosional, ikatan primordial dan terlebih ikatan patronase antara calon pempimpin dan calon konstituennya. Trust, kepercayaan antar kedua belah pihak adalah modal utama pemimpin dalam memulai karir politiknya. Sekali ia mengkhianati konstituennya, kepercayaan yang diembankan masyarakat padanya sulit untuk ditebus dalam waktu dekat. Meskipun kadang ingatan masyarakat sangatlah pendek, kadang tidak mengambil pelajaran dari kejadian sebelumnya, sehingga suara hanya digadaikan pada kepentingan sesaat, uang alakadar dan rela kedaulatan diabaikan. Ini dua hal yang paradox yang potensial menjadi dosa sosial pasca pemilu 2014, harus kita hindari dan antisipasi, camkanlah!.

 

*) Dosen PBI FKIP Univ. Ahmad Dahlan, mahasiswa American Studies, Graduate School of GMU.

Dunia Digital dan Pendidikan Karakter

Dwi Sulisworo. Wakil Direktur Pascasarjana UAD

 

Bulan April hingga bulan Juli merupakan bulan-bulan yang dianggap kritis oleh orang  tua. Hal ini karena pada periode itu latihan ujian dan ujian akhir sekolah dilaksanakan. Orang tua sibuk untuk memberikan pelajaran tambahan pada anak-anaknya dengan berbagai les, baik privat maupun tidak. Satu tujuan yang diinginkan adalah anak memperoleh nilai terbaik untuk sekolah berikutnya. Aktivitas ini akan terlihat secara rutin tahunan pada orangtua di Indonesia secara kebanyakan. Ini bukan hal yang salah hanya perlu dikaji kembali apakah benar pendidikan anak-anak kita akan seperti ini.

Di sisi lain perkembangan dunia maya dengan dorongan dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengubah lingkungan belajar secara dramatis. Teknologi ini sesungguhnya telah membagi masyarakat menjadi dua generasi yang memiliki cara pandang yang berbeda. Generasi pertama adalah masyarakat yang dilahirkan sebelum era digital atau dikenal dengan digital immigrant. Generasi kedua dilahirkan setelah era digital atau dikenal sebagai digital native.  Digital immigrant dicirikan dengan kemampuan literasi TIK yang rendah, tidak cepat menyesuaikan diri dan cenderung melihat TIK bukan suatu kebutuhan penting. Sebaliknya pada digital native memiliki literasi TIK yang tinggi, cepat menyesuaikan diri dan merasa TIK sangat penting dalam kehidupan mereka.

Dalam pendidikan di sekolah cara pandang ini mewarnai cara-cara pengelolaan pendidikan. Para guru yang notabene mewakili generasi digital immigrant akan berbenturan dengan siswa yang mewakili digital native. Kalimat-kalimat seperti ‘siswa dilarang membawa HP dan tablet di sekolah’, ‘saat pelajaran semua laptop dimatikan’, dll. adalah tanda adanya perseteruan antara kedua generasi yang berbeda pandangan ini. Tentu banyak alasan yang dapat digunakan untuk pembenaran atas berbagai fenomena ini. Namun jelas dapat dikatakan ada orientasi baru yang harus dilakukan dalam proses mendidik anak-anak kita dengan benar sesuai zamannya.

Semua orang mengakui bahwa TIK telah membawa kemudahan dalam memperoleh pengetahuan apapun. Dengan TIK sesungguhnya siswa dapat belajar dengan teman dari belahan dunia lain, dengan para ahli dalam bidangnya, memperoleh pengetahuan yang dapat lebih tinggi dibandingkan para guru-gurunya, dan lain sebagainya. Kita juga tahu bahwa pengetahuan yang kita ajarkan kepada anak didik kita akan segera menjadi usang begitu anak-anak kita menjadi dewasa dan masuk di dunia kerja, di dunia nyata. Hal ini karena pengetahuan berkembang terus menerus. Sehingga kemampuan beradaptasi dan mempelajari hal yang baru menjadi sangat penting dengan tidak terkungkung pada pengetahuan lama yang kita pelajari.

Dengan lingkungan seperti itu, sebagai akibatnya adalah fokus pendidik tidak pada seberapa banyak pengetahuan yang telah dipelajari. Apalagi terjebak pada menilai kinerja belajar anak sekedar pada seberapa tinggi nilai ujian sekolahnya. Karena semua itu akan segera menjadi usang saat mereka dewasa. Semua itu tidak dapat diwariskan. Yang jauh lebih penting adalah mendidik mereka sehingga memiliki karakter dan moral yang baik.

Kemampuan untuk belajar dengan cepat, kemampuan bekerja sama, kemampuan peka sosial, keberagamaan yang baik adalah hal yang dapat menjadi kekuatan untuk berdiri tegak bagi anak-anak kita. Peran guru perlu diorientasikan ke pembentukan karakter dan moral, dorong dan bantu anak-anak mempelajari materi pelajaran dengan menggunakan TIK yang sesuai dengan dunia mereka. Perubahan tatakelola pendidikan di sekolah seperti ini tentu memerlukan pemikiran bersama dari orang tua dan guru-guru di sekolah. Namun tentu bukan suatu yang mustahil dengan semangat untuk menjadikan anak-anak kita sebagai tonggak kemajuan bangsa ini dalam menyongsong Indonesia emas. Jangan salahkan mereka sebagai digital native yang berbeda dengan kita. Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya.

Dosen FKM Manfaakan Sampah Daun Untuk Pakan Ternak

 

Desa Hargotirto Pokap Kulonprogo Yogyakarta merupakan desa yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah. Salah satunya perkebunan, selain itu ada juga peternakan kambing PE (Etawa) yang mempunyai nilai jual sangat tinggi di pasaran.

Seiring banyaknya perternak kambing Etawa, kebutuhan panganpun semakin meningkat. Karena itu, Solikhah S.KM,.M.Kes dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (FKM UAD) mencoba memberikan solusi untuk bisa memanfaatkan sisa dedaunan gugur di perkebunan menjadi pakan ternak, yang natinya bisa bernilai jual juga.

Pakan ternak ini kata Solikhah, akan membuat peternak praktis dalam memberi makan hewan ternak. Selain gampang, proses pembuatan pakan ternak dengan metode fermentasi atau pembusukan tersebut, hanya membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 hari. “Untuk menambah daya tahan tubuh dari hewan ternak, adonan pakan ternak ini sebaiknya diberi daun menira (rumput liar)” pesannya.

“Proses pembuatannya gampang, selain tidak memakan waktu yang lama. Alat yang digunakan adalah alat pengolahan pakan ternak pada umumnya” lanjutnya saat ditemui di ruang kerjanya, (28/03/14).

Menurut Solikhah, Uji coba proses pembutannya sudah dilakukan di desa yang terletak di pegunungan Menoreh. Pakan ternak tersebut bisa bertahan hingga setahunan sama halnya dengan pakan ternak yang lainnya.

Dosen FKM tersebut menambahkan untuk proses selanjutnya, timnya akan menerjunkan sebanyak 30 mahasiswa UAD dari berbagai fakultas pada prgram Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat (KKN PPM) untuk bisa mendampingi warga dalam pengerjaannya.

Ia berharap dengan adanya pemberdayaan seperti ini akan menambah pendapatan sampingan bagi warga setempat dengan memanfaatkan sampah dedaunan yang berguguran sebagai penganti rumput untuk ternak yang nantinya bisa dipasarkan.

Seperti diketahui Solikhah selaku ketua bersama rekannya Dr. Dwi Suhartanti,M.Si mendapatkan dana hibah dari (Dirjen Tinggi) Dikti untuk pengabdian masyarakat  tahun ini. (TS)

Solidaritas Madapala Untuk Relawan Gunung Kelud

Mahasiswa Ahmad Dahlan Pecinta Alam (Madapala) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) adakan acara do’a bersama untuk korban relawan di Gunung Kelud. Acara berlangsung di Hall Kampus I UAD Jalan Kapas 09, Semaki, Yogyakarta. Selasa (16/04).

Tomy Anggriawan (22) selaku ketua Madapala dan ketua panitia acara tersebut mengungkapkan, acara ini bertujuan untuk mengenang jasa salah seorang anggota Madapala bernama Surya Hardiyanto, yang meninggal ketika menjadi relawan di Gunung Kelud. Tepatnya pada tanggal 7 Maret setelah menunaikan tugasnya selama 7 hari di Gunung Kelud.”

Lebih lanjut disampaikan, tujuan acara sebagai bentuk solidaritas teman-teman Madapala atas segala bhakti dan jasa yang telah dilakukan oleh mas Surya Hardiyanto.

“Kami berharap setelah diadakannya acara ini teman-teman Madapala semakin solid dan tidak lupa akan jasa-jasa yang telah ditorehkan oleh Alm. Surya Hardiyanto. Semoga segala amal perbuatan baik yang telah dilakukan Almarhum bisa diterima serta bernilai ibadah disisi Allah SWT. Amin.”  Ungkap Mahasiswa Psikologi UAD diakhir wawancara.

            Ustadz Tukijan (Mahasiswa FAI UAD) pemberi Tausyiah menuturkan, bahwa Kematian itu pasti akan datang. Tentang kedatangannya hanya Allah-lah yang tahu. Sesungguhnya kita ini milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kelak kita akan kembali. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (MCH)

UAD Kirim Dua Delegasi Ke Australia

Dua delegasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengikuti Pharmaceutical Sciences World Congres (PSWC) 5th   di Melbourne, Australia pada 13-16 April 2014. Kongres bertema Pharmaceutical Sciences Beyond 2020- The rise of a new era in healthcare diselenggarakan oleh Pharmaceutical International Federation (FIP). Adalah Dr. Laela Hayu Nurani, M.Si., Apt. (Dosen sekaligus Kaprodi Magister (S2) Farmasi) dan Erma Suryani, S.Far. yang menjadi delegasi dari UAD.

“Kegiatan ini berisi pembahasan mengenai hasil penelitian terbaru di dunia kefarmasian mengenai topik-topik terkini, dengan tujuan meningkatkan efek terapi obat dan mengurangi efek samping.  Delegasi yang mengikuti kegiatan ini berasal dari 54 negara di dunia dan dengan jumlah peserta kurang lebih  750 orang” terang Danang, staf Pasacasarja UAD dalam releasenya.

“Materi yang didiskusikan dalam kegiatan tersebut meliputi: kesehatan masyarakat, teknologi nanopartikel dan farmakogenomik” terang danang.

Dr. Laela dari Melbourne menyampaikan bahwa kegiatan ini membawa arti sangat penting bagi kampus, yakni makin luasnya jaringan kerja sama internasional. Masuknya UAD menjadi member Pharmaceutical International Federation (FIP) adalah salah satu upaya, khususnya Fakultas Farmasi untuk mewujudkan visi baru yang dikembangkan UAD, Internationally Recognized University. (dan’s)

Pendaftaran Ristek-Kalbe Science Awards 2014

Terusan Informasi kepada seluruh peneliti di UAD:
 
Setelah menyelenggarakan tiga kali Ristek-Kalbe Science Awards (RKSA) pada tahun 2008, 2010, dan 2012, pada tahun ini Kementerian Riset dan Teknologi RI dan PT Kalbe Farma Tbk kembali menyelenggarakan Ristek-Kalbe Science Awards (RKSA) 2014.
 
RKSA 2014 adalah suatu program yang ditujukan untuk memberikan penghargaan kepada peneliti danhasil penelitian terbaik di Indonesia yang terkait dalam bidang farmasi, kedokteran, pangan fungsional,lifesciences, dan teknologi kesehatan. Bidang kajian yang dapat disertakan dalam seleksi penerimaan penghargaan RKSA 2014 meliputi Bahan Obat/Sediaan Obat (bioteknologi, kimia medisinal, kimia bahan alam atau teknologi farmasi);  Diagnostik/Metode Pengobatan; dan Pangan Fungsional (pangan yang terkait dengan kesehatan).
Ada dua penghargaan yang akan diberikan dalam RKSA 2014:
(1) Best Research Awards: yaitu penghargaan yang diberikan untuk hasil penelitian terbaik pada bidang-bidang penelitian yang ditentukan yang memberikan pengaruh positif dalam bidang life-sciences dan teknologi yang terkait dengan kesehatan         
(2) Young Scientist Awardyaitu penghargaan yang diberikan kepada peneliti muda Indonesia, berusia maksimal 40 tahun, yang berprestasi atas kiprahnya dalam melaksanakan berbagai penelitian dan telah memberikan pengaruh positif dalam bidang life-sciences dan teknologi yang terkait dengan kesehatan        
Sehubungan hal di atas, kami mengundang pihak institusi Bapak/Ibu untuk ikut serta berpartisipasi dengan cara mendaftarkan para peneliti dan hasil penelitian dalam program RKSA 2014.
 
Kami mengirimkan poster dan formulir untuk memberikan informasi program RKSA 2014, mohon poster tersebut dipasang dan formulir diberikan kepada para peneliti untuk sosialisasi program sekaligus undangan untuk mendaftar.
Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, Bapak/Ibu dapat menghubungi: (021) 70-304-234 atau membuka website: www.kalbescienceawards.com dan email ke: rksa@tempo.co.id atau kalbe.rksa@gmail.com.
 
Download:
 
Kategori Best Riset:
CV Best Research RKSA 2014
 
Kategori Young Scientist:
 

Beasiswa Pascasarjana dari Australia 2014

Informasi: Tawaran beasiswa Pasca Sarjana dari pemerintah Australia untuk PNS,

 

http://www.dikti.go.id/id/2014/04/10/tawaran-beasiswa-dari-pemerintah-australia/

Tawaran beasiswa Pasca Sarjana dari pemerintah Australia untuk PNS,

tenaga LSM, Dosen PTN dan PTS, dan perorangan. Pendaftaran untuk

program ini dibuka mulai 1 Februari – 18 Juli 2014.



Informasi lengkap dapat mengakses situs resmi Australia Awards

Scholarship di http://australiaawardsindo.or.id/



Download persyaratan:

http://img.dikti.go.id/wp-content/uploads/2014/04/beasiswa-australia.pdf

UAD Adakan Sarasehan Untuk Memahami, Menghadapi Plagiarisme

Sabtu (12/04) Lembaga Pengembangan dan Penelitian Universitas Ahmad Dahlan (LPP UAD) the recognized university mengadakan sarasehan tentang Plagiarisme. Acara berlangsung di Auditorium Kampus I UAD Jalan Kapas 09. Semaki, Yogyakarta.

Hadir sebagai pembicara Dr. V. Henry Soelistyo Budi, SH., L.LM. seorang Pakar Intellectual Property Rights (Hak Kekayaan Intelektual) membeberkan banyak hal tentang plagiarisme dan hak cipta di Indonesia.

Henry yang juga penulis buku “Plagiarisme” menghimbau kepada UAD yang mempunyai jargon Moral and Intellectual Integrity harus mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang mempunyai integritas moral dan intelektual yang tidak mungkin melakukan tindakan plagiarisme.

Ditemui di akhir acara, Dr. Widodo, M.Si selaku Kepala Lembaga Pengembangan dan Penelitian (LPP UAD) mengungkapkan, tujuan diadakannya acara ini, untuk menjelaskan kepada civitas akademika termasuk dosen dan mahasiswa tentang definisi plagiarisme. Diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya tindakan-tindakan semacam plagiarisme. Dan dengan acara ini civitas UAD dapat menjelaskan cara-cara menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait plagiarisme.

“Harapan kami setelah diadakannya acara ini para Dosen serta mahasiswa UAD dapat terhindar dari tindakan-tindakan plagiarisme serta mampu menulis dan meneliti dengan benar, jujur, terbuka serta bertanggungjawab“ ungkap Dr. Widodo, M.Si (MCH)