Alanse Juni Setiawan Bondan: Kasih Sayang Guru Harus Merata

“Kesulitan utama ada di bahasa dan manajemen kelas. Tetapi, murid-murid sangat aktif dan antusias, jadi hal itu dengan mudah dapat diatasi,” Alanse Juni Setiawan Bondan, S.S., menceritakan pengalamannya mengajar di Sangkhom Islam Wittaya, Songkla, Thailand Selatan. Alan, begitu ia biasa disapa mengaku pengalaman mengajar di Thailand sebagai bagian dari program Kantor Urusan Internasional (KUI), Alumni Mengajar di Luar Negeri, adalah pengalaman yang sangat langka. Biar pun berasal dari Program Studi Sastra Indonesia, Alan tetap membekali diri dengan pengalaman mengajar sebagai mentor les privat. Alan juga kerap mengikuti organisasi seperti IMM Fakultas, BEM, dan Komunitas Karate Indonesia.

Di Thailand, Alan mengajar berbagai mata pelajaran di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Pada tahun pertama, ia mengajar Bahasa Inggris, Sains, dan Matematika. Sedang di tahun kedua, ia mengajar Kesenian, Olahraga, dan Ilmu Agama Dasar. Tahun ini adalah tahun ketiga Alan mengajar di Thailand. Ketika ditanya tentang rencana masa depan, Alan menjawab bahwa setelah selesai tugasnya mengajar di tahun ketiga, ia berencana untuk melanjutkan studi S2.

Ketika ditemui di kampus 1 UAD, pemuda kelahiran Blora, 4 Juni 1991 itu mengaku sedang cuti dan akan kembali ke Thailand pada Mei mendatang. Tujuan awal Alan mengikuti program tersebut adalah untuk mencari pengalaman mengajar. Kesempatan untuk mengajar di luar negeri adalah kesempatan langka. Maka saat direkomendasikan oleh fakultas, ia langsung menerima tawaran tersebut dan mengikuti seleksi.

“Saya beruntung ditempatkan di daerah yang mayoritas penduduknya beragama muslim. Di sana saya melihat kaum minoritas bisa berkembang di tempat yang kurang mendukung. Saya juga kagum dengan kehidupan bermasyarakat di Thailand. Di sana, keberagaman dan perbedaan bisa lumer. Padahal jika dibandingkan dengan Indonesia, kehidupan muslim di sana lebih ketat, bisa dibilang seperti kehidupan pesantren. Tetapi perbedaan bisa benar-benar lumer,” jelasnya.

Perbedaan budaya lain yang ia temui selama mengajar di Thailand adalah budaya mengucap salam.

Assalamu’alaikum, teacher,” ucap Alan menirukan gaya murid-murid biasa menyapanya, tidak peduli di dalam atau di luar sekolah.

Walaupun di Thailand Alan adalah “orang asing”, sebagai guru, ia sangat dihormati oleh murid-muridnya. Bahkan, ia dikenal dapat mengatasi kelas yang paling sulit diatur.

“Di sekolah saya, ada pembagian, seperti kelas unggulan dan kelas biasa. Walaupun kondisinya seperti itu, menurut saya guru tetap harus adil. Kasih sayang yang diberikan harus merasa ke semua murid. Dengan begitu, murid pun juga akan memberikan perhatian dan menghormati kita.” (dev)

Madapala UAD Kirimkan Relawan ke Ponorogo

Sebagai bentuk kepedulian dan penerapan pengabdian masyarakat Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa Ahmad Dahlan Pecinta Alam (Madapala) mengirim 4 orang relawan ke lokasi longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Empat orang tersebut adalah Arif Darmawan, Muh. Gusti, Anton Sujarwo, dan Elbert. Mereka diberangkatkan  Sabtu (4/4/2017) dari kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Jl. Kapas 9, Semaki, Umbulharjo.

Menurut keterangan Ainun Irvanto selaku Dewan Pertimbangan Madapala, setelah mendapat informasi tentang adanya longsor di Ponorogo, semua anggota langsung bergerak untuk menghimpun data.

“Kami harus merespons secepat mungkin ketika terjadi suatu bencana, karena kami memegang prinsip menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sebelum memutuskan untuk mengirim relawan, kami mengumpulkan data terkait bencana longsor tersebut  dan mengomunikasikan dengan pimpinan universitas,” jelas Ainun.

Saat di  Ponorogo, relawan dari Madapala tergabung bersama Mapala Indonesia selama 4 hari, terhitung sampai Sabtu (8/4/2017). Tugas utama mereka membantu mendistribusikan logistik kepada para korban, karena untuk evakuasi sudah menggunakan alat-alat berat. (ard)

Rahim S. Arsyad: Mahasiswa Ilmu Hadits yang Jadi Takmir Masjid Islamic Center

Program Studi Ilmu Hadits Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sering menarik banyak perhatian mahasiswa. Mulai dari jumlah mahasiswanya yang terbilang sangat minim, hingga matakuliahnya yang menurut mereka sangat asing. Namun di sisi lain, mereka kerap dijadikan contoh oleh mahasiswa lain, khususnya dalam aktivitas keagamaan. Pasalnya, jurusan inilah yang mendominasi pelajaran bahasa Arab.

Hingga kini, banyak ditemukan mahasiswa Ilmu Hadits yang menjadi takmir masjid di beberapa daerah. Bahkan di Masjid Islamic Center (IC) UAD pun, takmirnya adalah mahasiswa Ilmu Hadits. Ia adalah Rahim S. Arsyad. Laki-laki kelahiran Nusa Tenggara Barat ini merupakan mahasiswa yang tergolong muda, yakni angkatan 2015.

Awalnya, sebelum menjadi takmir masjid, Rahim adalah santri biasa yang tinggal di asrama Pesantren Mahasiswa Ahmad Dahlan (Persada). Seperti mahasiswa lainnya, setiap pagi ia harus shalat subuh berjamaah di masjid dan mengikuti beberapa kegiatan. Ketika malamnya, ia juga harus mengikuti perkuliahan aktif di Persada. Hal yang membuat berbeda adalah, ia lebih rajin daripada santri lain. Saat yang lain datang ke masjid menjelang waktu shalat tiba, Rahim sudah datang jauh sebelum waktu shalat tiba. Waktu yang dimilikinya dipergunakan untuk membaca al-Qur’an dan mengulang hafalan.

Hingga kini, ia masih rajin datang lebih cepat daripada waktu yang dijadwalkan, bahkan semakin rajin mengunjungi masjid tersebut.

Tak berapa lama, karena kerajinannya yang luar biasa dan keaktifannya, Rahim akhirnya ditunjuk untuk menjadi takmir masjid. Padahal, belum genap 1 tahun ia di Persada. Selanjutnya, ia pindah tempat tinggal dan tidak lagi berada di Persada. Ia menempati kamar yang berada di IC. Tentu saja, menjadi takmir tidak lantas menjadikan Rahim sombong. Ia masih sering mengunjungi Persada untuk bertemu dengan mahasiswa lainnya.

“Semoga semua muslim senantiasa mau berbondong-bondong memakmurkan masjid agar masjid tidak hanya dibangun megah untuk tempat selfie. Sebab, masjid dibangun untuk dimakmurkan dan tempat untuk bertemu Rabb,” harapnya.

 

Meniru Semangat Kartini lewat Film “Kartini”

Pusat Studi Wanita Universitas Ahmad Dahlan (PSW-UAD) bekerja sama dengan Empire XXI mengadakan nonton bareng film “Kartini” di Empire XXI Rabu, (19/4/2017).

Selain Rektor dan Wakil Rektor UAD, hadir pula dosen, karyawan, dan perwakilan dari beberapa pusat studi untuk menonton film yang dibintangi oleh Dian Sastro ini.

Kepala PSW Tri Wahyuni Sukesi, S.Si.,M.P.H. berharap dengan nonton film “Kartini”, para perempuan kembali mengingat semangat Kartini dalam perbaikan dan kemajuan.

“Kita harus ingat kembali kesetaraan. Tapi kesetaraan yang tidak melenceng dari kaidah agama,” tutur Yuni dalam sambutannya.

Lebih lanjut, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) tersebut mengatakan, “Kami ingin memperingatkan Hari Kartini dalam bentuk berbeda, yakni dengan nonton bareng film “Kartini”. Dengan cara seperti ini, kita akan mengingat kembali awal mula perjuangan perempuan lewat sosok Kartini.”

Rektor UAD Dr. Kasiyarno, M.Hum. dalam sambutannya mengatakan, “Kartini (perempuan) yang sekarang seharusnya bisa memberdayakan diri untuk terus menjaga semangat Kartini. Kartini adalah sosok penting dalam perkembangan dan perjuangan perempuan di Indonesia. Karena itu, perlu dicontoh caranya berjuang. Tentu saja, berjuang di berbagai hal.”

 

STATE UAD Selenggarakan Workshop Applied Technology and Enterpreneurship

Salah satu lembaga baru Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, The Service of Training for Applied Technology and Enterpreneurship (STATE), menyelenggarakan workshop tentang aplikasi teknologi dan kewirausahaan. Acara ini bekerja sama dengan Programma Uitzanding Manager (PUM) Belanda, yang dilaksanakan pada Rabu (19/4/2017). Workshop dihadiri oleh para pelaku bisnis, akademisi, dan pegawai pemerintah.

Hadir sebagai pembicara pertama S.R. Yunastuti dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Pusat, dengan materi “How to Export Your Product”. Kemudian pembicara kedua Mrs. Carolina van HM Verhoeven dari PUM Belanda menjelaskan mengenai “Training for Applied Technology and Enterpreneurship”.

Acara yang berlangsung di Hotel Puri Artha, Jl. Cendrawasih 36, Demangan, Yogyakarta tersebut dibuka oleh Rektor UAD, Dr. Kasiyarno, M.Hum. Ia mengharapkan, ke depannya STATE UAD bisa bekerja sama dengan PUM agar dapat menjadi lembaga yang menghubungkan antara pelaku bisnis, akademisi, dan pemerintah.

Pada acara tersebut, Yunastuti menjelaskan tentang tata cara dan peluang mengekspor barang ke luar negeri.

“Saat ini ekspor di Indonesia didominasi oleh perusahan-perusahaan besar. Fenomena ini sebenarnya bisa menjadi peluang besar Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk bisa unjuk gigi di ranah ekpor,” papar Yunastuti.

Di sisi lain, Caroline menerangkan cara membuat dan menjual suatu produk agar bisa meningkatkan pendapatan ekonomi pribadi dan negara. Menurutnya, seorang pengusaha harus memperhatikan produk yang dibutuhkan konsumen. Selain itu, pengolahan produk, packing, dan pemasaran harus baik agar mendapat hasil yang maksimal. (ard)

Makrab Tiga Pilar: Kembali kepada Akar

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) kembali menggelar acara Malam Keakraban (makrab) tiga pilar yang diikuti oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB), dan Kreativitas Kita (Kreskit). Acara tersebut diselenggarakan pada 15-16 April 2017 di Turi, Karanggeneng, Sleman. Tujuan diadakannya makrab tiga pilar tersebut yaitu agar terjalin persaudaraan yang semakin dekat antara HMPS, Teater JAB, dan Kreskit. Adapun tema makrab yaitu “Kembali kepada Akar”.

 

Jemi selaku ketua makrab menuturkan bahwa tema tersebut bermakna sejarah, seperti pohon yang terus berkembang dari biji, kecambah, batang pohon, cabang, ranting, daun, bunga, buah.

“Seperti itulah sejarah yang terus berkembang. Kita sebagai generasi muda patut mengingat kembali sejarah yang pernah terjadi sebelumnya yang berkaitan dengan ketiga organisasi tersebut. Kembali mengingat masa lalu agar tidak hilang oleh waktu dan sejarah,” ungkap Jemi. 

 

Makrab pun berlangsung dengan lancar, yang dibuka oleh dosen PBSI, Yosi Wulandari, M.Pd. Adapun beberapa dosen lain yang ikut hadir dalam acara tersebut yaitu Iis Suwartini, M.Pd. dan Denik Wirawati, S.Pd., M.Pd. Pembukaan ini dilakukan dengan seremonial pemecahan balon yang diikuti oleh masing-masing ketua HMPS, Teater JAB, dan Kreskit, serta dosen Yosi Wulandari.

 

“Seremonial pemecahan balon bermakna sebuah harapan, yaitu agar makrab tiga pilar yang dikuti HMPS, Teater JAB, dan Kreskit dapat bekerja sama, saling bahu membahu, membantu dalam segala hal, memecahkan masalah bersama, yang bertujuan baik bagi prodi PBSI maupun ketiga organisasi tersebut,” tambah Jemi.

 

 Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan acara inti yang diisi oleh Sule Subaweh. Ia adalah orang yang pertama kali menghidupkan organisasi tiga pilar tersebut. Acara inti pun diisi dengan berbagai cerita-cerita menarik, yaitu mengingat kembali masa lalu, tentang ketiga organisasi tersebut dulunya diperjuangkan hingga bisa menjadi besar seperti sekarang ini.

 

Makrab tiga pilar ini pun diwarnai dengan sejumlah permainan outbound yang membangun kerja sama tim. Setelah itu, penutupan  makrab diisi dengan pembagian hadiah outbound yang berlangsung dengan  meriah. Jika makrab tiga pilar ini dapat menjalin persaudaraan antarorganisasi di PBSI, bagaimana dengan organisasi di prodi lainnya?

Dengan diadakan makrab tiga pilar setiap tahun, semoga menjadi teladan bagi prodi-prodi lain yang memiliki banyak organisasi di setiap prodinya. Acara ini tentu saja sebagai sarana untuk membangun terjalinnya persaudaraan. (Es)

UAD Beri Bantuan Pendidikan

Setelah menggelontorkan dana sebesar 3,4 miliar untuk membangun Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Wonosobo, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan. Kali ini, UAD memberi bantuan kepada SD Muhammadiyah Munggang Wetan, Samigaluh, Kulon Progo.

Bantuan tersebut senilai 67,5 juta yang akan digunakan sebagai dana beasiswa bagi siswa SD Muh. Munggang Wetan. Rektor UAD, Dr. Kasiyarno, M.Hum. mengharapkan bantuan berupa fresh money tersebut bisa memberikan dampak positif bagi sekolah.

“Sebagai salah satu bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, UAD memiliki tanggung jawab untuk memajukan bidang pendidikan. UAD akan membangkitkan SD Muh. Munggang Wetan agar lebih dikenal masyarakat luas,” terang Kasiyarno.

Selain bantuan dari UAD, ada bantuan berupa 2 sepeda motor dari Direktur Utama Surya Citra Mandiri, Kamiran Qomar. Sepeda motor ini nantinya akan digunakan sebagai sarana transportasi untuk menunjang mobilitas sekolah.

Penyerahan bantuan tersebut diberikan kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kulon Progo yang kemudian diteruskan dan diterima secara langsung oleh Kepala Sekolah SD Muh. Minggir Wetan, yakni Sutarja, A.Ma.Pd. (ard)

Kustati Nurul Hidayah: Lulusan UAD Wajib Transfer Ilmu

“Yang paling utama tujuan saya adalah transfer ilmu,” ujarnya mantap.

Kustati Nurul Hidayah, S.S., alumnus Fakultas Sastra, Budaya, dan Ilmu Komunikasi (FSBK) Prodi Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD)tersebut beberapa kali sempat mengurai senyum di sela-sela wawancara. Gadis kelahiran Bima, 23 tahun lalu itu dijadwalkan berangkat ke Thailand Selatan pada 27 April 2017 mendatang. Melalui program Alumni Mengajar ke Luar Negeri yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) UAD, Nurul akan mengajar di Anuban Sattun School, Thailand Selatan.

“Sebagai mahasiswa fresh graduate, saya merasa perlu untuk menyalurkan ilmu yang saya dapat selama kuliah. Sekaligus untuk mengukur kemampuan. Saya ingin lihat sejauh apa kemampuan saya dan ilmu yang saya dapat selama kuliah.”

Nurul menjelaskan, kesempatan ini ia dapatkan karena rekomendasi dari pihak Fakultas FSBK. Setelah rekomendasi dari fakultas, kemudian ia mendaftar ke KUI untuk mengikuti seleksi. Saat dinyatakan lolos seleksi, ia mengaku sangat senang sekaligus takut.

“Lebih ke pikiran, apakah saya sanggup mengemban tanggung jawab yang sangat besar ini? Karena saya bukan hanya membawa nama sendiri, tetapi juga membawa nama UAD, bahkan Indonesia. Tapi saya yakin pasti bisa,” jelasnya ketika ditanya perihal ketakutan sebelum berangkat ke luar negeri.

Ia mengaku masih ada keraguan dalam hal teknis, seperti administrasi ketika menjadi guru. Sebagai mahasiswa sastra murni, ia tidak mempelajari silabus atau RPP dan administrasi sejenis yang diperlukan seorang guru. Tetapi, itu tidak menyurutkan tekadnya.

“Hal-hal teknis semacam itu bisa dipelajari, yang penting bukan tingkah laku atau manner. Soal adaptasi saya tidak takut, karena pada dasarnya manusia akan menyesuaikan diri,” jelas Nurul.

Walaupun tidak mendapatkan matakuliah tentang pengajaran dan pendidikan, ia yang pernah tergabung dalam Tenaga Muda Ahmad Dahlan memiliki pengalaman mengajar selama tiga bulan. Nurul bersama kawan-kawan mengajar di balai desa daerah belakang terminal Giwangan. Siswa-siswa yang diampu kebanyakan adalah anak broken home dan putus sekolah.

“Mengajar di rumah belajar seperti itu lebih sulit, saya kira. Sebab, kami bukan cuma mengajar pelajaran, tetapi juga sopan santun dan memberikan motivasi, manajemen kelasnya juga lebih sulit daripada di sekolah biasa. Apalagi anak-anaknya banyak yang tidak mau belajar karena merasa sudah kehilangan harapan,” terang Nurul.

Selain tergabung dalam Tenaga Muda Ahmad Dahlan, pengagum sastrawan klasik Jane Austen tersebut juga pernah tergabung dalam sebuah komunitas menulis bernama rewords. Dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ia pun pernah menjabat sebagai sekretaris umum bidang keilmuan, kepala bidang kader, dan kepala bidang organisasi

Nurul mengaku, meskipun mengambil jurusan sastra murni, ia tidak asing dengan proses belajar-mengajar. Apalagi ia dibesarkan oleh kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru. Ia paham betul ketika kedua orang tuanya pulang ke rumah dengan membawa sejuta cerita tentang anak-anak didiknya di sekolah. Itulah yang membuatnya berkeyakinan bahwa guru adalah pekerjaan yang paling mulia. (dev)

Milad Farmasi UAD ke-21 dan Penandatanganan MoU dengan PDIAI

Memperingati milad ke-21, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (FFARM-UAD) Yogyakarta mengadakan familiy gathering di green hall kampus 3 UAD, Minggu (16/4/2017). Pada kesempatan ini, turut hadir senior dan penggagas Fakultas Farmasi, Rektor UAD, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PDIAI), serta dosen dan mahasiswa Farmasi.

Di sela-sela acara milad yang mengusung tema “Membangun rasa kekeluargaan dan bersama-sama menggapai cita-cita”, ada penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Fakultas Farmasi dan PDIAI yang disakiskan oleh Dr. Kasiyarno, M.Hum. selaku Rektor UAD. Fokus kerja sama kedua belah pihak terkait dengan peningkatan kompetensi lulusan Farmasi UAD.

Dekan Fakultas Farmasi, Dr. Dyah Aryani Perwitasari, M.Si.,Ph.D.,Apt., menjelaskan, milad kali ini bertujuan untuk mempererat kekeluargaan di antara keluarga besar farmasi dan menciptakan sinergi antara mahasiswa dan dosen. Selain itu, pada sambutannya, ia juga menyampaikan laporan tahunan Fakultas Farmasi tahun 2016/2017.

Seperti milad sebelumnya, milad kali ini juga memberikan penghargaan untuk dosen dan mahasiswa berprestasi. Mahasiswa berprestasi pertama atas nama Dwi Nur Fitria, kedua Fikri Rozi, dan ketiga Yeni Kartini. Sedangkan bagi dosen, ada berbagai macam kriteria seperti prestasi di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan publikasi.

Pada sambutannya, Rektor UAD Dr. Kasiyarno, M.Hum. memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap Fakultas Farmasi. Menurutnya, fakultas ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi UAD.

“Fakultas Farmasi telah menjadi magnet bagi masyarakat dengan akreditasi yang memuaskan. Semoga cita-cita untuk meraih akreditasi ASEAN bisa segera terwujud, dan kalau berhasil Farmasi akan menjadi fakultas pelopor di UAD,” paparnya. (ard)

Iis Ani Safitri: Move On and Let’s Go!

Siapakah perempuan ini? Ia adalah IIs Ani Safitri, mahasiswa semester 8 Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Univesitas Ahmad Dahlan (PGSD-UAD). Perempuan kelahiran Baron, Tambak Romo, Ponjong, Gunungkidul ini memiliki banyak prestasi di jenjang pendidikannya. Dari SD hingga kini, ia masih terus menorehkan karya dan prestasi. Namun, ada beberapa hal yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. Ternyata, perempuan yang akrab dipanggil Iis ini sejak kecil ditinggal merantau oleh kedua orang tuanya karena perekonomian. Sehingga, sejak dini ia sudah diajarkan cara mengatur waktu dan keuangan dengan baik.

Sejak SD (SD N 2 Tambak Romo) banyak prestasi yang pernah diraih Iis, dari kelas 1 hingga kelas 6, ia selalu meraih peringkat pertama di kelas, kecuali kelas 2. Ia juga sering mengikuti berbagai perlombaan walaupun tidak mendapatkan juara. Di SMP (SMP N 2 Eromoko), Iis aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Hingga jenjang SMA (SMA N 1 Karangmojo), ia sudah belajar mandiri dengan tinggal di kos karena letak sekolah yang jauh dari rumahnya. Lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) tingkat provinsi pernah ia ikuti di jenjang ini, namun berhenti di tingkat kabupaten dan hasil karyanya dipamerkan di Benteng Vredeburg Yogyakarta.

            Memasuki jenjang perkuliahan, Iis berambisi agar dapat masuk di universitas negeri dengan alasan biaya lebih ringan dan tidak ingin membebani kedua orang tuanya. Namun Tuhan berkehendak lain, Iis harus menerima kenyataan untuk menempuh perkuliahan di universitas swasta. Akibat hal tersebut, ia terpuruk selama kurang lebih satu bulan. Tak ingin selalu terpuruk dalam kesedihan, perempuan yang memiliki hobi menulis ini mulai bangkit. Ia aktif di organisasi HMPS PGSD, IMM BPP, IMM Pimpinan Cabang hingga sekarang, dan Sahabat Dakwah (naungan BEM UAD).

Pada jenjang perkuliahan tersebut, Iis menorehkan banyak prestasi di antaranya meraih juara pertama (tunggal) Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diselenggarakan dalam rangka Pagelaran Pendidikan Dasar Nasional (PPDN), juara 3 (tim) Lomba KTI di Pekanbaru, juara 3 (tunggal) Lomba KTI dalam rangka PPDN di Banjarmasin, hingga meraih medali emas dan perunggu (tim) dalam event internasional yang diselenggarakan oleh UNESA di Surabaya, yaitu menghasilkan produk Te’Lisa (olahan kulit salak menjadi teh) dan Komik Budaya Jawa.

Masih haus prestasi, kembali mahasiswi yang terlahir sebagai anak tunggal ini menyalurkan ilmunya dengan menjadi pemakalah di Seminar Nasional yang diselenggarakan di Jogja Expo Center (JEC) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Iis juga pernah menjadi pemakalah Seminar Internasional di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Selanjutnya, perempuan ini kembali eksis dengan mengikuti Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UAD, tetapi sayang ia gagal di 15 besar tingkat universitas. Hal tersebut tidak menyurutkan Iis untuk selalu berkarya dan berprestasi.

            “Motivasi terbesar adalah orang tua saya. Saya mengerti bahwa mereka bekerja dengan gigih untuk saya. Jadi, saya mengimbangi dengan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka dan orang-orang di sekeliling saya. Jadilah orang yang menginspirasi dengan selalu belajar dan terus belajar. Untuk teman-teman, mumpung masih kuliah, jangan membuang waktu dengan sia-sia. Seperti apa yang dikatakan oleh pepatah, ‘Waktu itu ibarat pedang, jika kamu salah menggunakannya maka kamu akan terpotong-potong sendiri’,” tuturnya dengan tersenyum. ™