You are here

Mendikbud RI: PTMA Harus Pandai Manfaatkan Momentum

Indonesian

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia Prof. Muhadjir Effendy, M.A.P. mengimbau Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) untuk berinovasi membuka program studi yang sesuai dengan perkembangan zaman. “Misalnya program studi logistik. Logistik di laut maupun udara. Manajemen logistik ini sangat kompleks. Saat ini dunia kerja membutuhkan orang-orang terampil sesuai dengan bidangnya. PTMA harus bisa memanfaatkan momentum ini.”

Pernyataannya ini disampaikan saat ia menjadi pemateri di acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Kemahasiswaan PTMA se-Indonesia yang diselenggarakan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerja sama dengan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Acara berlangsung Kamis-Sabtu (8-10/11/2018) di Hotel Grand Quality, Yogyakarta, dan diikuti 137 peserta dari 103 PTMA.

Sejalan hal tersebut, ia menginginkan PTMA tanggap dan sigap terhadap perubahan yang terjadi. Inovasi di bidang pendidikan harus terus dilakukan untuk mengimbangi perubahan yang semakin cepat. Lebih lanjut, momentum yang juga harus segera ditanggapi adalah peluang pembangunan PTMA di wilayah pinggiran Indonesia.

Jangan hanya tergantung pada LPTK. Saat ini LPTK sudah melebihi kapasitas. Jumlah lulusan dan yang dibutuhkan sudah tidak sebanding. Yang lulus setiap tahun 250 ribuan, sementara yang dibutuhkan per tahunnya hanya 100 ribuan. Kemudian peluang untuk mendirikan PTMA di wilayah pinggiran masih terbuka. Misalnya di Wakatobi, yang masuk dalam 10 destinasi favorit di Indonesia. Ini merupakan wilayah strategis untuk mengembangkan amal usaha Muhammadiyah,” tandasnya.

Selain itu yang lebih mendesak, menurutnya, PTMA harus memberi bekal kemampuan generik kepada mahasiswa. Bekal generik yang dimaksud adalah yang mudah diadaptasikan untuk dunia kerja. Kemudian double track yang dikhususkan di bidang keguruan. Misal keguruan dengan kemampuan minor perikanan, teknologi informasi, dan bahasa asing.

Terkait bidang kemahasiswaan, Muhadjir mengharapkan para pimpinan perguruan tinggi bisa mengembangkan PTMA sesuai dengan kearifan lokal. Kearifan lokal ini bisa menjadi nilai tersendiri dan menjadi ciri khas untuk branding PTMA. (ard)